Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan akan naik lagi. Hal ini dipicu respon positif konsumen dan investor terhadap upaya pemerintah memperbaiki investasi dan reformasi struktural.
Kabar baik itu muncul dari laporan terbaru Asia Development Bank (ADB) seperti dikutip Dream dari keterangan tertulisnya, Kamis, 31 Maret 2016.
" Di tengah gejolak pasar keuangan global, berbagai reformasi ekonomi yang dijalankan pemerintahan Presiden Joko Widodo telah mampu memperkuat kepercayaan pasar dan membawa hasil positif,” ujar Steven Tabor, kepala perwakilan ADB di Indonesia.
ADB menilai Indonesia harus tetap mempertahankan program investasi yang ambisius guna memperdalam dan mempertahankan momentum reformasi tersebut. Hal itu demi meningkatkan produktivitas, menarik investasi, dan mengembangkan sumber-sumber pertumbuhan yang baru.”
Dalam publikasi ekonomi tahunannya yang bertajuk Asian Development Outlook (ADO) 2016, ADB memproyeksikan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan makin membaik dari 4,8 persen pada 2015 menjadi 5,2 persen tahun ini, dan meningkat menjadi 5,5 persen pada 2017.
Prakiraan ini menyusul penurunan pertumbuhan di Indonesia selama 5 tahun yang lalu.
Investasi publik diproyeksikan meningkat pada 2016, seiring menguatnya momentum dari berbagai proyek infrastruktur baru yang dimulai tahun lalu. Belanja modal publik yang lebih tinggi dan reformasi yang berjalan untuk menderegulasi ekonomi akan memberikan peluang tambahan bagi investasi swasta.
Konsumsi rumah tangga diprediksi naik pada 2016, sedangkan permintaan eksternal neto diprediksi tidak berkontribusi terhadap pertumbuhan.
Meski awalnya berjalan lambat, ADB menilai investasi publik naik tajam pada paruh kedua 2015 ketika sebagian besar program investasi telah berjalan.
Reformasi kebijakan pemerintah yang sedang berjalan diperkirakan akan terus menstimulasi investasi swasta, terutama dalam jangka menengah.
Dalam jangka panjang, tantangan bagi Indonesia antara lain adalah untuk mendiversifikasikan kegiatan ekonomi guna mengurangi ketergantungan pada sejumlah kecil komoditas. Steven Tabor menyatakan bahwa ini adalah langkah penting dalam konteks melemahnya permintaan global terhadap komoditas.
“ Hal-hal yang dapat membantu antara lain adalah perluasan sektor manufaktur, serta juga fokus pada berbagai sektor yang dapat memdorong pertumbuhan tinggi, seperti pariwisata, pertanian bernilai tambah tinggi, perikanan laut, budidaya perairan, dan e-commerce.”
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya