Selasa, 13 Oktober 2026 Cari

Prabowo Ramai-Ramai Dicalonkan Lagi, Mengapa Gibran Belum Diajak?

Reporter : Eko
Selasa, 13 Oktober 2026 12:14
Prabowo Ramai-Ramai Dicalonkan Lagi, Mengapa Gibran Belum Diajak?
Prabowo sudah ramai-ramai dipinang, Gibran justru belum dilirik sebagai pasangan. Padahal, angka surveinya punya potensi.

DREAM.CO.ID — Pemilihan presiden masih lama. Sekitar tiga tahun lagi. Undang-undang pemilu pun belum rampung direvisi. Panja RUU Pemilu saja baru berumur dua minggu. Namun sejumlah partai sudah menentukan calon presiden untuk Pilpres 2029. Nama yang mereka sodorkan sama: Prabowo Subianto.

Gerindra, tentu saja. Prabowo adalah pendiri sekaligus ketua umum partai. Ibarat kata, mencalonkan kembali Prabowo seperti mengulang keputusan yang sudah bulat. Pada Kongres Luar Biasa di Hambalang, Bogor, 13 Februari 2025, Gerindra meminta Prabowo bersedia maju lagi.

Menurut Sekretaris Jenderal Gerindra, Ahmad Muzani, atas permintaan itu, Prabowo menjawab, “ Insya Allah”. Namun, menurut Muzani, Prabowo meminta waktu untuk menuntaskan tugas sebagai presiden.

Keputusan Gerindra mencalonkan kembali Prabowo itu bahkan diambil ketika sang ketua umum belum genap empat bulan memimpin pemerintahan. Prabowo dilantik sebagai presiden 20 Oktober 2024.

Gerindra bukan partai kecil. Pada Pemilu 2024, partai ini meraih 20,07 juta suara atau 13,22 persen suara sah nasional. Gerindra memperoleh 86 kursi DPR, setara 14,83 persen dari total 580 kursi.

Dukungan kepada Prabowo kian ramai setelah keputusan Gerindra diikuti partai lain. Golkar, PAN, dan PKB, ikut-ikutan menyatakan ingin mencalonkan Prabowo kembali.

Prabowo Subianto (Instagram @prabowo)

Wakil Ketua Umum Golkar Ahmad Doli Kurnia menyatakan sikap partainya mendukung Prabowo dalam pemilu mendatang pada Jumat, 9 Oktober 2026. Doli bahkan menyebut partainya sudah menetapkan niatan itu sejak 2024.

“ Standing position Golkar kan jelas, bahwa kami menghadapi Pilpres tahun 2029, kami sudah punya calon namanya Pak Prabowo, ya,” kata Doli.

Golkar juga bukan partai kaleng-kaleng. Partai bersimbol pohon beringin ini meraih 23,21 juta suara atau 15,29 persen pada Pemilu 2024. Golkar menduduki 102 kursi DPR, terbanyak kedua setelah PDI Perjuangan.

Setelah Golkar, giliran PAN bersuara. Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi pada Senin, 12 Oktober 2026, menegaskan bahwa partainya sudah bulat mendukung Prabowo. Dia menyebut ketua umum PAN, Zulkifli Hasan, telah menyampaikan keputusan tersebut dalam Rapat Kerja Nasional PAN pada 2025.

“ Sikap PAN sudah jelas untuk mendukung kembali Presiden Prabowo di Pilpres 2029 nanti,” kata Viva.

Partai ini mengantongi 10,98 juta suara atau 7,24 persen pada Pemilu 2024. Di DPR, PAN memiliki 48 kursi atau 8,28 persen dari total kursi.

Terbaru, dukungan datang dari PKB. Pada Senin, 12 Oktober 2026, Wakil Ketua Umum PKB Faisol Riza menyatakan partai berlogo bola dunia itu mendukung penuh pencalonan kembali Prabowo.

“ PKB mendukung 100 persen atau bahkan 1.000 persen pencalonan kembali Prabowo Subianto sebagai capres 2029, karena memang beliau sangat layak kembali memimpin Indonesia untuk dua periode,” ujar Faisol.

PKB punya 16,12 juta suara atau 10,62 persen pada Pemilu 2024. Partai pimpinan Muhaimin Iskandar itu memperoleh 68 kursi DPR, setara 11,72 persen dari total kursi.

Prabowo Subianto (Instagram @prabowo)

Elektabilitas Prabowo Turun

Dukungan partai kepada Prabowo datang ketika sejumlah survei merekam penurunan elektabilitas Prabowo dan kepuasan publik terhadap pemerintahan. Salah satu survei dirilis oleh SMRC, yang menunjukkan penurunan elektabilitas Prabowo cukup tajam.

Dalam simulasi semi terbuka yang dilakukan SMRC pada November 2025, elektabilitas Prabowo mencapai 34,9 persen. Angka itu turun menjadi 14,5 persen dalam survei pada 5–19 Juli 2026. Pada periode yang sama, elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) justru naik dari 19,7 persen menjadi 35 persen.

Elektabilitas Prabowo juga turun dalam simulasi dua nama melawan KDM. Pada survei Februari–Maret 2026, Prabowo memperoleh 50,5 persen, sedangkan KDM 42,6 persen. Pada Juli 2026, dukungan kepada KDM naik menjadi 59 persen. Prabowo tertinggal dengan 28,3 persen.

Survei SMRC itu melibatkan 749 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Wawancara dilakukan melalui telepon dan tatap muka, dengan margin of error sekitar 3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani mengaitkan penurunan elektabilitas Prabowo dengan memburuknya penilaian publik terhadap kinerja presiden, kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, serta pelaksanaan dua program prioritas pemerintah, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Prabowo Subianto (Instagram @prabowo)

Dalam survei SMRC juga terlihat kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo turun dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026. Sebaliknya, responden yang kurang atau tidak puas naik dari 16 persen menjadi 46,9 persen.

Laporan Rapor Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran yang dirilis CELIOS pada 12 Oktober 2026 menunjukkan 55 persen responden yang memilih Prabowo pada Pilpres 2024 menyatakan tidak akan memilihnya kembali pada 2029. Hanya 27 persen yang ingin memilihnya lagi.

Penilaian terhadap kinerja pemerintah pun rendah. CELIOS bahkan memberi Prabowo skor 2,8 dari 10 dari kalangan ahli. Adapun masyarakat umum memberi nilai 4,6 dari 10.

Pengumpulan data survei CELIOS dilakukan 15 September hingga 9 Oktober 2026. Survei masyarakat umum melibatkan 1.142 responden yang tersebar di berbagai provinsi. Pemilihan responden menggunakan pendekatan nonprobability sampling melalui Meta Ads, yang kemudian dilengkapi dengan pembobotan (weighting).

Gibran Belum Diajak

Soal calon-mencalonkan itu, sebelumnya sudah ramai wacana “ Prabowo-Gibran dua periode”. Joko Widodo, ayah Gibran Rakabuming Raka, jauh-jauh hari telah mengatakan kepada para relawannya untuk mendukung Prabowo-Gibran hingga periode mendatang.

“ Ya memang sejak apa saya perintahkan seperti itu untuk mendukung pemerintahan Pak Presiden Prabowo-Gibran dua periode,” kata Jokowi di Solo, 19 September 2025.

Namun setahun kemudian, suara Jokowi berbeda. Tak lagi bicara soal dukung-mendukung dua periode. Pada 8 Oktober 2026, ketika ditanya dukungannya pada “ Prabowo-Gibran dua periode”, Jokowi bilang bahwa pemilu masih jauh.

“ Pemilu masih jauh,” kata Jokowi di rumahnya, Solo.

Jokowi menunjukkan karti anggota PSI (YouTube)

Jokowi menjawab pertanyaan itu ketika publik menyorot tajam pada Gibran. Pada 6 Oktober lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) dalam pertimbangan putusan perkara syarat pencalonan Gibran menyatakan tidak menemukan bukti yang meyakinkan bahwa putra sulung Jokowi itu memiliki ijazah dari luar negeri yang menjadi dasar penyetaraan pendidikan setingkat SMA.

Putusan MK memang tidak menerima permohonan gugatan yang diajukan Denny Indrayana dan sejumlah pihak. MK juga menyatakan tidak bisa membatalkan status sebagai wakil presiden meski tidak menemukan bukti kuat bahwa Gibran memiliki ijazah yang setara SMA.

Namun perkara ijazah Gibran tetap menggelinding. MK memang menyatakan temuan mengenai tidak adanya ijazah atau dokumen pendidikan luar negeri yang menjadi dasar penyetaraan tersebut merupakan ranah lembaga lain yang berwenang menilai keabsahan dan pemenuhan syarat calon presiden dan wakil presiden.

Jadilah perkara ini bergulir ke luar ruang sidang MK. Salah satunya mengarah ke Senayan. Sejumlah pihak bertemu anggota DPR untuk menyikapi putusan itu. Salah satunya dilakukan oleh Ray Rangkuti bersama perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil. Mereka roadshow ke sejumlah komisi dan mendesak DPR menggulirkan hak angket.

Di tengah persoalan itulah Jokowi menjawab pertanyaan soal pandangannya terkait Prabowo-Gibran dua periode. “ Masih jauh 2029. Semuanya kerja dulu. Entah kerja politik, entah kerja pemerintahan. Kerja untuk rakyatlah semuanya,” kata Jokowi.

Dan, partai-partai yang sudah menyatakan dukungan kembali kepada Prabowo itu belum ada yang menyebut Gibran akan menjadi cawapres.

Golkar terang-terangan belum menentukan cawapres. Ahmad Doli Kurnia mengatakan, posisi itu biasanya dibicarakan belakangan, jelang pendaftaran calon. Pilihan ada di tangan capres.

PAN juga demikian. Untuk urusan cawapres, PAN setali tiga uang dengan Golkar. Mereka menyerahkan sepenuhnya kepada Prabowo.

Sedangkan, PKB dalam pernyataan Faisol Riza tidak menyebut nama Gibran sebagai pendamping.

Gerindra juga menyerahkan keputusan strategis terkait pasangan calon kepada Prabowo. Juru bicara Gerindra Sugiat Santoso menyebut pemilihan cawapres menjadi kewenangan Prabowo sebagai ketua umum sekaligus ketua Dewan Pembina partai.

Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka (Instagram @setwapres.ri)

Elektabilitas Gibran di Berbagai Survei

Dalam survei, elektabilitas Gibran sebagai calon presiden memang suram. Namun bila dipasang pada posisi cawapres, elektabilitasnya justru kinclong. Dalam sejumlah survei, elektabilitasnya untuk posisi cawapres berada di posisi teratas, bahkan mengalahkan KDM yang mentereng dalam survei calon presiden.

Dalam survei Median pada Februari 2026, misalnya, elektabilitas Gibran di bursa cawapres mencapai 17,9 persen. Posisi berikutnya ditempati Purbaya Yudhi Sadewa dengan 10,2 persen. Sedangkan elektabilitas KDM mencapai 8,4 persen, diikuti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 8 persen, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok 6,8 persen, Mahfud MD 5,8 persen, dan Anies Baswedan 5,2 persen.

Survei tersebut dilakukan pada 10-14 Februari 2026 dengan melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia. Survei Median itu antara lain memotret persepsi publik terkait keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace, sekaligus mengukur elektabilitas sejumlah tokoh jika Pilpres 2029 digelar saat survei dilakukan.

Gibran juga berada di posisi pertama sebagai kandidat cawapres dalam jajak pendapat Median pada 21 Juli-2 Agustus 2026. Survei ini dilakukan secara tatap muka dengan melibatkan 1.212 responden di 38 provinsi. Jajak pendapat ini memiliki margin of error sekitar 2,76 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survei itu, Elektabilitas Gibran sebagai cawapres mencapai 20,1 persen. KDM berada di posisi tiga dengan 11,2 persen, di bawah AHY dengan 13,5 persen. Berikutnya Mahfud MD 7,9 persen dan Anies Baswedan 6,6 persen.

Posisi Gibran dalam bursa cawapres juga dipotret dalam survei Poltracking Indonesia yang dilaksanakan pada 2-8 Maret 2026. Survei ini melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan metode multistage random sampling. Survei memiliki margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survei tersebut, Gibran berada di posisi teratas daftar cawapres dengan elektabilitas 26,8 persen. KDM menyusul dengan 8,9 persen dan Mahfud MD 4,3 persen. Berikutnya AHY 3,8 persen, Anies Baswedan 3,1 persen, Muhaimin Iskandar 2,1 persen, dan Purbaya Yudhi Sadewa 2 persen.

Lantas, kapan Gibran kembali diajak? Atau kelak dia memilih jalan sendiri?

Beri Komentar