Senin, 12 Oktober 2026 Cari

Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah

Reporter : Eko
Senin, 12 Oktober 2026 14:00
Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah
Survei CELIOS mencatat 55 persen pemilih Prabowo tak ingin memilihnya lagi jika pilpres digelar sekarang. Pajak terasa mencekik, lapangan kerja dinilai belum beres, sementara ekonomi rumah tangga maki

DREAM.CO.ID - Survei yang dilakukan oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menunjukkan bahwa mayoritas pemilih Prabowo Subianto dalam Pemilu 2024 tidak akan lagi memberikan suara mereka kepada Ketua Umum Gerindra itu pada Pilpres 2029.

Dalam survei yang melibatkan 1.142 responden dari masyarakat umum ini, CELIOS mengajukan pertanyaan siapa calon presiden yang dipilih dalam Pemilu 2024. Dari total responden itu, 47 persen mengaku memilih Prabowo. Lainnya, 34 persen memilih Anies Baswedan. Sisanya, 19 persen memilih Ganjar.

CELIOS kemudian memerikan pertanyaan lanjutan kepada responden yang mengaku memilih Prabowo. Pertanyaannya, " Jika Anda memilih Prabowo pada Pemilu 2024, setelah melihat kinerja 2 tahun terakhir, apakah Anda akan memilihnya kembali jika pemilu diadakan sekarang?"

Dan mari simak hasilnya. Sebanyak 55 responden menjawab tidak akan memilih Prabowo lagi. Hanya 27 persen pemilih yang menyatakan akan memilih kembali Prabowo. Sementara, 19 persen belum menentukan pilihan.

" Artinya, lebih dari separuh responden yang sebelumnya memilih Prabowo menyatakan tidak akan kembali memberikan suaranya kepada Prabowo pada Pilpres mendatang," demikian tulis CELIOS dalam laporan bertajuk " Rapor Kinerja 2 Tahun Pemerintahan" , Senin 12 Oktober 2026.

Dalam hal kinerja pemerintah, salah satu yang dipotret oleh survei ini adalah pajak dan pungutan. Para responden diberi pertanyaan apakah pajak dan pungutan dari pemerintah memberatkan. Sebanyak 82 persen responden menilai pajak dan pungutan pemerintah terlalu berat. Hanya 11 persen yang tidak sependapat. Sedangkan 7 persen lainnya menjawab tidak tahu. Angka itu menunjukkan mayoritas responden terbebani oleh pajak dan pungutan pemerintah.

" Kondisi ini mengindikasikan bahwa kebijakan penerimaan negara berisiko menambah tekanan ekonomi masyarakat, terutama ketika kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masih menjadi tantangan," tulis CELIOS.

Mayoritas responden juga menilai upaya pemerintah dalam mengatasi pengangguran dan membuka lapangan kerja belum berjalan efektif. Sebanyak 38 persen bahkan menilai upaya pemerintah buruk. Sebanyak 24 menilai upaya pemerintah menangani pengangguran dan lapangan kerja setengah buruk. Sementara itu, 23 persen menilai cukup. Hanya 14 persen yang memberikan penilaian positif, yang terdiri dari 9 persen memberi nilai baik dan 5 persen sangat baik.

" Artinya, 62 persen responden menilai negatif upaya pemerintah dalam mengatasi pengangguran dan membuka lapangan kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah di bidang ketenagakerjaan dinilai tidak efektif oleh sebagian besar responden," tulis CELIOS.

Survei ini juga mengungkap bahwa kebijakan pemerintah yang tidak efektif dalam mengatasi kondisi ekonomi dan penciptaan lapangan kerja berdampak pada kondisi ekonomi rumah tangga masyarakat. Sebanyak 53 persen responden merasa kondisi ekonomi rumah tangganya lebih buruk dibandingkan satu tahun yang lalu. Sebanyak 31 persen responden merasa tidak ada perubahan. Hanya 16 persen yang merasa lebih baik.

Angka-angka itu menggambarkan bahwa jumlah rumah tangga yang ekonominya memburuk lebih dari tiga kali lipat dibandingkan yang membaik. Menurut CELIOS, kondisi itu menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat semakin menurun.

" Artinya jumlah rumah tangga yang ekonominya memburuk lebih dari tiga kali lipat dibandingkan yang membaik," tulis CELIOS.

Pengumpulan data survei ini dilakukan 15 September hingga 9 Oktober 2026. Survei masyarakat umum melibatkan 1.142 responden yang tersebar di berbagai provinsi. Pemilihan responden menggunakan pendekatan nonprobability sampling melalui Meta Ads, yang kemudian dilengkapi dengan pembobotan (weighting).

Beri Komentar