Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 21 Oktober 2026 22:05
Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Presiden Prabowo Subianto melalui dua tahun pertama pemerintahannya dengan kondisi ekonomi yang berbeda dari Jokowi. Salah satu cerminan capaian itu terlihat dari pasar modal Indonesia.

DREAM.CO.ID - Jantung investor di pasar modal Indonesia, khususnya saham, dibuat panas dingin selama beberapa hari terakhir. Bak roller coaster, mata investor harus menyaksikan dengan cemas saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menukik tajam di bawah level 5.000 pada awal pekan ini.

Keesokan hari, (Selasa, 20 Oktober 2026), kondisinya berbalik. IHSG langsung tancap gas dengan kekuatan penuh ke zona hijau meski awalnya bikin cemas di sesi pembukaan. Dana triliun yang mengguyur lantai bursa, membawa IHSG terus meroket. Dari posisi terendahnya saat terpangkas 11,57%, IHSG melompat 288,28 poin atau naik 5,65% ke level 5.278.

Dua posisi ini terjadi karena sentimen yang berbeda. IHSG ambruk sejak akhir pekan lalu dipicu Morgan Stanley Capital International (MCSI) Inc yang membawa kabar buruk tentang rencana menurunkan status MSCI Indonesia ke level Standalone Market, tingkat paling dasar dalam pemeringkatan lembaga itu.

Sebaliknya, lompatan IHSG hingga tercatat sebagai salah satu lonjakan harian terbesar terjadi karena sentimen domestik. Aksi borong investor diiringi sentimen buyback emiten membuat pelaku pasar berduyun-duyung memborong saham yang tengah obral harga saham dalam dua hari perdagangan.

Seperti banyak investor bilang. investasi saham memang butuh jantung yang kuat. Satu waktu, harga saham bisa terpelanting tak berdaya. Di hari berbeda, saham itu tiba-tiba menukik tajam bahkan ada yang sampai terkena Auto Rejection Atas (ARA).

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi

Kondisi naik turunnya IHSG sebetulnya hal biasa sejak Bursa Efek Indonesia (BEI) yang merupakan gabungan Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya berdiri pada 1 Desember 2007. Volatilitas harga saham sangat rentan terjadi. Sentimen sekecil apapun akan berpengaruh pada harga saham.

Pun begitu dengan kondisi pasar saham Indonesia selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

1 dari 3 halaman

Dari Rekor ke Koreksi Tajam di 2 Tahun Pertama Prabowo

Jika perjalanan bursa ditarik sejak awal pemerintahan Prabowo-Gibran pada Oktober 2024, terlihat situasi kontras dengan era presiden sebelummnya, Joko Widodo. Pada hari pertama Prabowo Subianto dilantik sebagai presiden, IHSG berada di level 7.772,60 pada 21 Oktober 2024.

Setahun kemudian, indeks sempat menembus 8.000, sebuah pencapaian yang dipuji Prabowo dalam sidang kabinet pada Oktober 2025.

Sebagai buktinya mari buka data yang disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat pembukaan perdagangan perdana tahun 2026 pada 2 Januari 2026. Pemerintahan Praboowo pada tahun ini memamg baru berusia jelang 1 tahun 2 bulan. Namun di tahun ini, roda pemerintahan sudah dijalankan penuh sepanjang kepemimpinannya.  

Dalam laporannya, OJK mengungkapkan pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja yang solid. IHSG berada pada level 8.646,94 poin, menguat 22,13 persen secara year to date (ytd) dan mencatatkan beberapa kali all time high sepanjang tahun 2025.

Setelah mengalami net sell di awal 2025, investor non-residen kembali mencatatkan net buy di Semester II-2025 sebesar Rp36,23 triliun. Kondisi yang menurut OJK mencerminkan pulihnya kepercayaan terhadap prospek ekonomi nasional dan kinerja korporasi.

Dari sisi penghimpunan dana, hingga 31 Desember 2025 tercatat 215 Penawaran Umum dengan total nilai Rp275 triliun, termasuk 18 emiten baru dengan nilai IPO Rp14,41 triliun. Rerata nilai transaksi harian juga meningkat menjadi Rp18,1 triliun, dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp12,9 triliun.

Peningkatan transaksi harian ini seiring pertumbuhan Single Investor Identification (SID) yang mencapai 20,2 juta SID atau meningkat 36 persen secara ytd, dengan dominasi investor berusia di bawah 40 tahun. Sementara porsi transaksi investor ritel meningkat dari 38 persen di akhir 2024 menjadi 50 persen di 2025.

Laporan tersebut membawa momentum penguatan berlanjut hingga awal tahun 2026. IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134 pada 20 Januari, sementara kapitalisasi pasar BEI mencapai sekitar Rp16.590 triliun.

Pada saat itu, pasar memberikan sinyal optimistis. Investor masih memiliki alasan untuk bertaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia dan prospek perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.

Dalam hitungan hari, situasinya berbalik. Di tengah ketidakpastian global akibat perang Iran-Amerika Serikat yang melumpuhkan ekonomi dunia, koreksi kurs rupiah terhadap dollar AS, pasar modal Indonesia menghadapi tekanan pertamanya.

Puncak dari ketidakpastian itu terlihat di pasar modal Indonesia pada Januari 2026. MSCI membekukan sejumlah perubahan komposisi indeks karena masih menyoroti keterbukaan struktur kepemilikan saham dan keandalan data free float.

Guncangan besar hadir pada pertengahan Oktober 2026. MSCI mengumumkan rencana untuk menurunkan status pasar modal Indonesia ke level Standalone Market (pasar mandiri. Alhasil, pada penutupan perdagangan 20 Oktober 2026, IHSG berada di level 5.278,89. Dibandingkan posisi awal pengamatan pada 21 Oktober 2024, indeks terkoreksi sekitar 32,08 persen.

Tanda-tanda tekanan pada pasar modal Indonesia ini sebetulnya sudah tertangkap pada laporan Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 30 September 2026. Dalam laporan itu dinyatakan pasar saham domestik bergerak dinamis terlihat dari IHSG yang ditutup pada level 6.071,14 per akhir September, terkoreksi secara kumulatif sebesar 29,79 persen secara ytd.

Investor asing pada bulan itu menunjukkan kecenderungan jual di pasar saham. Net sell tercatat sebesar Rp10,24 triliun, atau berbalik dari posisi Agustus 2026 yang mencatat net buy Rp1,19 triliun.

Namun tetap ada kabar baik menghampiri. Jumlah investor di pasar modal dalam negeri terus menunjukkan tren peningkatan, sejalan dengan inisiatif penguatan ekosistem digital di industri pasar modal. Pada September 2026, tercatat penambahan investor baru (ytd) sebesar 57,96 persen menjadi 32,17 juta investor.

Sampai dengan akhir triwulan III-2026, animo korporasi untuk melakukan penghimpunan dana melalui Penawaran Umum tercatat masih tinggi, dengan total nilai Penawaran Umum secara ytd telah mencapai Rp186,03 triliun, terdiri dari 7 IPO, 18 Penawaran Umum Terbatas (PUT), 11 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS), dan 123 Penawaran Umum Berkelanjutan EBUS.

Sementara pada pipeline, terdapat 29 rencana Penawaran Umum dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun.

2 dari 3 halaman

2 Tahun Pertama Jokowi: Dari Tekanan Menuju Pemulihan

Kondisi bursa saham Indonesia pada dua tahun pertama pemerintahan Joko Widodo memberikan pembanding yang menarik. Jokowi mulai menjabat pada Oktober 2014, ketika perekonomian Indonesia sedang menghadapi perlambatan. Harga komoditas melemah, permintaan global belum kuat, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah membayangi pasar keuangan.

IHSG tidak langsung melaju mulus. Pada awal November 2014, indeks tercatat di sekitar 5.085,51. Tekanan arus modal keluar menyeretnya turun le level 4.120,50 pada akhir September 2015. Pelemahan itu terjadi ketika investor menghadapi ketidakpastian global dan kekhawatiran atas perlambatan ekonomi domestik.

Dalam laporan akhir tahun 2014, saat Jokowi baru 3 bulan memimpin sebagai Presiden, BEI melaporkan HSG mengalami kenaikan 21,15%, yaitu dari 4.274,177 poin pada akhir 2013 menjadi 5.178,373 poin pada 29 Desember 2014.

Penambahan 23 emiten baru dan 1 emiten relisting pada tahun 2014 menambah nilai kapitalisasi pasar saham 22,76% menjadi Rp5.179 triliun per 29 Desember 2014. Rata-rata nilai transaksi harian saham periode Januari–Desember 2014 adalah sebesar Rp5,99 triliun, turun sebesar 3,93% dibandingkan dengan periode yang sama di 2013, yaitu sebesar Rp6,24 triliun.

Namun, rata-rata frekuensi transaksi harian saham periode Januari–Desember 2014 naik 38,37% menjadi 212.643 kali transaksi dibandingkan dengan periode yang sama di 201.

Pemerintahan Jokowi merespons tekanan ekonomi melalui serangkaian paket kebijakan yang diumumkan sejak September 2015. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki iklim usaha, mendorong kegiatan ekonomi, dan memulihkan kepercayaan pasar. IHSG kemudian berangsur pulih. Pada 19 Oktober 2015, indeks kembali ke sekitar 4.591,91. Pergerakan itu menunjukkan bahwa tekanan pasar dapat berbalik ketika sentimen dan ekspektasi investor membaik. 

Meski ada tanda pemulihan, hasilnya belum cukup kuat mendorong pasar modal Indonesia. Data BEI melaporkan IHSG per 28 Desember 2015 ditutup di level 4.557,355 poin atau mengalami penurunan sebesar 12,81%, dibandingkan penutupan akhir Desember 2014 yang berada di level 5.226,947 poin.

Nilai kapitalisasi pasar saham pun ikut berubah turun 7,54% dari Rp5.228 triliun pada akhir Desember 2014 menjadi Rp4.834 triliun per 28 Desember 2015.

Tren konsolidasi itu juga tampak dari rata-rata nilai transaksi harian saham periode Januari hingga Desember 2015 adalah sebesar Rp5,77 triliun, atau mengalami pelemahan sebesar 3,98% dibandingkan dengan periode yang sama di 2014, yaitu sebesar Rp6,01 triliun.

Meski demikian, rata-rata frekuensi transaksi harian saham tahun 2015 naik 4,38% menjadi 221.942 kali transaksi.

Jumlah perusahaan yang melakukan IPO juga kurang bergairah. dibandingkan tahun 2014 yang mencatatkan 23 Perusahaan Tercatat melakukan IPO dan 1 perusahaan melakukan relisting. Total dana yang berhasil dihimpun pada periode Januari hingga Desember 2015 sebesar Rp57,70 triliun, yang terdiri dari IPO sebesar Rp11,31 triliun, rights issue sebesar Rp45,57 triliun dan waran sebesar Rp824 miliar.

Memasuki 2016, kondisi pasar semakin membaik. IHSG ditopang oleh stabilisasi rupiah, masuknya kembali aliran modal asing, serta optimisme terhadap pembangunan infrastruktur. Program pengampunan pajak atau tax amnesty juga menjadi salah satu sumber sentimen positif, antara lain melalui potensi repatriasi dana ke dalam negeri.

3 dari 3 halaman

2 Pemerintahan 2 Lintasan Berbeda

Pada 20 Oktober 2016, IHSG ditutup di level 5.403,69. Dibandingkan posisi awal pemerintahan Jokowi, indeks tersebut mencatat kenaikan sekitar 7,2 persen. Menutup akhir tahun 2016, IHSG telah meningkat 15,32% dan ditutup di level 5.296,711 poin yang merupakan tertinggi sepanjang sejarah Pasar Modal Indonesia, tertinggi kelima diantara bursa-bursa utama dunia serta tertinggi kedua di kawasan Asia Pasifik.

Rata-rata nilai transaksi harian mengalami peningkatan 30,03% dengan volume yang juga naik 31,36% dibandingkan dengan 2015. Kondisi ini mendorong kapitalisasi pasar meningkat 18,18% dibandingkan dengan 2015.

Jumlah dana yang berhasil dihimpun di sepanjang 2016 juga mencapai nilai tertinggi sepanjang sejarah Pasar Modal Indonesia. Jumlah tersebut mencapai Rp674,39 triliun dan USD247,50 juta yang terdiri dari aktivitas IPO sebesar Rp12,11 triliun, rights issue sebesar Rp61,85 triliun, penerbitan waran sebesar Rp1,14 triliun.

Ada pula 84 emisi baru obligasi dan sukuk korporasi yang diterbitkan oleh 56 Perusahaan Tercatat dengan nilai Rp113,29 triliun dan USD47,50 juta, 1 Exchange Traded Fund (ETF) senilai Rp6,3 miliar, 2 emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp1,37 triliun, serta 220 seri Surat Berharga Negara (SBN) yang dicatatkan di tahun ini dengan nilai Rp484,63 triliun dan USD200 juta.

Angka tersebut tidak spektakuler, tetapi memperlihatkan arah pemulihan yang berbeda dari periode Prabowo. Pada era Jokowi, indeks sempat jatuh cukup dalam sebelum menutup dua tahun pertama dengan penguatan. Pada era Prabowo, indeks sempat mencapai rekor tertinggi, tetapi berbalik melemah tajam menjelang akhir tahun kedua.

Perbandingan dua periode pemerintahan itu akhirnya memperlihatkan dua lintasan berbeda. Pada dua tahun pertama Jokowi, IHSG melewati fase tekanan yang berkaitan dengan perlambatan ekonomi, pelemahan rupiah, dan arus modal keluar, sebelum pulih pada 2016. Pada dua tahun pertama Prabowo, indeks mencetak rekor baru, tetapi kemudian mengalami koreksi tajam di tengah persoalan tata kelola pasar dan perubahan sentimen investor global.

Beri Komentar