Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
© Pexels.com/Magda Ehlers
DREAM.CO.ID - Hiu putih kerap menjadi simbol predator paling menakutkan di lautan, terutama setelah film Jaws membuat banyak orang takut berenang di perairan terbuka. Namun, reputasi tersebut tidak sepenuhnya sebanding dengan jumlah korban yang ditimbulkannya. Ada hewan-hewan lain yang jauh lebih berbahaya bagi manusia, mulai dari serangga kecil pembawa penyakit hingga reptil raksasa yang mampu menerkam tanpa peringatan.
Dilansir dari HowStuffWorks, menentukan satu hewan paling berbahaya di dunia bukan perkara mudah. Bahaya dapat diukur dari berbagai aspek, seperti kekuatan racun, kemampuan menyebarkan penyakit, kecenderungan mempertahankan wilayah, hingga agresivitas saat berhadapan dengan manusia.
Berikut empat hewan yang menempati kategori berbahaya berdasarkan karakteristik tersebut.
1. Siput Kerucut Geografis, Hewan Kecil dengan Racun Mematikan
Jangan tertipu oleh cangkangnya yang menarik. Siput kerucut geografis (Conus geographus) merupakan salah satu hewan laut paling beracun di dunia. Hewan kecil ini hidup di terumbu karang kawasan Indo-Pasifik dan memiliki mekanisme berburu yang tidak biasa.
Saat menyerang mangsa, siput ini menggunakan gigi menyerupai tombak kecil untuk menyuntikkan racun. Racunnya mengandung berbagai neurotoksin, yaitu zat yang menyerang sistem saraf. Menurut artikel HowStuffWorks, spesies ini memiliki sekitar 200 jenis neurotoksin yang dapat digunakan dalam racunnya.
Racun tersebut dapat melumpuhkan mangsa dengan cepat. Pada manusia, sengatannya berpotensi menyebabkan kelumpuhan, gangguan pernapasan, hingga kematian. Artikel tersebut mencatat sekitar 30 kematian penyelam yang dikaitkan dengan siput kerucut.
Belum tersedia penawar khusus yang dapat diandalkan untuk racun siput ini. Penanganan medis berfokus pada mempertahankan fungsi tubuh, terutama pernapasan, sampai efek racun mereda.
Meski demikian, ubur-ubur kotak Australia juga dikenal sangat berbahaya. Hewan ini bahkan dianggap oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) sebagai hewan laut paling berbisa. Sengatannya dapat menyebabkan kematian dan meninggalkan luka serius pada korban yang selamat.
Berbeda dari predator yang menyerang dengan gigi atau cakar, nyamuk membahayakan manusia melalui penyakit. Ukurannya kecil, tetapi kemampuannya menyebarkan patogen membuat serangga ini menjadi salah satu hewan paling mematikan di dunia.
Nyamuk dapat menularkan berbagai penyakit, termasuk malaria, demam berdarah dengue, demam kuning, ensefalitis, penyakit akibat virus West Nile, dan Zika. Patogen tersebut dapat berpindah melalui gigitan nyamuk yang sebelumnya mengisap darah manusia atau hewan yang terinfeksi.
HowStuffWorks, dengan mengutip angka yang dicantumkan dalam artikelnya, menyebut penyakit yang ditularkan nyamuk menyebabkan lebih dari 725.000 kematian setiap tahun, sementara sekitar 700 juta orang lainnya jatuh sakit.
Angka tersebut menggambarkan besarnya dampak penyakit yang ditularkan nyamuk, bukan jumlah kematian akibat gigitan nyamuk itu sendiri. Risiko juga berbeda-beda menurut wilayah, jenis penyakit, dan akses terhadap layanan kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya pencegahan melalui penggunaan kelambu, obat antinyamuk, pengendalian tempat perkembangbiakan, dan upaya kesehatan masyarakat lainnya. Banyak dampak penyakit yang ditularkan nyamuk sebenarnya dapat dikurangi melalui langkah-langkah tersebut.
Kuda nil (Hippopotamus amphibius) sering terlihat tenang ketika berendam di sungai atau danau Afrika. Namun, penampilannya yang besar dan menggemaskan tidak mencerminkan tingkat bahayanya.
Hewan ini sangat teritorial, terutama ketika berada di air. Kuda nil dapat menyerang manusia atau hewan lain yang dianggap mengganggu wilayahnya. Dalam kondisi tertentu, hewan ini juga dapat membalikkan perahu yang melintas terlalu dekat.
Menurut angka yang dikutip HowStuffWorks dari National Geographic, kuda nil diperkirakan menyebabkan sekitar 500 kematian manusia setiap tahun di Afrika. Tubuhnya dapat memiliki bobot hingga sekitar 4.500 kilogram, dengan gigi besar yang mampu menimbulkan luka serius.
Bahaya kuda nil bukan hanya terletak pada gigitannya. Tubuhnya yang berat juga dapat menghancurkan atau menjepit korban. Karena itu, orang yang berada di habitatnya perlu menjaga jarak dan tidak menghalangi jalur pergerakannya, terutama di perairan.
Buaya termasuk predator yang perlu diwaspadai ketika manusia berada di sungai, muara, atau kawasan pesisir yang menjadi habitatnya. Dua spesies yang dikenal berbahaya adalah buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya Nil (Crocodylus niloticus).
Buaya muara dapat tumbuh hingga sekitar tujuh meter. Spesies ini hidup di kawasan tropis dan subtropis, termasuk Asia Tenggara, kawasan Indo-Pasifik, dan Australia bagian utara. Ukuran tubuh serta kekuatan rahangnya menjadikannya predator yang sangat berbahaya.
Sementara itu, buaya Nil memiliki reputasi buruk karena banyaknya serangan terhadap manusia di Afrika. HowStuffWorks mengutip penelitian yang menganalisis serangan buaya terhadap manusia di Afrika Selatan selama 1949–2016. Dari rentang waktu tersebut, peneliti mencatat 214 serangan yang terverifikasi dan terjadi tanpa provokasi.
Pertemuan dengan buaya dapat berakhir fatal karena serangannya berlangsung cepat dan korban mungkin kesulitan melarikan diri di air. Oleh sebab itu, manusia sebaiknya tidak berenang atau mendekati tepi perairan yang diketahui menjadi habitat buaya, meskipun tidak melihat hewan tersebut di permukaan.
Daftar hewan berbahaya tidak selalu berakhir pada spesies yang memiliki racun atau kekuatan fisik luar biasa. Manusia juga memiliki kemampuan membunuh yang sangat besar, termasuk terhadap hewan lain.
Artikel HowStuffWorks mengutip penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada 2015, yang menggambarkan manusia sebagai superpredator. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa manusia memburu dan membunuh predator besar lainnya, seperti beruang grizzly, serigala, dan singa, dengan tingkat yang jauh lebih tinggi daripada predator-predator itu membunuh satu sama lain.
Temuan tersebut memperluas pengertian tentang bahaya dalam dunia hewan. Ancaman tidak hanya berasal dari racun, taring, atau perilaku agresif, tetapi juga dari kemampuan memburu, penggunaan teknologi, dan dampak aktivitas terhadap spesies lain.
Pada akhirnya, tidak ada satu jawaban mutlak untuk pertanyaan tentang hewan paling berbahaya di dunia. Nyamuk menimbulkan ancaman besar melalui penyakit, siput kerucut memiliki racun yang sangat kuat, kuda nil berbahaya ketika mempertahankan wilayah, dan buaya merupakan predator yang mematikan. Tingkat bahaya setiap hewan bergantung pada cara ancaman itu muncul, kondisi lingkungan, dan seberapa sering manusia berinteraksi dengannya.
Advertisement
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?