Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah
Color Analysis, Cara Memilih Warna Pakaian agar Penampilan Lebih Menonjol
8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli
5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa
8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi
© Pexels.com/Fey Wardhani
DREAM.CO.ID - Memberi anak kesempatan untuk mandiri merupakan bagian penting dari pengasuhan. Namun, ketika kesempatan itu berarti membiarkan anak kecil tanpa pengawasan langsung, batas antara melatih kemandirian dan mengabaikan keselamatan menjadi persoalan serius.
Dua peristiwa yang menjadi sorotan publik pada Oktober 2026 memperlihatkan dilema tersebut: seorang balita berusia tiga tahun meninggal setelah terjatuh dari balkon hotel di Samarinda ketika orang tuanya sedang sarapan, sementara balita lain ditemukan menangis sendirian di tenda saat orang tuanya mendaki menuju puncak Gunung Prau, Jawa Tengah.
Di Samarinda, Kalimantan Timur, seorang anak perempuan berinisial RK yang berusia tiga tahun meninggal setelah terjatuh dari balkon kamar lantai lima Hotel Mesra pada Rabu, 14 Oktober 2026. Berdasarkan keterangan awal polisi yang diberitakan detikKalimantan, korban berada di kamar bersama adiknya ketika kedua orang tuanya turun ke restoran hotel untuk sarapan.
Beberapa hari kemudian, video seorang balita yang menangis sendirian di dalam tenda saat orang tuanya melakukan perjalanan menuju puncak atau summit attack di Gunung Prau, Jawa Tengah, ramai beredar di media sosial. Menurut laporan Republika pada 17 Oktober 2026, tangisan anak tersebut terdengar oleh pendaki lain yang kemudian menghampiri dan menemaninya hingga orang tuanya kembali.
Dalam klarifikasi yang disampaikan melalui pengelola Gunung Prau, orang tua menyebut anak mereka sebelumnya tertidur dan telah dititipkan kepada rekan yang mendirikan tenda di sebelahnya. Namun, ketika anak terbangun dan menangis, orang yang dititipi ternyata sedang tidur. Orang tua kemudian menyampaikan permohonan maaf.
Kedua peristiwa itu memiliki konteks berbeda, tetapi sama-sama memunculkan pertanyaan mengenai tanggung jawab orang tua dalam memastikan keselamatan anak. Di tengah perdebatan tersebut, konsep free-range parenting atau pola asuh yang memberi anak ruang lebih luas untuk bereksplorasi menjadi relevan untuk dibahas. Apakah membiarkan anak melakukan sesuatu sendiri merupakan bagian dari pembelajaran, atau justru berisiko ketika orang tua salah memperkirakan kemampuan anak?
Dilansir dari Psychology Today, konsep free-range parenting dibahas melalui kasus seorang ibu di Virginia, Amerika Serikat, yang dihukum setelah membiarkan putranya yang berusia lima tahun berjalan sendiri menuju kolam di dekat rumah. Karyann Parkinson dinyatakan bersalah atas tuduhan berkontribusi terhadap kenakalan anak di bawah umur dan berencana mengajukan banding.
Istilah free-range parenting diperkenalkan Lenore Skenazy, penulis buku Free-Range Kids: How Parents and Teachers Can Let Go and Let Grow. Pendekatan ini mendorong orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan secara mandiri setelah dinilai siap, misalnya bermain di luar rumah, berjalan ke sekolah, atau menyelesaikan tugas sederhana.
Pendukungnya berpendapat bahwa pengalaman langsung membantu anak membangun kepercayaan diri, ketahanan mental, dan kemampuan memahami konsekuensi tindakannya. Anak tidak harus selalu diselamatkan dari setiap kesulitan kecil karena proses menghadapi masalah dapat menjadi bagian dari pembelajaran.
Namun, free-range parenting bukan berarti orang tua melepaskan tanggung jawab pengawasan. Kebebasan tetap diberikan berdasarkan kesiapan anak, karakter lingkungan, dan risiko kegiatan. Anak yang mampu berjalan di lingkungan rumah bersama orang tuanya, misalnya, belum tentu siap berada sendirian di dekat balkon hotel atau di tenda di kawasan pegunungan.
Di sisi lain, pola asuh yang terlalu protektif dikenal sebagai helicopter parenting. Orang tua yang menerapkan pola ini cenderung mengambil alih pekerjaan, keputusan, atau penyelesaian masalah yang sebenarnya dapat dipelajari anak secara bertahap.
Sejumlah penelitian yang dirujuk Psychology Today mengaitkan pola asuh terlalu protektif dengan persoalan penyesuaian psikologis, termasuk gejala kecemasan dan depresi, ketidakpuasan hidup, serta kesulitan mengendalikan emosi. Namun, hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap bentuk perlindungan berlebihan pasti menyebabkan masalah psikologis.
Anak memang perlu diberi kesempatan mencoba hal baru. Akan tetapi, kebutuhan itu harus dibedakan dari kebutuhan akan pengawasan yang sesuai usia. Anak berusia tiga tahun, misalnya, masih memiliki keterbatasan dalam memperkirakan bahaya, mengendalikan impuls, dan mencari pertolongan secara efektif ketika menghadapi situasi tak terduga.
Karena itu, membangun kemandirian tidak harus dimulai dengan membiarkan anak menghadapi risiko besar sendirian. Orang tua dapat mengajarkan anak membereskan mainan, membantu pekerjaan sederhana, memilih pakaian, atau bermain di lingkungan yang aman sambil tetap berada dalam jangkauan pengawasan.
Dua peristiwa tersebut mengingatkan bahwa niat memberi ruang kepada anak tidak otomatis membuat sebuah keputusan aman. Situasi hotel bertingkat memiliki risiko berbeda dari lingkungan rumah, begitu pula kawasan pendakian dengan kondisi alam yang dapat berubah dan akses pertolongan yang terbatas.
Sebelum meninggalkan anak, orang tua perlu mempertimbangkan usia, kemampuan memahami instruksi, kondisi lingkungan, potensi bahaya, serta siapa yang benar-benar bertanggung jawab mengawasi selama mereka pergi. Menitipkan anak juga perlu disertai kepastian bahwa orang yang dipercaya bersedia dan mampu menjalankan tanggung jawab tersebut.
Perdebatan tentang pola asuh bukan pilihan sederhana antara mengawasi setiap gerak anak dan membebaskannya sepenuhnya. Anak membutuhkan kesempatan untuk belajar mandiri, tetapi kesempatan itu harus bertahap dan disesuaikan dengan kemampuannya. Kemandirian bukan berarti anak harus mampu menghadapi semua risiko sendiri; kemandirian tumbuh ketika orang tua memberi ruang belajar sekaligus memastikan anak tetap terlindungi.
Advertisement
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?