Senin, 19 Oktober 2026 Cari

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Reporter : Abidah
Senin, 19 Oktober 2026 10:00
Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?
Ada bukti kuat bahwa bahasa Melayu sudah digunakan di lingkungan Sriwijaya, tetapi tidak berarti semua orang Sriwijaya berbicara bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari.

DREAM.CO.ID - Jika kita membayangkan orang-orang yang hidup di Palembang pada masa Sriwijaya, mungkin muncul pertanyaan sederhana: bahasa apa yang mereka gunakan ketika berbicara satu sama lain? Apakah mereka sudah berbicara bahasa Melayu, bahasa yang berabad-abad kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia?

Jawabannya: ada bukti kuat bahwa bahasa Melayu sudah digunakan di lingkungan Sriwijaya, tetapi tidak berarti semua orang Sriwijaya berbicara bahasa Melayu dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang muncul dalam sejumlah prasasti Sriwijaya dikenal sebagai Melayu Kuno, salah satu bentuk awal bahasa Melayu yang dapat dilacak dalam sejarah Nusantara.

Bukti tersebut terutama berasal dari prasasti-prasasti abad ke-7. Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 682 Masehi, Prasasti Talang Tuwo dari 684 Masehi, serta Prasasti Kota Kapur dan Karang Brahi merupakan beberapa peninggalan penting yang menggunakan bahasa Melayu Kuno. Prasasti-prasasti tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Melayu telah digunakan dalam lingkungan kekuasaan Sriwijaya ketika kerajaan itu sedang berkembang.

Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan: bahasa yang digunakan dalam prasasti tidak selalu sama dengan bahasa yang digunakan masyarakat dalam percakapan sehari-hari.

Prasasti pada dasarnya merupakan dokumen resmi. Isinya dapat berupa pernyataan kekuasaan, kutukan bagi orang yang melanggar perintah raja, atau catatan mengenai kegiatan penguasa. Karena itu, keberadaan Melayu Kuno dalam prasasti menunjukkan bahwa bahasa tersebut memiliki fungsi penting dalam komunikasi resmi, tetapi tidak cukup untuk membuktikan bahwa setiap penduduk Sriwijaya menggunakannya sebagai bahasa ibu.

1 dari 3 halaman

Melayu Kuno Bukan Bahasa Indonesia

Melayu Kuno juga tidak dapat disamakan begitu saja dengan bahasa Indonesia sekarang. Bentuknya berbeda, baik dalam kosakata, tata bahasa maupun sistem penulisannya. Akan tetapi, sejumlah kata yang terdapat dalam prasasti masih memiliki hubungan yang dapat dikenali dengan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia modern.

Hubungan historis inilah yang membuat Sriwijaya penting dalam sejarah bahasa Melayu. Jauh sebelum bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan pada 1928, berbagai bentuk bahasa Melayu telah digunakan di kepulauan Asia Tenggara.

Yang menarik, prasasti Sriwijaya juga memperlihatkan pengaruh bahasa Sanskerta. Sejumlah istilah keagamaan, pemerintahan, dan kebudayaan berasal dari lingkungan Sanskerta. Hal tersebut tidak berarti masyarakat Sriwijaya sehari-hari berbicara Sanskerta. Lebih tepat dikatakan bahwa bahasa Melayu Kuno menyerap unsur dari bahasa yang pada masa itu memiliki pengaruh besar dalam kehidupan keagamaan dan kebudayaan.

2 dari 3 halaman

Mengapa Melayu Bisa Digunakan?

Jawabannya mungkin berkaitan erat dengan posisi Sriwijaya sebagai kerajaan maritim.

Wilayah Sumatra bagian selatan berada di jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai kawasan Asia. Pelabuhan menjadi ruang pertemuan pedagang, pelaut, pejabat, dan masyarakat dari berbagai latar belakang. Dalam situasi seperti ini, sebuah bahasa yang dapat dipahami oleh kelompok berbeda memiliki nilai praktis sebagai bahasa penghubung.

Bahasa Melayu kemudian memang dikenal luas sebagai lingua franca atau bahasa perantara di berbagai wilayah Asia Tenggara. Akan tetapi, menghubungkan perkembangan tersebut secara langsung hanya kepada Sriwijaya juga perlu dilakukan secara hati-hati. Sejarah bahasa berlangsung panjang dan melibatkan banyak pusat perdagangan serta komunitas yang saling berinteraksi.

Dengan kata lain, Sriwijaya tidak menciptakan bahasa Melayu. Namun, prasasti-prasastinya memberikan bukti penting bahwa bahasa Melayu telah memiliki fungsi resmi dan prestise tertentu di Sumatra setidaknya sejak abad ke-7.

 

3 dari 3 halaman

Jadi, Apakah Orang Sriwijaya Berbicara Melayu?

Kemungkinan besar sebagian masyarakat menggunakan bentuk Melayu, terutama dalam konteks yang membutuhkan komunikasi lintas kelompok. Tetapi Sriwijaya bukan masyarakat yang hanya memiliki satu bahasa.

Kerajaan tersebut berdiri di kawasan yang dihuni komunitas dengan bahasa lokal masing-masing. Orang-orang dalam komunitas tertentu sangat mungkin tetap menggunakan bahasa setempat di lingkungan keluarga dan kehidupan sehari-hari. Bahasa Melayu dapat berfungsi sebagai bahasa penghubung ketika komunikasi melibatkan kelompok yang berbeda.

Karena itu, membayangkan semua orang Sriwijaya berbicara Melayu seperti penutur bahasa Indonesia masa kini adalah penyederhanaan. Gambaran yang lebih masuk akal adalah sebuah masyarakat multibahasa, dengan Melayu Kuno menjadi salah satu bahasa penting dalam jaringan politik dan perdagangan.

Yang membuat Sriwijaya istimewa dalam sejarah bahasa bukan karena kerajaan itu sudah menggunakan “ bahasa Indonesia” sebelum Indonesia ada. Jejak prasastinya justru menunjukkan sesuatu yang lebih menarik: bahasa Melayu telah digunakan dalam ruang resmi Nusantara lebih dari seribu tahun sebelum bahasa Indonesia lahir sebagai bahasa nasional. Dari jejak-jejak awal inilah kita dapat melihat salah satu bagian panjang perjalanan sebuah bahasa yang kelak menjadi alat komunikasi bersama di Indonesia.

Beri Komentar