BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
© 2026 Istiqamah (FAO)
DREAM.CO.ID – Petani bukan hanya lelaki. Perempuan pun bisa mengambil peran. Di tangan mereka, komoditas pangan lokal bahkan bisa diolah menjadi produk bernilai tambah. Petani perempuan juga mampu membuka peluang usaha dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina dari Banten menunjukkan bagaimana peran itu dijalankan. Istiqamah memperjuangkan keterlibatan perempuan dalam rantai pasok kopi. Rulyantina mengembangkan talas beneng menjadi berbagai produk yang berpotensi menembus pasar nasional hingga internasional.
Atas kiprah tersebut, keduanya masuk dalam daftar 100 Pahlawan Perempuan di bidang Sistem Pangan dan Pembangunan Perdesaan versi Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Penghargaan itu diserahkan Direktur Jenderal FAO QU Dongyu dalam World Food Forum di Roma, Italia, Kamis, 15 Oktober 2026.
Istiqamah dari Aceh dan Rulyantina terpilih bersama 98 perempuan lain dari berbagai negara. Penghargaan ini diberikan kepada perempuan yang dinilai berkontribusi melalui kepemimpinan, keahlian, dan inovasi dalam mengembangkan sistem pangan dan pertanian.

Istiqamah merupakan sekretaris sebuah koperasi kopi di Aceh. Koperasi tersebut mewakili 980 anggota yang secara kolektif mengelola lebih dari 1.200 hektare perkebunan kopi.
Koperasi ini mendorong produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, sistem pengelolaan lahan yang memadukan tanaman pertanian dengan pepohonan dalam satu area untuk menjaga produktivitas sekaligus kelestarian lingkungan.
Selain menjaga kelestarian lingkungan, Istiqamah memperjuangkan keterlibatan petani yang lebih adil dalam rantai nilai kopi global, terutama bagi perempuan.
Bagi Istiqamah, perempuan tidak cukup hanya terlibat dalam kegiatan produksi. Mereka juga harus ikut menentukan keputusan yang memengaruhi usaha dan penghidupan mereka.
“ Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai tenaga pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi, sangatlah penting,” kata Istiqamah.
Menurut dia, pendekatan tersebut dapat diterapkan di daerah lain melalui dukungan kebijakan pemerintah daerah. Dengan begitu, pemberdayaan perempuan bisa berjalan seiring dengan upaya membangun pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Namun, kesempatan untuk berkembang membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan. Petani perempuan juga memerlukan akses terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, dan perlindungan sosial. Pengakuan atas peran mereka dalam kelembagaan pertanian pun tidak kalah penting.
“ Petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan adil terhadap tiga bidang utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang sesuai. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, dan perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam kelembagaan pertanian,” ujarnya.
Istiqamah juga menyoroti tantangan perubahan iklim. Menurut dia, dukungan terhadap praktik pertanian ramah lingkungan diperlukan untuk menjaga produktivitas dan kesejahteraan petani.
Sementara di Banten, Rulyantina mengembangkan peluang ekonomi melalui talas beneng, tanaman berumbi besar dari daerah tersebut. Ia mengolahnya menjadi berbagai produk bernilai tambah dengan pendekatan zero waste atau tanpa limbah.
Inovasi ini membuka peluang diversifikasi pangan lokal sekaligus pengembangan usaha. Produk olahan talas beneng tersebut juga memiliki potensi pasar di tingkat nasional maupun internasional.
Bagi Rulyantina, pengolahan komoditas lokal memiliki tujuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari perempuan di lingkungannya. Ia ingin membantu ibu rumah tangga memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus bekerja jauh dari rumah.
“ Saya ingin membantu perempuan, khususnya para ibu rumah tangga di komunitas saya, agar bisa memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja,” katanya.
Dengan mengolah talas beneng menjadi produk yang memiliki nilai jual, Rulyantina berharap peluang kerja dan usaha dapat tumbuh di lingkungan tempat tinggal mereka.
“ Dengan begitu, perempuan memiliki kesempatan untuk lebih mandiri secara finansial sekaligus tetap mendukung keluarga,” ujarnya.
Rulyantina berharap pemerintah daerah turut mengoptimalkan potensi komoditas lokal dengan menyediakan akses terhadap pelatihan, modal, teknologi, dan pasar bagi petani perempuan.
Ia juga menekankan pentingnya melibatkan perempuan dalam perencanaan program pertanian. Pengalaman mereka di lapangan perlu menjadi pertimbangan agar program yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan petani.
Dengan dukungan yang memadai, perempuan dapat mengembangkan usaha secara lebih mandiri dan berkelanjutan. Manfaatnya tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga masyarakat dan perekonomian daerah.

Kiprah Istiqamah dan Rulyantina hadir di tengah kesenjangan gender yang masih membayangi sektor pangan dan pertanian.
Data FAO menunjukkan perempuan mencakup 41 persen tenaga kerja global di sektor tersebut. Namun, petani perempuan umumnya menggarap lahan yang lebih kecil daripada laki-laki. Kesenjangan produktivitas lahan antara keduanya mencapai 24 persen.
Ketimpangan juga terlihat dalam hal upah. Di sektor pertanian dengan sistem pengupahan, perempuan hanya menerima 82 sen untuk setiap 1 dolar yang diperoleh laki-laki.
Laporan FAO berjudul The Unjust Climate mengungkapkan bahwa rumah tangga yang dikepalai perempuan kehilangan pendapatan 8 persen lebih besar akibat tekanan panas dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki. Kerugian tersebut mencapai 37 miliar dolar AS per tahun di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa besarnya kontribusi perempuan belum selalu diikuti akses dan kesempatan yang setara. Keterbatasan akses terhadap lahan, pembiayaan, teknologi, pendidikan, dan pasar dapat menghambat kemampuan mereka meningkatkan produktivitas serta mengembangkan usaha.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengapresiasi pengakuan FAO terhadap Istiqamah dan Rulyantina. Menurut dia, pencapaian keduanya menunjukkan bagaimana inovasi dan peningkatan nilai tambah dapat membuka potensi komoditas pertanian lokal.
Ia menyebut proses seleksi penghargaan tersebut melibatkan nominasi dari 131 negara. Kementerian Pertanian, kata Suwandi, berkomitmen meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat partisipasi perempuan dalam agribisnis, serta memperluas akses terhadap teknologi dan pasar untuk mendorong pembangunan ekonomi pedesaan dan kemandirian pangan Indonesia.
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste Rajendra Aryal menilai kiprah kedua perempuan tersebut menunjukkan manfaat yang lebih luas ketika kesenjangan gender dapat dikurangi.
“ Kiprah luar biasa Ibu Istiqamah dan Ibu Rulyantina menunjukkan bahwa ketika kita mengatasi kesenjangan gender dan berinvestasi pada perempuan, semua pihak akan memperoleh manfaat,” kata Rajendra.
FAO memperkirakan bahwa penghapusan kesenjangan gender dapat meningkatkan produk domestik bruto global sebesar 1 triliun dolar AS dan mengurangi kerawanan pangan yang dialami 45 juta orang di seluruh dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan untuk meningkatkan kesadaran atas kontribusi mereka sekaligus mendorong kebijakan dan investasi yang lebih kuat. Perhatian itu juga diarahkan pada hambatan yang masih dihadapi perempuan, mulai dari keterbatasan akses terhadap hak atas tanah hingga layanan keuangan, teknologi, dan pendidikan.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan