Sabtu, 17 Oktober 2026 Cari

Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Reporter : Abidah
Sabtu, 17 Oktober 2026 06:00
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
Tidak sarapan jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut diduga memiliki kaitan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

DREAM.CO.ID - Melewatkan sarapan kerap dianggap sebagai kebiasaan sepele, terutama bagi orang yang terburu-buru berangkat kerja, sedang menjalani pola makan tertentu, atau memang tidak merasa lapar pada pagi hari. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tidak makan pagi secara rutin berkaitan dengan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi.

Dilansir dari Health, disebut bahwa sekitar 15 persen penduduk Amerika Serikat berusia di atas 20 tahun melewatkan sarapan pada hari tertentu. Sesekali tidak makan pagi belum tentu menjadi masalah. Akan tetapi, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut diduga memiliki kaitan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Sebuah analisis pada 2022 yang menggabungkan data sekitar 14.200 orang dewasa dari enam penelitian menemukan bahwa orang yang rutin melewatkan sarapan memiliki risiko hipertensi lebih tinggi. Temuan serupa muncul dalam sebuah poster penelitian yang dipresentasikan pada 2018. Berdasarkan data dari 14 penelitian, orang yang tidak sarapan cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi, terutama perempuan.

Meski demikian, hasil penelitian tersebut belum membuktikan bahwa melewatkan sarapan secara langsung menyebabkan tekanan darah meningkat. Temuan yang ada baru menunjukkan hubungan antara kebiasaan tersebut dan risiko hipertensi. Sebagian besar penelitian juga menilai pola makan pagi dalam jangka panjang, sehingga belum ada cukup bukti bahwa sesekali melewatkan sarapan dapat meningkatkan tekanan darah.

1 dari 2 halaman

Mengapa Melewatkan Sarapan Dikaitkan dengan Hipertensi?

Para peneliti masih berusaha memahami mekanisme yang mungkin menjelaskan hubungan tersebut. Salah satu dugaan berkaitan dengan kortisol, hormon yang membantu tubuh mengatur respons terhadap stres, metabolisme, dan tekanan darah.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa melewatkan sarapan dapat mengubah ritme normal kortisol dan untuk sementara meningkatkan kadarnya. Perubahan ini diduga dapat memengaruhi tekanan darah. Namun, mekanisme tersebut belum sepenuhnya dipahami dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Faktor lain yang mungkin berperan adalah pola makan sepanjang hari. Orang yang melewatkan sarapan bisa saja makan lebih banyak pada waktu berikutnya atau memilih makanan dengan kualitas gizi yang kurang baik. Jika kebiasaan tersebut berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, risiko hipertensi juga dapat meningkat karena obesitas merupakan salah satu faktor risiko tekanan darah tinggi.

Meski begitu, hubungan antara sarapan dan berat badan tidak selalu sederhana. Beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa melewatkan sarapan dapat berkaitan dengan penurunan berat badan. Selain itu, penelitian lain menemukan bahwa hubungan antara kebiasaan tidak sarapan dan risiko hipertensi tetap terlihat meskipun status obesitas turut diperhitungkan.

Karena itu, belum ada satu penjelasan pasti mengenai mengapa orang yang rutin melewatkan sarapan cenderung memiliki risiko tekanan darah tinggi.

2 dari 2 halaman

Pilihan Sarapan yang Lebih Ramah bagi Jantung

Bagi orang yang memiliki hipertensi, sarapan bergizi dapat menjadi bagian dari pola hidup yang mendukung kesehatan jantung. Namun, bukti bahwa sarapan secara khusus dapat membantu mengendalikan hipertensi masih perlu diperkuat. Sarapan sebaiknya dipandang sebagai bagian dari kebiasaan sehat secara keseluruhan, bukan pengganti pengobatan.

Pilihan menu pagi yang disarankan antara lain oatmeal dengan potongan buah, yogurt dengan kacang dan buah beri, telur dengan ubi jalar, serta smoothie yang dibuat dari bayam, persik beku, blueberry, susu, dan madu.

Saat memilih makanan, utamakan sumber serat, kalium, kalsium, dan magnesium. Sebaliknya, batasi makanan dengan kandungan garam atau lemak jenuh yang tinggi karena pola makan turut berperan dalam menjaga tekanan darah.

Selain memperhatikan menu sarapan, langkah yang telah dikenal membantu menjaga kesehatan jantung meliputi menerapkan pola makan bergizi, mempertahankan berat badan sehat, membatasi alkohol, menghindari rokok dan produk tembakau, serta mengonsumsi obat tekanan darah sesuai petunjuk dokter.

Orang dengan hipertensi yang ingin menjalani intermittent fasting atau puasa berkala dengan melewatkan sarapan secara rutin sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, terutama jika sedang menggunakan obat-obatan.

Pada akhirnya, melewatkan sarapan sesekali tidak otomatis menyebabkan hipertensi. Namun, jika kebiasaan tersebut menjadi bagian dari pola hidup sehari-hari, memperhatikan kualitas makanan dan faktor risiko lainnya tetap penting untuk menjaga tekanan darah dalam jangka panjang.

Beri Komentar