Jumat, 16 Oktober 2026 Cari

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Reporter : Abidah
Jumat, 16 Oktober 2026 06:00
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Penelitian terbaru menemukan bahwa burnout pada orang tua berkaitan dengan pola pengasuhan yang lebih keras, terutama di keluarga yang sudah berisiko mengalami kekerasan atau penelantaran anak.

DREAM.CO.ID - Menjadi orang tua sering disebut pengalaman paling berharga dalam hidup. Bagi orang tua baru yang merasa kewalahan dan kurang didukung, pengalaman itu juga bisa menakutkan. Dilansir dari Psychology Today, penelitian terbaru menemukan bahwa burnout pada orang tua berkaitan dengan pola pengasuhan yang lebih keras, terutama di keluarga yang sudah berisiko mengalami kekerasan atau penelantaran anak.

Katherine M. Ryan dan rekan-rekannya meneliti dampak burnout pengasuhan pada keluarga berisiko. Studi mereka terbit di jurnal Child Abuse & Neglect pada 2026. Para peneliti mendefinisikan burnout pengasuhan sebagai kelelahan, menjauhnya hubungan emosional dengan anak, dan menurunnya kemampuan mengasuh secara efektif.

Kondisi ini berbeda dari stres pengasuhan sehari-hari maupun masalah kesehatan mental orang tua. Pembedanya adalah persepsi bahwa tuntutan terlalu berat sementara sumber daya untuk menghadapinya tidak cukup.

Burnout juga sangat umum. Orang tua dari anak kecil melaporkan tingkat kelelahan emosional yang tinggi. Menurut Office of the Surgeon General Amerika Serikat (2024), sekitar sepertiga orang tua dengan anak kecil mengalami burnout pada tingkat sangat tinggi. Angka ini penting dicermati pada keluarga yang sudah menghadapi tekanan lain, karena mereka lebih rentan terhadap perilaku agresif atau pola pengasuhan yang tidak sehat.

1 dari 3 halaman

Apa yang Ditemukan pada Keluarga Berisiko

Ryan dan timnya melibatkan 140 pengasuh di Australia. Mereka dirujuk ke program dukungan pengasuhan karena kasus kekerasan atau penelantaran anak yang terbukti, atau karena kombinasi stres keluarga dan anak dengan perilaku eksternal yang menonjol, seperti agresi dan ledakan amarah. Para peserta menjelaskan gejala emosional yang mereka alami serta perilaku pengasuhan mereka, baik yang positif, seperti keterlibatan dan kehangatan, maupun yang negatif, seperti permusuhan dan pemaksaan.

Hasilnya, burnout berkaitan dengan berkurangnya perilaku pengasuhan positif dan meningkatnya perilaku negatif. Masalah kesehatan mental orang tua punya hubungan tersendiri dengan pengasuhan yang kurang positif, sedangkan perilaku eksternal anak berhubungan dengan pengasuhan yang lebih negatif. Para peneliti menyimpulkan bahwa pada keluarga berisiko, burnout berkaitan secara khusus dengan berkurangnya kehangatan dan dukungan orang tua, serta meningkatnya permusuhan dan pemaksaan terhadap anak.

2 dari 3 halaman

Lingkaran yang Saling Memperkuat

Ryan dan timnya menjelaskan bahwa sebagian keluarga lebih rentan terhadap interaksi koersif antara orang tua dan anak karena tuntutan ekstra dan keterbatasan dalam mengatasinya. Pengasuhan yang bermusuhan, tidak efektif, atau menarik diri, ditambah respons emosional yang menekan, memperkuat perilaku eksternal anak, sehingga tantrum, ledakan marah, dan agresi makin sering muncul.

Hubungannya berjalan dua arah. Burnout bisa mendorong orang tua memakai strategi yang lebih keras saat anak berperilaku mengganggu. Sebaliknya, perilaku mengganggu anak bisa memperparah burnout orang tua.

3 dari 3 halaman

Jalan Pemulihan

Orang tua yang mengaku kewalahan sering merasa lega saat tahu mereka tidak sendirian. Burnout jauh lebih umum daripada yang dikira banyak orang, dan ada banyak cara untuk meredakan perasaan negatif serta kelelahan emosional. Keluarga, teman, tetangga, dan lembaga keagamaan bisa menjadi sumber dukungan yang membantu orang tua baru menjaga keseimbangan.

Saat mendampingi orang tua yang mengalami burnout, terutama yang berisiko atau sudah terjebak pola perilaku negatif, tujuan utamanya adalah membantu mereka mengenali tanda bahaya lebih awal. Tanda-tandanya meliputi mudah marah, menyalahkan diri sendiri, merasa tidak kompeten, dan putus asa. Mengenalinya bisa mengingatkan orang tua untuk meminta bantuan, entah berupa bantuan fisik menjaga anak agar mereka bisa beristirahat, atau dukungan psikologis untuk membicarakan stres, kecemasan, dan emosi negatif lainnya.

Dengan jaringan dukungan yang baik, orang tua baru dapat memperbaiki emosi, rutinitas, dan cara berinteraksi dengan anak. Jika dibutuhkan dukungan mental atau emosional tambahan, bantuan profesional tersedia.

Beri Komentar