Kamis, 15 Oktober 2026 Cari

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Reporter : Abidah
Kamis, 15 Oktober 2026 10:00
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Menurut para peneliti, orang tua baru yang kelelahan lebih mungkin menjauh secara emosional dari anaknya dibanding orang tua yang sudah punya anak sebelumnya.

DREAM.CO.ID - Menjadi orang tua baru sering digambarkan sebagai pengalaman paling membahagiakan dalam hidup. Pada saat yang sama, ini juga salah satu pengalaman paling melelahkan. Dilansir dari Psychology Today, sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa pasangan bisa mengurangi risiko burnout pengasuhan dengan satu cara: bekerja sama sebagai tim.

Jacopo Tracchegiani dan Nicola Carone meneliti persoalan ini dalam studi yang terbit di Journal of Reproductive and Infant Psychology pada 2026. Mereka mendefinisikan burnout pengasuhan sebagai kondisi yang mencakup kelelahan ekstrem, menjauhnya hubungan emosional dengan anak, hilangnya rasa puas sebagai orang tua, dan perasaan bukan orang tua yang baik.

Dalam sebagian kasus, burnout dapat meningkatkan risiko pengasuhan yang kasar atau mengabaikan anak. Wendy L. Patrick, penulis artikel di Psychology Today yang pernah 30 tahun berkarier sebagai jaksa, mengaku pernah melihat hal itu langsung dalam pekerjaannya.

Gejala burnout paling perlu dipantau pada masa perinatal, yakni dari masa kehamilan sampai satu tahun setelah kelahiran. Menurut para peneliti, orang tua baru yang kelelahan lebih mungkin menjauh secara emosional dari anaknya dibanding orang tua yang sudah punya anak sebelumnya. Jarak itu bisa menghambat perkembangan hubungan di tahun pertama kehidupan anak. Di masa yang sama, banyak orang tua baru belum siap membagi waktu antara pekerjaan, rumah tangga, dan pengasuhan.

1 dari 3 halaman

Kerja Sama Pasangan Menurunkan Burnout

Tracchegiani dan Carone meneliti 434 orang tua baru heteroseksual. Mereka mengukur apa yang disebut parenting alliance, yaitu seberapa baik pasangan bekerja sama mengurus anak, saling mendukung dan menghormati peran masing-masing, serta berkomunikasi soal pengasuhan.

Hasilnya jelas. Makin besar kesepakatan, dukungan, dan kerja sama antara pasangan, makin rendah burnout yang dialami. Pasangan yang merasa punya kerja sama tim dan komunikasi lebih kuat juga melaporkan stres pengasuhan yang lebih rendah. Para peneliti menilai parenting alliance bisa menjadi penyangga burnout pada masa perinatal, ketika kepuasan hubungan pasangan sering tertekan.

2 dari 3 halaman

Ibu Lebih Lelah, Ayah Menilai Kerja Sama Lebih Baik

Studi ini juga menemukan perbedaan antara ibu dan ayah. Ibu melaporkan burnout yang jauh lebih tinggi daripada ayah. Penjelasannya, ibu umumnya menjadi pengasuh utama dan menanggung beban terbesar, terutama pada masa perinatal, saat tugas seperti merawat bayi di malam hari dan menyusui menuntut tenaga fisik dan emosi lebih besar. Temuan lain mendukung penjelasan ini: ayah yang menjadi pengasuh utama justru mengalami burnout lebih tinggi.

Soal kerja sama, ayah menilai parenting alliance lebih baik daripada ibu. Peneliti menduga peran ayah sebagai pengasuh kedua membuat mereka lebih bergantung pada ibu, sehingga pandangan mereka terhadap kerja sama itu lebih positif. Harapan budaya dan sosial agar ibu unggul dalam mengasuh anak juga bisa memicu rasa tidak cukup dan rasa kurang didukung, sehingga ibu menilai kerja sama pasangan lebih rendah. Ditambah turunnya kepuasan hubungan setelah melahirkan, yang lebih terasa pada ibu, semua ini berpotensi memperbesar burnout.

3 dari 3 halaman

Apa yang Bisa Dilakukan

Para peneliti menyarankan intervensi berbasis pasangan untuk menekan burnout, yaitu program yang mendorong lingkungan pengasuhan yang lebih kooperatif dan suportif. Pendekatan ini terutama penting ketika kelahiran anak pertama mengguncang arah hidup dan identitas salah satu orang tua.

Karena ibu melaporkan burnout lebih tinggi, layanan kesehatan mental yang menyasar ibu atau kelompok dukungan pascapersalinan juga dinilai bisa membantu meringankan tekanan khusus yang mereka hadapi, baik dari kehamilan maupun peran sebagai pengasuh utama bayi. Jika diperlukan, bantuan profesional tersedia.

Bagi pasangan yang baru punya anak, temuan ini menawarkan pesan sederhana. Pembagian tugas yang disepakati bersama, saling dukung, dan komunikasi terbuka soal pengasuhan bukan sekadar soal keharmonisan rumah. Semuanya bisa melindungi kesehatan mental kedua orang tua, dan pada akhirnya hubungan dengan sang anak.

Beri Komentar