Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif
Apa yang Masih Bisa Dilakukan Manusia yang Tak Bisa Dilakukan AI?
Prabowo Ramai-Ramai Dicalonkan Lagi
Ini Satu Hal Sederhana yang Ternyata Bisa Membantu Perawatan Ibu Setelah Melahirkan
Ingin Memperlambat Penuaan? Studi Ungkap Hal yang Mungkin Membantu dan yang Ternyata Tak Banyak Berpengaruh
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
© Pexels.com/Lucas Andrade
DREAM.CO.ID - Kopi memang bisa membantu mengusir kantuk dan membuat tubuh terasa lebih berenergi. Namun, ketika konsumsi kafein mulai berlebihan, efek yang muncul justru dapat mengganggu tubuh, mulai dari jantung berdebar, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga tidur yang terganggu.
Dilansir dari Health, para ahli umumnya merekomendasikan orang dewasa membatasi konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari. Namun, batas ini bukan angka yang berlaku sama untuk semua orang. Mereka yang sensitif terhadap kafein dapat mengalami gejala meski mengonsumsinya dalam jumlah lebih sedikit.
Berikut delapan tanda yang dapat muncul ketika tubuh mendapat terlalu banyak kafein.
1. Terus-Menerus Merasa Lelah
Merasa lelah sepanjang waktu mungkin terdengar berlawanan dengan kebiasaan minum kopi. Namun, terlalu banyak kafein justru dapat membuat seseorang terjebak dalam siklus kelelahan.
Kafein bekerja dengan menghambat adenosin, zat kimia yang berperan dalam munculnya rasa kantuk. Efek ini membuat seseorang merasa lebih waspada dalam waktu singkat. Masalahnya, kafein dapat bertahan cukup lama di dalam tubuh. Waktu paruhnya sekitar lima jam sehingga konsumsi kafein, terutama terlalu dekat dengan waktu tidur, dapat mengganggu kualitas tidur.
Penggunaan kafein secara rutin juga dapat meningkatkan toleransi tubuh. Akibatnya, seseorang mungkin membutuhkan lebih banyak kafein untuk memperoleh efek yang sama. Kondisi ini dapat membuat seseorang tetap merasa lesu meski sudah minum kopi seperti biasanya.
2. Jantung Berdebar atau Berdetak Lebih Cepat
Kafein merupakan stimulan yang dapat menyebabkan jantung terasa berdebar, bergetar, atau berdetak lebih kuat. Efek tersebut bisa lebih terasa pada orang yang sensitif terhadap kafein atau memiliki kecenderungan mengalami gangguan irama jantung. Meski sensasi jantung berdebar akibat kafein dapat terasa mengkhawatirkan, Health mengutip American Heart Association yang menyebut kondisi tersebut umumnya tidak berbahaya.
3. Tekanan Darah Meningkat
Kafein dapat menyebabkan tekanan darah naik untuk sementara karena menghambat adenosin. Pada orang yang tidak memiliki hipertensi dan mengonsumsi kafein kurang dari 400 miligram per hari, kenaikannya biasanya kecil.
Namun, konsumsi lebih tinggi dapat memberikan efek yang lebih besar. Sebuah penelitian pada 2024 menemukan konsumsi 400 miligram kafein setiap hari berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dari waktu ke waktu. Kenaikannya bahkan lebih besar pada orang yang mengonsumsi lebih dari 600 miligram sehari.
4. Masalah Pencernaan
Terlalu banyak kafein juga dapat memicu gangguan pada saluran pencernaan. Kafein dapat membuat sfingter esofagus bagian bawah atau lower esophageal sphincter (LES) menjadi lebih rileks. Katup ini berada di antara kerongkongan dan lambung. Ketika terlalu rileks, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Akibatnya, seseorang dapat mengalami refluks asam, lebih sering bersendawa, atau merasakan sensasi terbakar di dada dan tenggorokan.
5. Sakit Kepala
Sakit kepala juga dapat menjadi tanda konsumsi kafein yang berlebihan. Salah satu penelitian menemukan bahwa mengonsumsi tiga porsi atau lebih kafein dalam sehari berkaitan dengan meningkatnya risiko migrain pada hari yang sama atau keesokan harinya.
Para peneliti belum sepenuhnya memahami mekanisme di balik hubungan tersebut. Salah satu kemungkinan adalah pengaruh kafein terhadap pembuluh darah yang membuatnya menyempit kemudian kembali melebar.
6. Gelisah dan Cemas
Sensasi tubuh yang gelisah, gugup, atau mudah cemas juga dapat muncul setelah terlalu banyak mengonsumsi kafein. Dengan menghambat adenosin, kafein dapat meningkatkan stimulasi sistem saraf. Efek tersebut pada sebagian orang dapat terasa sebagai tubuh yang “ bergetar”, sulit tenang, atau pikiran yang lebih gelisah.
Risiko kecemasan dapat meningkat pada konsumsi kafein dalam jumlah tertentu dan menjadi lebih kuat ketika asupan melebihi 400 miligram per hari.
7. Pusing
Kafein dalam jumlah berlebihan juga dapat membuat seseorang merasa pusing atau berkunang-kunang. Pada orang yang sensitif, kafein dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah serta memengaruhi aliran darah ke otak. Kombinasi perubahan tersebut dapat membuat tubuh terasa ringan, kepala berkunang-kunang, atau bahkan terasa tidak stabil ketika berdiri.
8. Mengalami Gejala Putus Kafein Ketika Tidak Minum
Ironisnya, salah satu tanda tubuh terlalu bergantung pada kafein justru muncul ketika seseorang tidak mengonsumsinya. Semakin sering dan banyak kafein dikonsumsi, semakin besar kemungkinan tubuh mengalami gejala putus kafein ketika asupannya dihentikan secara tiba-tiba. Jika sebelumnya melewatkan kopi pagi tidak menimbulkan masalah, tetapi kini membuat tubuh terasa tidak nyaman, kebiasaan konsumsi kafein mungkin sudah cukup tinggi.
Gejalanya dapat berupa mual, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, mengantuk, dan mudah tersinggung. Gejala biasanya mulai muncul 12–24 jam setelah konsumsi kafein terakhir dan dapat membaik dalam beberapa hari. Pada sebagian orang, gejalanya bisa bertahan hingga sekitar satu minggu.
Jangan Langsung Berhenti Jika Sudah Terbiasa
Jika ingin mengurangi kafein, menguranginya secara bertahap dapat membantu mencegah gejala putus kafein yang tidak nyaman.
Salah satu cara yang disarankan ahli gizi adalah mengganti sebagian kopi dengan teh yang umumnya mengandung lebih sedikit kafein. Pilihan lain adalah mengurangi konsumsi sedikit demi sedikit, misalnya satu cangkir kopi atau minuman energi lebih sedikit setiap hari.
Pola makan juga berperan. Jika seseorang selalu membutuhkan kopi sebagai “ pendorong energi” setelah makan siang, ahli gizi menyarankan memastikan makanan tersebut mengandung cukup protein dan karbohidrat kompleks. Asupan makanan dan minuman tinggi gula tambahan juga sebaiknya dibatasi.
Dengan demikian, masalahnya bukan semata-mata apakah seseorang minum kopi atau tidak, tetapi berapa banyak kafein yang dikonsumsi dan bagaimana tubuh meresponsnya.
Advertisement

Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’

Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?

Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

Apa yang Masih Bisa Dilakukan Manusia yang Tak Bisa Dilakukan AI?
