Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Susilo Bambang Yudhoyono Dalam Talkshow Bersama Gita Wirjawan
DREAM.CO.ID - Setiap menjelang pemilihan umum, masyarakat disuguhi berbagai janji dan visi dari para calon pemimpin. Ada yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pemerataan pembangunan.
Namun, memenangkan pemilu hanyalah awal dari pekerjaan besar. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan visi yang disampaikan selama kampanye benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang bisa dirasakan masyarakat.
Lantas, bagaimana caranya agar visi seorang pemimpin tidak berhenti sebagai janji politik?
Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membagikan pengalamannya dalam perbincangan bersama Gita Wirjawan di program Endgame. Menurut SBY, salah satu kunci dalam mengelola negara adalah memahami konsep statecraft, yakni seni sekaligus ilmu dalam memimpin negara, mengelola pemerintahan, dan menjalankan pembangunan.
Ia menjelaskan, kepemimpinan nasional pada dasarnya harus diarahkan untuk mewujudkan kepentingan Indonesia dan mencapai tujuan nasional.
SBY kemudian menceritakan bagaimana visi pemerintahan menjadi landasan kerja ketika dirinya terpilih sebagai presiden pada 2004 bersama Jusuf Kalla (JK).
Saat berkampanye, keduanya menyampaikan visi mengenai arah Indonesia ke depan apabila mendapatkan mandat dari rakyat. Visi tersebut kemudian tidak berhenti sebagai materi kampanye, tetapi menjadi dasar dalam menjalankan pemerintahan selama lima tahun berikutnya.
Menurut SBY, visi presiden itu kemudian disempurnakan bersama dan dibahas dengan DPR RI serta DPD RI hingga menjadi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM).
Rencana tersebut menjadi pedoman pembangunan untuk periode lima tahun. Selanjutnya, pemerintah menyusun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) setiap tahun, yang menjadi bagian dari proses perencanaan anggaran melalui APBN.
Dengan mekanisme tersebut, visi yang awalnya disampaikan kepada masyarakat saat kampanye memiliki jalur untuk diterjemahkan menjadi agenda pemerintahan.
Artinya, janji politik membutuhkan perencanaan yang jelas, pembahasan bersama lembaga terkait, serta penganggaran agar dapat diwujudkan dalam program nyata.
Selain perencanaan, SBY juga menyoroti pentingnya kerja sama antara pemimpin politik dan teknokrat dalam menjalankan pemerintahan.
Ia mengingatkan agar peran keduanya tidak dipertentangkan. Seorang pemimpin yang dipilih rakyat memiliki visi politik yang wajib dilaksanakan. Namun, pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan para teknokrat yang memahami manajemen pemerintahan dan pembangunan.
"Politisi menunjukkan arah. Tapi ketika arah harus dijalankan, kebersamaan antara politisi dan teknokrat sangat-sangat penting," ujar SBY.
"OKeduanya perlu bekerja bersama. Sebab, dalam perjalanan menjalankan program, persoalan dan hambatan bisa saja muncul. Ketika itu terjadi, pemerintah perlu kembali melihat tujuan awal yang ingin dicapai, kepentingan yang hendak diperjuangkan, lalu mencari solusi secara bersama-sama," lanjut SBY.
Merefleksikan pengalamannya memimpin Indonesia, SBY menyebut sejumlah sasaran pembangunan periode 2004-2009 dapat dicapai, meskipun ia mengakui masih ada kekurangan dalam pelaksanaannya.
Ia juga menekankan bahwa pengelolaan negara dan pembangunan harus berpegang pada prinsip-prinsip bernegara yang benar, dengan konstitusi sebagai pedoman yang kokoh.
Dari pengalaman tersebut, ada satu pelajaran penting: visi seorang pemimpin tidak cukup hanya terdengar meyakinkan saat kampanye. Visi itu harus memiliki rencana, diterjemahkan menjadi kebijakan, didukung anggaran, dan dijalankan melalui kerja sama berbagai pihak.
Sebab, ukuran kepemimpinan bukan hanya seberapa baik seorang pemimpin menyampaikan janji, tetapi juga bagaimana janji tersebut diwujudkan menjadi pekerjaan nyata bagi masyarakat.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


WNI Diduga Tewas saat Jadi Tentara Rusia, Apakah Kewarganegaraan Indonesia Bisa Hilang?



Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin

Harga Rumah Makin Tak Terjangkau, Mengapa Terus Melonjak Dibanding Pendapatan?

Hobi Membuat Kue Ternyata Punya 7 Manfaat bagi Kesehatan, Bukan Sekadar Mengisi Waktu Luang

El Niño Diprediksi Menguat, Harga Beras Dunia Terancam Melonjak dan Jutaan Orang Bisa Terdampak