Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
© Pexels.com/Andromeda 99
DREAM.CO.ID - Beras menjadi makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk dunia. Namun, perubahan pola hujan akibat El Niño yang diperkirakan menguat pada paruh kedua 2026 berpotensi mengganggu produksi komoditas ini di sejumlah negara produsen utama sekaligus. Jika pasokan menyusut ketika kebutuhan tetap tinggi, dampaknya bukan hanya kenaikan harga pangan, melainkan juga ancaman terhadap ketahanan pangan dan stabilitas sosial.
Dalam artikel yang diterbitkan The Conversation, Vito Butardo Jr menjelaskan bahwa El Niño dapat mengubah pola curah hujan global. Sebagian wilayah Amerika dan Afrika timur cenderung mengalami hujan lebih lebat, sedangkan hujan monsun di Asia melemah. Kondisi yang lebih panas dan kering dapat melanda Asia Tenggara, India, Australia bagian timur, serta Afrika bagian selatan. Bagi pertanian padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air, perubahan tersebut menjadi ancaman serius.
Diperkirakan El Niño di kawasan Pasifik tropis akan menguat menjadi kuat atau sangat kuat pada paruh akhir tahun. Ancaman ini dinilai berpotensi lebih berat daripada kejadian El Niño 2023–2024 karena perubahan iklim turut meningkatkan suhu di tengah terganggunya pola hujan.
Berbeda dengan gandum, produksi beras dunia terkonsentrasi di Asia dan hanya sebagian kecil hasil panennya diperdagangkan di pasar internasional. India dan China menghasilkan lebih dari separuh pasokan beras dunia. Di sejumlah negara, termasuk Bangladesh, Vietnam, dan Kamboja, beras bahkan menyumbang lebih dari separuh kebutuhan kalori harian penduduk.
Ketergantungan yang besar ini membuat gangguan panen di negara produsen utama sulit diimbangi oleh peningkatan produksi dari wilayah lain. Jika beberapa negara mengalami kekeringan secara bersamaan, penurunan pasokan dapat menumpuk dan mempersempit ketersediaan beras di pasar internasional.
Dampaknya berpotensi paling berat dirasakan rumah tangga berpendapatan rendah karena mereka mengalokasikan bagian pendapatan yang lebih besar untuk membeli makanan. Ketika harga beras naik tajam, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari ikut tertekan.
Krisis beras pada 2007–2008 menjadi gambaran betapa luas dampaknya. Harga beras dunia saat itu meningkat hingga sekitar tiga kali lipat. Kerusuhan pangan terjadi di puluhan negara, sementara gejolak di Haiti turut berperan dalam jatuhnya perdana menteri negara tersebut. Pengalaman itu menunjukkan bahwa pasokan beras bukan hanya persoalan pertanian, melainkan juga berkaitan dengan stabilitas sosial dan politik.
Salah satu persoalan utama dalam menghadapi El Niño adalah kebutuhan air tanaman padi. Sebagian besar varietas padi berproduktivitas tinggi dikembangkan untuk ditanam di sawah yang tergenang. Air membantu menekan pertumbuhan gulma, mendukung pembungaan dan perkembangan bulir, serta menjaga suhu tanaman tetap lebih sejuk.
Sekitar tiga perempat produksi beras dunia berasal dari sawah dataran rendah yang menggunakan irigasi. Sistem ini membantu petani menghadapi curah hujan yang tidak merata pada tahun-tahun normal. Namun, irigasi tetap bergantung pada sumber air seperti sungai, waduk, dan lelehan salju yang ketersediaannya dapat terpengaruh perubahan pola iklim.
Australia memberikan contoh kerentanan tersebut. Kawasan Riverina di New South Wales dikenal menghasilkan beras dengan penggunaan air yang efisien. Meski demikian, pertanian beras di wilayah itu harus bersaing mendapatkan air dengan perkebunan permanen, seperti almond, yang membutuhkan penyiraman secara teratur. Dalam kondisi kekeringan terburuk, produksi beras Australia pernah turun hingga sebagian kecil dari tingkat normal.
Sementara itu, padi gogo atau padi yang dapat tumbuh di lahan kering membutuhkan lebih sedikit air, tetapi umumnya menghasilkan panen lebih rendah. Karena itu, peneliti berupaya memindahkan sifat toleran kekeringan dari padi gogo ke varietas padi sawah yang lebih banyak dibudidayakan petani.
Risiko El Niño tidak berhenti pada penurunan hasil panen. Pasar beras dunia juga rentan terhadap gangguan karena sebagian besar beras yang diproduksi suatu negara dikonsumsi di dalam negeri. Ekspor umumnya kurang dari 10 persen produksi, sehingga gangguan di beberapa negara eksportir besar dapat dengan cepat memengaruhi harga internasional.
India menjadi contoh bagaimana kebijakan perdagangan dapat memperbesar atau meredakan tekanan harga. Pada 2023, negara tersebut membatasi ekspor sejumlah jenis beras untuk melindungi pasokan dan harga domestik. Kebijakan itu turut mendorong kenaikan harga beras dunia. Namun, situasinya berubah pada 2026. Setelah stok beras India mencapai rekor tertinggi dan pembatasan ekspor dilonggarkan, peningkatan ekspor membantu meredakan harga.
Kondisi yang lebih stabil itu belum tentu bertahan jika El Niño kuat menyebabkan gagal panen di beberapa kawasan sekaligus. Negara produsen dapat kembali membatasi ekspor untuk mengutamakan kebutuhan domestik, sementara negara pengimpor mungkin meningkatkan pembelian untuk mengamankan persediaan. Jika banyak negara melakukan langkah serupa secara bersamaan, tekanan terhadap harga dapat semakin besar.
Negara yang bergantung pada impor beras, termasuk Filipina dan sejumlah negara di Afrika Barat, berpotensi menghadapi risiko besar ketika pasokan global mengetat. Kenaikan harga akan semakin sulit diatasi jika biaya produksi pertanian juga meningkat. Artikel tersebut mencatat bahwa harga pupuk pada 2026 turut melonjak akibat perang Iran dan gangguan di Selat Hormuz, sehingga petani menghadapi tekanan biaya di tengah ketidakpastian cuaca.
Sejumlah petani telah berupaya menyesuaikan jadwal tanam untuk menghadapi ancaman El Niño. Di Indonesia, petani didorong mempercepat penanaman agar tanaman dapat memanfaatkan ketersediaan air sebelum kondisi semakin kering. Petani di negara lain juga mencoba beradaptasi dengan perubahan musim dan meningkatnya biaya produksi.
Penelitian dan pengembangan varietas padi menjadi salah satu langkah penting untuk jangka panjang. Setelah melalui ribuan tahun seleksi dan budidaya, padi liar yang awalnya memiliki bulir kecil telah berkembang menjadi tanaman pangan dengan hasil panen jauh lebih tinggi. Pengembangan berikutnya diarahkan untuk menghasilkan varietas yang lebih tahan terhadap tekanan iklim dan mampu menggunakan air secara lebih efisien.
Dalam penelitian terbaru yang dikutip Butardo, sejumlah varietas padi menunjukkan kemampuan menghemat air tanpa penurunan hasil panen maupun kualitas yang terlihat jelas, bahkan ketika persediaan air terbatas. Meski demikian, pengelolaan air tetap perlu dilakukan secara hati-hati. Air yang menggenangi sawah juga membantu melindungi tanaman dari suhu ekstrem. Jika jumlahnya dikurangi terlalu banyak, bunga padi pada tahap yang rentan dapat mengalami kerusakan akibat perubahan suhu.
Petani juga dapat menghemat air dengan membiarkan sawah mengering di antara waktu pengairan atau menyesuaikan pemberian air pada tahap tertentu dalam pertumbuhan tanaman. Keberhasilan metode tersebut bergantung pada kondisi setempat dan kebutuhan tanaman.
Di luar lahan pertanian, kesiapan menghadapi El Niño membutuhkan prakiraan cuaca yang lebih baik, investasi penelitian berkelanjutan, serta kerja sama antarnegara produsen beras. Menjaga perdagangan tetap terbuka ketika pasokan terganggu juga penting untuk mencegah pembatasan ekspor dan aksi pembelian panik yang dapat memperburuk krisis.
El Niño tidak serta-merta berarti krisis beras akan terjadi. Namun, ketika produksi terkonsentrasi di kawasan yang sama-sama menghadapi ancaman kekeringan, risiko gangguan pasokan menjadi nyata. Kemampuan negara-negara produsen beradaptasi dengan perubahan iklim dan bekerja sama menjaga perdagangan akan ikut menentukan apakah ancaman cuaca ekstrem dapat dikelola tanpa memicu krisis pangan yang lebih luas.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Penelitian Ungkap Protein Bisa Bantu Membersihkan Sisa Sel dan Kurangi Tanda Peradangan

Mengapa Tempat Sepi seperti Lorong Kosong Bisa Terasa Menyeramkan? Ini Penjelasan Psikologinya


Bagaimana Harga Emas Ditentukan? Apakah Harganya Sama di Seluruh Dunia?

Sering Bikin Lelah secara Emosional? Kenali 8 Tanda Anda Berhadapan dengan Energy Vampire

Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin
