Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
© Pexels.com/Towfiqu Barbhuiya
DREAM.CO.ID - Pemanis cair Beeru Stevia, yang dipasarkan untuk orang yang ingin mengurangi gula termasuk penderita diabetes, menjadi sorotan. Hasil uji laboratorium mandiri yang dibagikan influencer Dokter Detektif (Doktif) menunjukkan adanya sukralosa dan neotam, dua pemanis buatan yang disebut tidak tercantum pada komposisi. Beeru menghentikan sementara penjualan, sementara BPOM masih menguji sampel.
Polemik bermula pada Rabu (28/10/2026), saat Doktif mempertanyakan klaim nol kalori produk tersebut. Dokumen uji yang ia tampilkan mencatat karbohidrat 47,21 persen, energi 188,84 kilokalori per 100 gram, sukralosa 101.297,89 mg/L, dan neotam 5.280,99 mg/L. Doktif menyebut kadar kedua pemanis itu 40 hingga 50 kali di atas aturan BPOM dan meminta BPOM memeriksa pabrik pembuatnya.
Klarifikasi Beeru dan Sikap Regulator
Beeru Indonesia menyatakan menanggapi kabar itu dengan serius dan sedang menelusurinya, serta meminta maaf atas kekhawatiran konsumen. Perusahaan menjelaskan produknya dibuat bersama “mitra manufaktur yang menangani formulasi, pengadaan bahan baku, dan proses produksi.” Beeru menegaskan tetap bertanggung jawab sebagai pemilik merek, menghentikan sementara penjualan sampai verifikasi selesai, dan berjanji menyampaikan perkembangan terbaru. Hasil uji laboratorium yang dikerjakan Beeru sendiri diperkirakan keluar sekitar tujuh hari kerja.
Mitra produksinya, CV M3 OIL, ikut bicara. Perusahaan itu mengaku sudah mengirim 150 botol sampel produksi ke dua laboratorium terakreditasi dan mempertanyakan sampel yang beredar karena tidak disertai asal pembelian dan nomor batch. Sebagai pembanding, mereka melampirkan hasil uji tertanggal 7 Januari 2026 dengan total gula 5,54 persen, sukrosa 5,03 persen, karbohidrat 46,67 persen, dan energi 187,88 kkal per 100 gram. Dengan takaran 0,05 mililiter, energi per sajian dihitung 0,094 kkal, yang menurut perusahaan bisa dibulatkan menjadi nol.
BPOM belum menyimpulkan apa pun karena masih melakukan pengambilan sampel dan pengujian. Kementerian Kesehatan juga menunggu hasil BPOM sebelum menyimpulkan ada tidaknya bahaya kesehatan. Soal pelanggaran, penilaiannya perlu memperhatikan kategori pangan, bentuk produk, dan takaran penggunaan.
Dikutip dari akun Threads-nya, dokter umum dan Certified Health Coach, dr. Dion Haryadi, yang mengaku sudah lama memakai produk ini, ikut menanggapi hasil uji tersebut. Menurutnya, angka karbohidrat harus dilihat dari jumlah yang dikonsumsi, bukan sekadar persentase di laporan. Dengan asumsi satu tetes sekitar 0,05 mililiter, karbohidrat 47 persen setara sekitar 0,02 gram per tetes, atau sekitar 0,08 kkal. “Ini angka yang kecil banget dan pastinya nggak bisa naikin gula darah kalian,” ujarnya.
Ia juga menghitung bahwa satu tetes mengandung sekitar 5 mg sukralosa dan 0,2 mg neotam, jauh di bawah batas asupan harian yang dapat diterima (ADI) sebesar 15 mg dan 2 mg per kilogram berat badan. Namun, angka ADI hanyalah acuan asupan harian, bukan izin mengabaikan komposisi produk.
Yang membuat dr. Dion kecewa justru soal transparansi. Jika hasil uji terbukti sesuai isi produk, ia menilai persoalannya adalah “mereka bohong soal kandungan produk mereka.”
Sukralosa dan neotam termasuk pemanis nonnutritif yang nyaris tidak mengandung karbohidrat sendiri. American Diabetes Association mendukung penggunaan pemanis semacam itu secara moderat dan jangka pendek untuk menggantikan produk bergula. Dokter spesialis gizi klinik Octavianus Kevin menyebut keduanya aman dikonsumsi harian selama di bawah ADI, yakni 900 mg sukralosa dan 120 mg neotam untuk orang berbobot 60 kilogram. Sukralosa sekitar 600 kali lebih manis dari gula pasir, dan produk yang mengandungnya tidak otomatis sehat.
Risiko pertama bagi penderita diabetes ada pada label. Produk berlabel bebas gula bisa mengandung karbohidrat lain, sehingga label gizi perlu dicek. Bagi yang menghitung karbohidrat atau menakar dosis insulin, selisih antara klaim “nol kalori” dan isi sebenarnya bisa berarti. Sebagai ilustrasi, dengan angka uji yang beredar dan asumsi 1 gram per mililiter seperti dipakai CV M3 OIL, satu sendok teh (5 mililiter) setara sekitar 2,4 gram karbohidrat. Angkanya kecil untuk pemakaian beberapa tetes, tapi tidak nol bagi yang memakainya dalam jumlah besar.
Risiko kedua menyangkut dampak jangka panjang. WHO pada 2023 menyarankan tidak memakai pemanis nonsugar untuk mengendalikan berat badan atau menurunkan risiko penyakit tidak menular, dan menyebut pemakaian jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan kematian pada orang dewasa. Namun rekomendasi itu tidak berlaku bagi orang yang sudah mengidap diabetes, karena penilaian efek pemanis pada pengelolaan diabetes berada di luar cakupan pedoman. Jadi tidak ada putusan WHO khusus untuk penderita diabetes.
Risiko ketiga adalah keterbukaan. Bahan yang tidak tercantum membuat konsumen tidak bisa menghitung total asupan pemanis dari berbagai produk, juga tidak bisa memilih dengan informasi lengkap.
Penderita diabetes yang memakai produk ini sebaiknya memantau gula darahnya dan berkonsultasi dengan dokter. Kemenkes meminta konsumen membaca komposisi dan informasi nilai gizi, bukan hanya percaya klaim di kemasan, dan menganjurkan konsumsi gula maksimal 50 gram atau empat sendok makan per hari. Dari sisi perlindungan konsumen, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menyatakan pembeli berhak menuntut ganti rugi bila kandungan terbukti tidak sesuai label
Hasil uji BPOM akan menentukan apakah dugaan ini terbukti. Sampai saat itu, yang pasti baru satu hal: ada selisih antara klaim pada kemasan dan angka dalam laporan laboratorium, dan selisih itu perlu dijelaskan.
Advertisement


Anak Terlihat Dewasa dan Selalu Mengalah? Waspadai Parentifikasi yang Bisa Berdampak hingga Dewasa

Ramai Isu Putus Kabel RI–Singapura: Kenapa Internet Dunia Belum Bisa Pindah ke Satelit?

Prancis dan Italia Diguncang Demo Besar-besaran, Apa yang Membuat Warga Turun ke Jalan?

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?