Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
© FreCha, CC BY-SA 4.0, Via Wikimedia Commons
DREAM.CO.ID - Ribuan pelajar memblokir pintu sekolah, pekerja turun ke jalan, dan demonstrasi meluas dari pusat kota hingga berbagai wilayah lain. Di Prancis dan Italia, gelombang protes sepanjang Oktober 2026 memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi sehari-hari dapat berkembang menjadi ketidakpuasan yang lebih luas terhadap pemerintah. Harga bahan bakar meningkat, biaya hidup menekan rumah tangga, sementara generasi muda mempertanyakan masa depan pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal mereka.
Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, lebih dari 400.000 orang berunjuk rasa di berbagai wilayah Prancis menurut Kementerian Dalam Negeri negara tersebut. Serikat pekerja CGT memperkirakan jumlah peserta mendekati 800.000 orang. Di Italia, demonstrasi juga kembali berlangsung di kota-kota besar, termasuk Roma, Turin, Bologna, dan Milan. Sejumlah aksi di Italia diwarnai bentrokan dengan polisi, sementara demonstrasi di Milan pada hari itu sebagian besar berlangsung damai.
Meski terjadi pada waktu berdekatan, demonstrasi di kedua negara bukanlah satu gerakan yang dikendalikan oleh organisasi yang sama. Akar masalahnya juga tidak sepenuhnya identik.
Di Prancis, protes bermula dari persoalan kekurangan tenaga pengajar dan anggaran pendidikan, lalu bergabung dengan kemarahan atas mahalnya biaya hidup dan melemahnya layanan publik. Di Italia, pelajar, guru, petani, pengemudi truk, dan kelompok pekerja menyuarakan persoalan upah, harga bahan bakar, biaya tempat tinggal, serta kebijakan pemerintah.
Apa yang sebenarnya terjadi di kedua negara tersebut, dan mengapa persoalan yang awalnya terlihat berbeda akhirnya memunculkan gelombang kemarahan di jalanan?
Gelombang demonstrasi di Prancis mulai berkembang pada September 2026, ketika pelajar, guru, dan orang tua murid di Créteil, kawasan di tenggara Paris, memprotes kekurangan tenaga pengajar dan sumber daya sekolah. Mereka mengeluhkan kelas yang terlalu padat, bangunan sekolah yang memburuk, serta terbatasnya perlengkapan belajar, termasuk buku dan fasilitas dasar.
Aksi yang awalnya berlangsung di lingkungan sekolah kemudian meluas ke berbagai kota. Pelajar sekolah menengah dan mahasiswa menuntut perbaikan fasilitas pendidikan, penambahan guru, dan peningkatan pendanaan. Sebagian mahasiswa juga menyoroti terbatasnya kesempatan masuk perguruan tinggi serta meminta perubahan pada sistem seleksi penerimaan mahasiswa yang dikenal sebagai Parcoursup.
Dalam perkembangan berikutnya, demonstrasi tersebut bertemu dengan keresahan kelompok masyarakat lain. Gerakan yang tersisa dari Yellow Vests atau rompi kuning kembali mengangkat persoalan kenaikan biaya hidup, terutama harga bahan bakar. Gerakan ini sebelumnya dikenal melalui demonstrasi sejak 2018 yang bermula dari penolakan terhadap kebijakan pajak bahan bakar dan kemudian berkembang menjadi protes yang lebih luas mengenai ketimpangan ekonomi.
Pada Oktober 2026, kenaikan harga energi kembali memperburuk tekanan rumah tangga. Associated Press melaporkan bahwa harga energi di Prancis pada September 2026 tercatat 21,3 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara inflasi keseluruhan mencapai 3,1 persen menurut badan statistik nasional INSEE. Bagi pekerja yang bergantung pada kendaraan untuk pergi bekerja, harga bahan bakar yang meningkat dapat langsung mengurangi pendapatan yang tersisa setelah kebutuhan transportasi dibayar.
Kondisi tersebut membuat tuntutan demonstran tidak lagi terbatas pada sekolah. Keluarga, pekerja, mahasiswa, dan kelompok yang mengkhawatirkan ketimpangan ikut menyuarakan persoalan masing-masing. Dalam istilah politik Prancis, pertemuan beberapa gerakan dengan tuntutan berbeda ini dikenal sebagai convergence des luttes, yaitu konvergensi perjuangan.
Persoalan ekonomi Prancis juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah membiayai layanan publik. Pemerintah menghadapi tekanan untuk mengendalikan utang dan defisit anggaran, sementara demonstran meminta lebih banyak sumber daya untuk pendidikan serta perlindungan terhadap kenaikan biaya hidup.
Di sinilah muncul persoalan yang tidak mudah diselesaikan. Ketika pemerintah berusaha menghemat anggaran, sekolah dan layanan publik dapat menghadapi keterbatasan sumber daya. Sebaliknya, apabila pemerintah memperbesar belanja untuk memenuhi tuntutan masyarakat, pembiayaan tambahan perlu dicari atau dialokasikan kembali dari pos lainnya.
Pada 26 Oktober 2026, pemerintah Prancis mengumumkan sejumlah langkah untuk merespons protes pendidikan. Usulan itu mencakup pembatasan jumlah murid pada kelas tertentu menjadi maksimal 28 orang, pinjaman bernilai miliaran euro untuk renovasi bangunan, serta perubahan pada sistem penerimaan mahasiswa. Menteri Anggaran David Amiel mengatakan paket langkah tersebut diperkirakan membutuhkan biaya sekitar 5 miliar euro yang akan diimbangi dengan penghematan di pos lain.
Namun, serikat guru SNES-FSU menilai langkah tersebut belum cukup. Mereka meminta lebih banyak tenaga pengajar direkrut dan lebih banyak kelas mendapatkan pembatasan jumlah murid. Pemimpin pelajar juga menyatakan demonstrasi akan terus berlanjut pada 31 Oktober dan 5 November 2026.
Situasi ini memperlihatkan bahwa kemarahan masyarakat tidak selalu bisa diredakan dengan pengumuman kebijakan baru. Demonstran ingin melihat perubahan nyata yang mereka rasakan di sekolah, pekerjaan, dan pengeluaran rumah tangga.
Di Italia, demonstrasi pada Oktober juga didorong oleh tekanan ekonomi sehari-hari. Pelajar, guru, petani, dan pengemudi truk turut terlibat dalam gelombang protes yang menyoroti kondisi sekolah, upah yang stagnan, serta kenaikan harga bahan bakar.
Kelompok pelajar menyebut aksi mereka sebagai “No Meloni Day”, merujuk pada Perdana Menteri Giorgia Meloni. Mereka memprotes berbagai persoalan, termasuk krisis iklim dan biaya sewa rumah yang semakin sulit dijangkau. Bagi generasi muda, persoalan tersebut saling berkaitan: pendidikan yang tidak memadai dapat membatasi peluang kerja, sedangkan upah yang tidak mengikuti kenaikan biaya hidup membuat mereka semakin sulit hidup mandiri.
Masalah perumahan menjadi salah satu sumber ketidakpuasan. Di kota-kota besar, kenaikan biaya sewa menekan mahasiswa dan pekerja muda yang harus tinggal dekat kampus atau tempat kerja. Ketika penghasilan tidak bertambah sebanding dengan biaya tempat tinggal, ruang untuk memenuhi kebutuhan lainnya semakin sempit.
Pengemudi truk juga memprotes harga bahan bakar yang tinggi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bekerja di sektor transportasi. Jika biaya pengiriman meningkat, pelaku usaha dapat menghadapi kenaikan biaya operasional, yang pada gilirannya berpotensi diteruskan ke harga barang. Pada sejumlah wilayah Italia selatan, blokade pengemudi truk bahkan mengganggu distribusi hasil segar ke supermarket dan menyebabkan pabrik pasta kekurangan pasokan tepung.
Demonstrasi di Italia juga membawa isu politik dan geopolitik, termasuk penolakan terhadap perang. Pada 17 Oktober, misalnya, aksi di Milan yang menentang perang dan kenaikan biaya hidup awalnya berlangsung damai, sebelum sebagian peserta terlibat bentrokan dengan polisi. Pada 24 Oktober, demonstrasi kembali digelar dengan pengamanan ketat di sejumlah kota. Reuters melaporkan adanya bentrokan di Turin, Roma, dan Bologna, tetapi tidak menemukan penjarahan atau perusakan properti dalam pemantauan demonstrasi hari itu.
Kesamaan yang terlihat di Prancis dan Italia bukan berarti seluruh warga Eropa sedang mengikuti satu gerakan yang sama. Kedua negara memiliki persoalan politik dan kebijakan publik yang berbeda. Namun, tekanan ekonomi dapat menjadi titik temu bagi kelompok yang sebelumnya tidak memiliki tuntutan serupa.
Harga bahan bakar, misalnya, memengaruhi pekerja yang bepergian menggunakan kendaraan, petani yang mengoperasikan mesin, dan perusahaan yang bergantung pada distribusi barang. Kenaikan biaya energi juga dapat menambah tekanan pada biaya produksi dan pengeluaran rumah tangga.
Bagi pelajar dan mahasiswa, persoalan biaya hidup berkelindan dengan ketidakpastian masa depan. Mereka tidak hanya mempertanyakan kualitas pendidikan, tetapi juga apakah pendidikan tersebut akan memberi akses ke pekerjaan yang layak, upah memadai, dan tempat tinggal yang terjangkau.
Menurut analisis yang dikutip Al Jazeera pada 17 Oktober 2026, gelombang protes di beberapa negara Eropa berlangsung sebagai aksi-aksi terpisah, bukan gerakan tunggal. Meski demikian, para demonstran memiliki sejumlah keluhan yang sama: pendanaan pendidikan yang dianggap tidak memadai, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian prospek kerja bagi generasi muda. (Al Jazeera).
Media sosial turut membantu penyebaran informasi dan menghubungkan kelompok yang memiliki keluhan serupa. Gambar demonstrasi di satu negara dapat menginspirasi kelompok lain untuk mengorganisasi aksi. Namun, penyebaran inspirasi tidak otomatis berarti koordinasi formal ataupun kesamaan agenda politik.
Advertisement

Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, Apa Penyebabnya? Bukan Sekadar Soal Pasokan Energi

Benarkah Otot Bisa Berubah Menjadi Lemak Jika Berhenti Olahraga? Ini Penjelasan Ahli

Pawang Hujan Bisa Mendatangkan atau Mengusir Hujan? Ini Jawaban Sains


Ramai Isu Putus Kabel RI–Singapura: Kenapa Internet Dunia Belum Bisa Pindah ke Satelit?

Anak Terlihat Dewasa dan Selalu Mengalah? Waspadai Parentifikasi yang Bisa Berdampak hingga Dewasa
