Selasa, 27 Oktober 2026 Cari

Danantara Itu Apa Sih? Kenali Superholding dan Negara yang Sudah Duluan Mencobanya

Reporter : Abidah
Selasa, 27 Oktober 2026 06:00
Danantara Itu Apa Sih? Kenali Superholding dan Negara yang Sudah Duluan Mencobanya
Indonesia bukan negara pertama yang mencoba mengonsolidasikan pengelolaan aset negara. Singapura memiliki Temasek Holdings, Malaysia mempunyai Khazanah Nasional.

DREAM.CO.ID - Nama Danantara makin sering muncul di berita, dari pasar saham yang sedang goyang sampai pinjaman miliaran dolar. Wajar kalau kamu bertanya lembaga apa ini dan kenapa semua orang membicarakannya. Singkatnya, Danantara adalah super holding BUMN. Ide serupa sudah dicoba beberapa negara tetangga, dengan hasil yang tidak sama.

Istilah superholding mungkin terdengar seperti jargon ekonomi yang hanya relevan bagi pejabat atau investor besar. Padahal, cara negara mengelola perusahaan miliknya dapat berdampak pada banyak hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kualitas layanan transportasi, efisiensi energi, pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, hingga besarnya dividen yang dapat diterima negara.

Indonesia bukan negara pertama yang mencoba mengonsolidasikan pengelolaan aset negara. Singapura memiliki Temasek Holdings, Malaysia mempunyai Khazanah Nasional, sedangkan Arab Saudi mengembangkan Public Investment Fund (PIF) sebagai instrumen investasi untuk mendorong transformasi ekonomi. Ketiganya menawarkan pelajaran yang menarik, meskipun struktur, tujuan, dan kewenangannya tidak sepenuhnya sama.

Lantas, apa sebenarnya superholding, apa manfaatnya, dan apakah model seperti ini otomatis membuat perusahaan negara lebih menguntungkan?

1 dari 3 halaman

Apa Itu Superholding dan Mengapa Negara Membutuhkannya?

Sederhananya, holding company atau perusahaan induk merupakan perusahaan yang memiliki atau mengendalikan kepemilikan di perusahaan lain. Perusahaan induk dapat menentukan arah strategis, mengelola portofolio investasi, dan mengawasi kinerja perusahaan-perusahaan yang berada di bawahnya.

Dalam konteks BUMN, konsep superholding berarti pengelolaan kepemilikan dan strategi sejumlah perusahaan negara ditempatkan dalam struktur induk yang lebih terkoordinasi. Tujuannya bukan sekadar menyatukan nama atau logo perusahaan, melainkan mengoptimalkan aset, memperbaiki kinerja, dan mengalokasikan modal dengan pendekatan yang lebih strategis.

Indonesia telah membentuk Danantara melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025. Menurut penjelasan resmi Danantara mengenai ekosistem kelembagaannya, lembaga ini dirancang untuk mengelola aset dan investasi strategis negara secara lebih terpadu. Ekosistemnya mencakup Danantara Asset Management, yang berfokus pada pengembangan kinerja BUMN, serta Danantara Investment Management, yang berinvestasi pada sektor-sektor prioritas nasional.

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan sebuah grup bisnis besar yang memiliki bank, perusahaan listrik, perusahaan telekomunikasi, dan perusahaan konstruksi. Jika masing-masing bergerak tanpa koordinasi memadai, peluang kerja sama atau penghematan biaya mungkin terlewat. Sebaliknya, jika strategi investasinya disusun secara terpadu, grup tersebut bisa memetakan kebutuhan modal, mengoptimalkan aset, dan membangun proyek lintas sektor.

Tentu, negara bukan perusahaan biasa. Pemerintah tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga harus memastikan layanan publik tetap berjalan, lapangan kerja terjaga, dan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Karena itu, superholding negara perlu menyeimbangkan tujuan komersial dengan kepentingan publik.

2 dari 3 halaman

Belajar dari Singapura: Temasek dan Konsistensi Investasi Jangka Panjang

Salah satu contoh yang paling sering disebut dalam pembahasan superholding adalah Temasek Holdings di Singapura. Didirikan pada 1974, Temasek merupakan perusahaan investasi yang sepenuhnya dimiliki Menteri Keuangan Singapura. Perusahaan ini memiliki dan mengelola portofolionya sendiri, dengan tujuan menghasilkan keuntungan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Salah satu karakter penting Temasek adalah pemisahan antara kepemilikan negara dan keputusan investasi sehari-hari. Dalam penjelasan tata kelolanya, Temasek menyatakan bahwa strategi dan keputusan investasinya tidak diarahkan langsung oleh pemerintah atau presiden, dengan pengecualian tertentu terkait perlindungan cadangan negara. Artinya, pemerintah berperan sebagai pemilik, tetapi pengelolaan bisnis dituntut berjalan secara profesional.

Model ini tidak membuat Temasek kebal dari risiko investasi. Nilai aset tetap bisa turun ketika pasar sedang lesu. Namun, skala portofolio dan orientasi jangka panjang memberinya ruang untuk melakukan investasi dan divestasi berdasarkan strategi bisnis, bukan semata-mata kebutuhan anggaran tahunan.

Dalam laporan yang diumumkan pada Juli 2026, Temasek mencatat nilai portofolio bersih sebesar 518 miliar dolar Singapura berdasarkan penilaian mark-to-market per 31 Maret 2026. Perusahaan itu juga melaporkan total shareholder return tahunan sebesar 7,1 persen untuk periode sepuluh tahun dan 6,8 persen untuk periode dua puluh tahun. Angka tersebut menggambarkan kinerja jangka panjang berdasarkan ukuran yang digunakan Temasek, bukan jaminan bahwa setiap investasi selalu untung.

Malaysia dan Khazanah: Keuntungan Tetap Harus Punya Manfaat Publik

Contoh lain datang dari Malaysia melalui Khazanah Nasional. Lembaga investasi milik pemerintah Malaysia ini mengelola portofolio investasi dengan tujuan meningkatkan kekayaan jangka panjang negara sekaligus mendukung agenda ekonomi nasional.

Dalam laporan tahunannya, Khazanah menyebut nilai aset bersih portofolio keseluruhan mencapai 105 miliar ringgit Malaysia pada akhir 2025, sedangkan total asetnya mencapai 156 miliar ringgit. Portofolio investasinya menghasilkan tingkat pengembalian 5,2 persen pada 2025, dengan rata-rata pengembalian tahunan selama tujuh tahun sebesar 6,1 persen. Khazanah juga menyatakan telah membayarkan dividen 2 miliar ringgit kepada pemerintah Malaysia untuk tahun tersebut.

Arab Saudi: Dana Investasi untuk Mengubah Struktur Ekonomi

Arab Saudi menawarkan pendekatan berbeda melalui Public Investment Fund atau PIF. Berbeda dari Temasek yang dikenal sebagai perusahaan investasi dengan portofolio kepemilikan, PIF merupakan dana investasi negara yang menjadi salah satu instrumen utama program transformasi ekonomi Arab Saudi, terutama untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.

Dalam laporan tahun 2025 yang diterbitkan pada Agustus 2026, PIF menyatakan aset kelolaannya telah melampaui 900 miliar dolar AS. Lembaga tersebut juga melaporkan laba bersih 17 miliar dolar AS pada 2025 dan kontribusi kumulatif lebih dari 342 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto riil nonminyak Arab Saudi selama 2021–2025. Angka kontribusi ekonomi tersebut merupakan klaim yang dilaporkan PIF dalam evaluasi programnya dan tidak berarti seluruhnya merupakan keuntungan tunai yang masuk ke kas pemerintah.

3 dari 3 halaman

Jadi, Apakah Danantara Bisa Meniru Keberhasilan Negara Lain?

Jawabannya bergantung pada bagaimana Danantara menjalankan mandatnya dalam jangka panjang. Temasek, Khazanah, dan PIF bukan cetak biru yang dapat disalin begitu saja. Ketiganya berkembang berdasarkan struktur ekonomi, hukum, sumber pendanaan, serta tujuan pembangunan negara masing-masing.

Danantara sendiri juga masih berada dalam tahap pengembangan. Pada Oktober 2026, misalnya, lembaga ini mengumumkan penyelesaian akuisisi hotel dengan 1.461 kamar serta lahan seluas 4,4 hektare di Makkah sebagai bagian dari rencana pengembangan ekosistem layanan haji dan umrah. Investasi ini memperlihatkan cakupan kegiatannya, tetapi manfaat ekonominya tetap harus dinilai melalui kelayakan proyek, pengelolaan aset, dan hasil jangka panjang.

Bagi masyarakat, indikator keberhasilan Danantara seharusnya tidak berhenti pada nilai aset yang besar, banyaknya proyek, atau jumlah perjanjian investasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah BUMN menjadi lebih efisien, apakah modal negara menghasilkan manfaat yang sebanding dengan risikonya, apakah layanan publik membaik, dan apakah keuntungan dikelola secara transparan.

Danantara dapat menjadi alat untuk membuat pengelolaan kekayaan negara lebih strategis. Namun, alat yang kuat juga membutuhkan aturan main yang kuat. Jika Danantara mampu menggabungkan kemampuan investasi profesional, tata kelola yang transparan, dan orientasi pada kepentingan publik, pengelolaan aset negara berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Jika tidak, konsolidasi hanya akan memusatkan aset dan kewenangan tanpa menjamin hasil yang lebih baik bagi masyarakat.

Beri Komentar