Kamis, 15 Oktober 2026 Cari

Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?

Reporter : Kojiro Hyu
Kamis, 15 Oktober 2026 15:51
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Gita Wirjawan suatu saat mungkin Indonesia akan bangga jika CEO Mircosoft namanya Wahyu Ningsih, atau CEO Google yang namanya Bambang.

 

DREAM.CO.ID - Pernah membayangkan orang Indonesia menjadi CEO perusahaan teknologi global seperti Microsoft atau Google? Bukan mustahil. Namun, menurut Gita Wirjawan, Indonesia masih punya pekerjaan besar untuk memastikan talenta terbaiknya bisa berkembang dan berkontribusi bagi negara.

Dalam podcast Endgame episode 281, Gita membahas bagaimana sejumlah negara membangun kekuatan ekonominya dengan memanfaatkan talenta dari dalam maupun luar negeri. Jepang, Australia, China, dan India punya pendekatan berbeda. Indonesia pun perlu belajar dari mereka.

Apakah bisa Indonesia melakukannya?

 

1 dari 4 halaman

Jepang, Australia, China, dan India Punya Strategi Berbeda

Jepang, Australia, China, dan India Punya Strategi Berbeda © Strategi Talenta Global - Dream.co.id/image by AI

Jepang mengandalkan talenta lokal untuk membangun industrinya, termasuk setelah Perang Dunia II. Strategi tersebut mengantarkan Jepang menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Meski kini berada di peringkat kelima, Jepang masih masuk jajaran ekonomi teratas.

Australia mengambil pendekatan berbeda dengan brain gain, yakni membuka pintu bagi talenta dari berbagai negara untuk membantu mengembangkan perekonomian. Mereka datang, bekerja, dan membawa keahlian yang dibutuhkan Australia.

China menjalankan brain circulation. Sejak 1978, negara ini telah mengirim lebih dari 9 juta talenta ke berbagai negara untuk belajar, terutama di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Setelah memperoleh pengetahuan dan pengalaman, banyak dari mereka kembali untuk memperkuat industri China.

Sementara itu, India mengembangkan brain linkage. Negara ini memiliki diaspora talenta yang besar di berbagai belahan dunia. Banyak di antara mereka memilih membangun karier di luar negeri, tetapi tetap terhubung dengan perkembangan ekonomi global.

Sejumlah profesional keturunan India bahkan memimpin perusahaan besar dunia. Leena Nair memimpin Chanel, Satya Nadella menjadi CEO Microsoft, dan Sundar Pichai memimpin Google.

2 dari 4 halaman

Indonesia Tertinggal dalam Mengirim Talenta ke Luar Negeri

Indonesia Tertinggal dalam Mengirim Talenta ke Luar Negeri © Diaspora Talenta di Balik Perjalanan Global - Dream.co.id/image by AI

Menurut Gita, Indonesia masih tertinggal dalam membangun jaringan talenta global. Ia memperkirakan diaspora Indonesia selama sekitar 50 tahun terakhir berjumlah sekitar 250.000 orang. Angka tersebut jauh di bawah jumlah talenta yang dikirim China dan India.

" China bisa sampai ngirim 9 juta talenta, India kirim 7 juta, meskipun nggak balik lagi ke negaranya. Nah kita di Indonesia 250.000. Ini kan jauh banget. Sulit untuk melimpahkan wisdom balik untuk Indonesia mencapai keemasan," ujar Gita.

Menurutnya, Indonesia perlu menggabungkan strategi brain gain dan brain circulation.

Melalui brain gain, Indonesia perlu membuka kesempatan bagi talenta terbaik dunia untuk datang dan membantu mengembangkan berbagai sektor. Sementara itu, melalui brain circulation, anak-anak muda Indonesia perlu mendapat kesempatan belajar dan bekerja di luar negeri, lalu membawa pulang pengetahuan serta pengalaman mereka.

Gita menilai, mendatangkan talenta berpengalaman juga bisa menjadi cara untuk mempercepat transfer pengetahuan tanpa harus selalu mengirim banyak orang ke luar negeri.

Namun, persoalannya bukan sekadar bagaimana mengirim orang pintar ke luar negeri atau mendatangkan tenaga ahli dari negara lain. Indonesia juga harus memastikan bahwa orang-orang yang sudah belajar bisa mengembangkan kemampuannya ketika kembali.

3 dari 4 halaman

Sudah Belajar di Luar Negeri, tetapi Sulit Berkembang di Indonesia

Sudah Belajar di Luar Negeri, tetapi Sulit Berkembang di Indonesia © Harapan vs Realita - Dream.co.id/image by AI

Romo Agustinus Setyo Wibowo, pemimpin redaksi majalah Basis sekaligus dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, menilai Indonesia sebenarnya sudah menjalankan strategi brain circulation, salah satunya melalui beasiswa LPDP.

Masalahnya, talenta yang kembali ke Indonesia belum tentu menemukan lingkungan yang mendukung kemampuan mereka.

Menurut Romo Setyo, fasilitas yang terbatas, gaji yang tidak sebanding dengan kesempatan di luar negeri, hingga politik feodal di dunia kerja dapat menghambat perkembangan mereka.

" Brain circulation saya setuju. Tapi, kita juga harus memperbaiki ekosistem kampus. Ekosistem kementerian kita. Supaya orang-orang yang sudah belajar susah-susah ini kepakai. Jangan sampai ketika sudah kembali ke Indonesia malah lemes semua," ujarnya.

Ia bahkan mengaku menyarankan sejumlah anak muda yang belajar dan berkarier di luar negeri untuk tidak buru-buru pulang.

" Saya bilang, kalau mau pulang jangan sekarang. Situasinya nggak baik, masa mau gaji kecil? Mending kumpulkan uang dulu yang banyak di sana, kalau sudah dirasa cukup, baru balik ke Indonesia."

Bagi Romo Setyo, persoalan ini menunjukkan bahwa mengirim talenta ke luar negeri saja tidak cukup. Indonesia perlu membenahi ekosistem pendidikan dan dunia kerja agar kemampuan yang mereka bangun benar-benar bisa dimanfaatkan.

4 dari 4 halaman

Modal Indonesia: Talenta yang Ingin Pulang

Modal Indonesia: Talenta yang Ingin Pulang © Talenta Indonesia saat pulang ke Indonesia - Dream.co.id/image by AI

Meski menghadapi berbagai persoalan, Romo Setyo melihat satu modal penting yang dimiliki Indonesia: kecintaan masyarakat terhadap Tanah Air.

Ia menilai banyak orang Indonesia yang tetap ingin pulang setelah belajar atau bekerja di luar negeri, meskipun kondisi di dalam negeri belum tentu menawarkan kesempatan yang lebih baik.

" Para pemimpin sudah punya masyarakat yang sangat loyal dengan negara. Mbok ya diperbaiki ekosistemnya supaya kita itu bisa berjuang dengan lebih baik," katanya.

Gita pun menutup pembahasan dengan sebuah gambaran yang menggelitik. Ia membayangkan pemimpin Indonesia suatu hari akan bangga jika CEO Microsoft bernama Wahyu Ningsih dan CEO Google yang berkantor di Mountain View bernama Bambang.

Candaan itu menyimpan pertanyaan serius: apakah Indonesia mampu menciptakan lingkungan yang membuat talenta terbaiknya tumbuh menjadi pemimpin kelas dunia?

Sebab, untuk melahirkan CEO seperti Wahyu Ningsih atau Bambang, Indonesia bukan hanya membutuhkan orang pintar. Indonesia juga membutuhkan ekosistem yang memungkinkan mereka belajar, berkembang, dan menghasilkan karya terbaiknya.

Beri Komentar