Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Wisuda, Inovasi, Dan Kota Masa Depan - Image By AI
DREAM.CO.ID - Banyaknya sarjana tidak otomatis membuat sebuah negara memiliki tenaga ahli yang dibutuhkan industri. Persoalan inilah yang disoroti Guru Besar Astrofisika dan Kosmologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana Wardayanti Premadi, dalam podcast Endgame Gita Wirjawan.
" Saya pikir perlu dipertanyakan. Banyak sekali universitas di Indonesia bermunculan, apa yang jadi motivasinya? Tapi saya khawatir lebih ke urusan komersial. Perguruan tinggi semestinya mempersiapkan orang-orang yang diperlukan di industri. Sepertinya di Indonesia tidak begitu. Menciptakan sarjana macem-macem ya, dan akhirnya industrialisasi gelar. Ini menyedihkan sebetulnya."
Menurut Premana, pendidikan tinggi seharusnya tidak sekadar menghasilkan lulusan, tetapi juga mempersiapkan sumber daya manusia sesuai kebutuhan industri. Lantas, apa yang dimaksud dengan industrialisasi gelar?
Dalam konteks pernyataan Premana, industrialisasi gelar merujuk pada kondisi ketika produksi lulusan dan kepentingan komersial lebih diutamakan daripada kualitas pendidikan serta kompetensi yang dibutuhkan industri.
Masalahnya bukan sekadar semakin banyak orang kuliah. Perluasan akses pendidikan justru penting. Persoalan muncul ketika gelar menjadi tujuan utama, sementara penguasaan ilmu dan kesiapan kerja tidak mendapat perhatian yang sepadan.
Premana menilai, bidang yang dibutuhkan industri juga berisiko kurang dikembangkan jika dianggap tidak cukup menguntungkan.
" Menurut saya, keperluan-keperluan ini dianggap tidak cukup menguntungkan. Nah, kalau nggak mikir jangka panjang, ya begini jadinya. Jadi mikirnya apa yang segera diuangkan aja gitu. Akhirnya tidak tersedianya orang-orang yang diperlukan nggak ada atau terbatas. Makanya STEM di Indonesia begini-begini saja."
STEM merupakan singkatan dari science, technology, engineering, dan mathematics, yakni sains, teknologi, teknik, dan matematika. Bidang ini penting untuk mengembangkan teknologi, industri manufaktur, energi, hingga kecerdasan buatan.
Jika pendidikan tidak mempersiapkan keahlian yang dibutuhkan, jumlah sarjana yang besar belum tentu menjamin tersedianya tenaga ahli. Meski demikian, kesenjangan tersebut juga bisa dipengaruhi kurikulum, fasilitas riset, dan kebutuhan industri yang terus berubah.
Besarnya jumlah lulusan STEM bisa menjadi salah satu gambaran kapasitas sumber daya manusia suatu negara. Namun, jumlah tersebut perlu dilihat bersama kualitas pendidikan dan kemampuan industri menyerap keahlian mereka.
Berdasarkan sumber World Population Review dan Center for Security and Emerging Technology (CSET) Georgetown University memperkirakan China menghasilkan sekitar 3,57 juta lulusan STEM pada 2020, India 2,55 juta, dan Amerika Serikat 820 ribu. Indonesia tercatat menghasilkan sekitar 300 ribu lulusan STEM pada tahun yang sama.
Angka tersebut merupakan estimasi dengan definisi bidang STEM tertentu, bukan gambaran kondisi terkini. Jumlah lulusan saja juga belum cukup untuk menentukan apakah suatu negara telah memiliki tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan industrinya.
Indikator lain yang bisa dilihat adalah aktivitas pengajuan paten. Menurut World Intellectual Property Organization (WIPO), China menerima sekitar 1,8 juta permohonan paten invensi pada 2024.
Angka ini menunjukkan besarnya aktivitas pengajuan perlindungan atas invensi, tetapi bukan berarti seluruhnya merupakan inovasi berkualitas tinggi atau telah berhasil dikomersialkan.
Pendidikan, riset, dan industri perlu saling terhubung agar pengetahuan tidak berhenti sebagai teori atau gelar, tetapi dapat dikembangkan menjadi teknologi dan produk yang bermanfaat.
Jika jumlah lulusan tidak diimbangi kualitas dan relevansi pendidikan, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan.
Kesenjangan tenaga kerja. Industri membutuhkan keahlian tertentu, tetapi tidak selalu mudah menemukan lulusan dengan kompetensi yang sesuai.
Pengembangan teknologi terhambat. Kurangnya tenaga ahli di bidang strategis dapat membatasi kemampuan Indonesia mengembangkan teknologi dan memperkuat industrinya.
Gelar tidak cukup menggambarkan kemampuan. Ijazah menunjukkan seseorang telah menempuh pendidikan formal, tetapi kompetensi tetap perlu dilihat dari pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai.
Investasi pendidikan kurang optimal. Waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk kuliah bisa tidak memberikan manfaat yang diharapkan jika kompetensi lulusan tidak relevan dengan kebutuhan pekerjaan.
Namun, bukan berarti semakin banyak sarjana merupakan masalah. Pendidikan tinggi tetap penting untuk memperluas pengetahuan dan membuka kesempatan bagi masyarakat. Tantangannya adalah memastikan peningkatan jumlah lulusan berjalan bersama peningkatan kualitas.
Kekhawatiran Premana membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pendidikan tinggi Indonesia sudah mempersiapkan orang-orang yang dibutuhkan untuk membangun industri dan mengembangkan teknologi?
Perguruan tinggi perlu menjaga kualitas pembelajaran dan mempersiapkan kompetensi yang relevan. Industri juga perlu terlibat dalam pengembangan keahlian, sementara pemerintah perlu memperhatikan kebutuhan strategis yang tidak selalu menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek.
Pada akhirnya, persoalannya bukan berapa banyak sarjana yang dihasilkan, melainkan apa yang bisa mereka lakukan dengan ilmu yang diperoleh.
Sebab, gelar bisa menjadi bukti seseorang telah menempuh pendidikan. Namun, kemampuan untuk berpikir, memecahkan masalah, dan menciptakan sesuatu tetap harus dibangun melalui proses belajar.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya