Selasa, 27 Oktober 2026 Cari

Memahami Skor PISA dan Hubungannya dengan Kualitas Pendidikan Indonesia, Benarkah Kita Lebih Bodoh Dibanding Negara Lain?

Reporter : Abidah
Selasa, 27 Oktober 2026 08:00
Memahami Skor PISA dan Hubungannya dengan Kualitas Pendidikan Indonesia, Benarkah Kita Lebih Bodoh Dibanding Negara Lain?
Hasil PISA terbaru yang diumumkan 8 September 2026 mengungkap skor Indonesia nyaris tidak bergerak dibanding 2022, dan masih di bawah capaian 2015.

DREAM.CO.ID - Setiap membahas mengenai hasil pendidikan Indonesia, beberapa hal yang selalu disoroti adalah terkait kegagalan siswa yang hingga SMP masih belum bisa membaca dengan benar atau kesulitan berhitung yang tampak dalam berbagai konten. Ketika hal itu terjadi, satu hal yang biasa disangkutpautkan adalah terkait skor PISA dari Indonesia yang dianggap rendah.

Hasil PISA terbaru keluar 8 September 2026. Ringkasannya: skor Indonesia nyaris tidak bergerak dibanding 2022, dan masih di bawah capaian 2015.

Apa Itu PISA?

PISA singkatan dari Programme for International Student Assessment. OECD, organisasi kerja sama ekonomi negara-negara maju, menggelar tes ini untuk remaja usia 15 tahun. Soalnya menguji kemampuan memakai pengetahuan, misalnya memecahkan masalah rumit, berpikir kritis, dan berkomunikasi dengan efektif. Tujuannya melihat apakah sistem pendidikan sebuah negara menyiapkan anak untuk tantangan hidup nyata.

Skalanya besar. Edisi 2025 melibatkan lebih dari 760.000 siswa di 91 negara dan ekonomi. Dari Indonesia, ada 14.168 siswa dari 419 sekolah. Mereka mewakili hampir 4 juta remaja 15 tahun, sekitar 90 persen dari seluruh populasi seusia. Tiap siswa mengerjakan tes dua jam untuk dua mata pelajaran, lalu mengisi kuesioner sekitar 35 menit tentang diri, rumah, dan pengalaman sekolah mereka. Tahun ini sains jadi fokus utama, dengan matematika dan membaca sebagai pendamping, plus penilaian pemecahan masalah komputasional.

1 dari 4 halaman

Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Skor Indonesia

Hasil nilai PISA 2025 sendiri bisa dibaca secara jelas. Skor rata-rata siswa Indonesia 389 di sains, 364 di matematika, dan 365 di membaca, sementara rata-rata OECD 482, 463, dan 461. Angka rata-rata ini mungkin terasa abstrak untuk dipahami, untuk memudahkan pembacaan, penting untuk membaca levelnya.

Level 2 adalah batas kemampuan minimum, misalnya membandingkan jarak dua rute atau mengonversi harga ke mata uang lain. Hanya 37 persen siswa Indonesia mencapai level itu di sains (rata-rata OECD 74 persen), 17 persen di matematika (rata-rata OECD 65 persen), dan 27 persen di membaca (rata-rata OECD 69 persen). Singapura, sebagai pembanding, punya 89 persen siswa di Level 2 ke atas untuk matematika. Skor rata-rata mereka 560 di sains, 563 di matematika, dan 535 di membaca.

Tren juga tidak membantu. Skor 2025 hampir sama dengan 2022 dan masih di bawah 2015. Sejak 2015, porsi siswa berkemampuan rendah naik 14 poin persentase di matematika, 18 poin di membaca, dan 7 poin di sains. Jadi pertanyaan “apakah kita tertinggal” terjawab: ya, dan cukup jauh.

2 dari 4 halaman

Rendah Tidak Sama dengan Bodoh

Bodoh berarti kapasitas bawaan lebih rendah, dan PISA tidak mengukur itu. Tes ini memotret apa yang dikuasai siswa setelah sembilan tahun lebih bersekolah dalam kondisi tertentu. Hasilnya menggambarkan sistem dan lingkungan, bukan kualitas otak sebuah bangsa.

Buktinya ada di data sosial-ekonomi. Sebanyak 47 persen siswa Indonesia berada di kuartil sosial-ekonomi terbawah secara internasional, kelompok dengan skor sains rata-rata 375. Padahal OECD mencatat siswa berlatar ekonomi serupa di B-S-J-Z (China) dan Türkiye mencetak skor jauh lebih tinggi. Anak dari keluarga yang sama-sama kurang mampu bisa mencapai hasil berbeda, tergantung sekolah dan sistem di sekitarnya.

Pola di dalam negeri juga menarik. Selisih skor sains antara siswa paling mampu dan paling tidak mampu di Indonesia 47 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yang 85 poin. Status ekonomi menjelaskan 9 persen variasi skor, sedangkan di OECD 12 persen. Angka kecil ini tidak berarti sekolah sudah menyamaratakan kesempatan. Lebih masuk akal dibaca bahwa hampir semua siswa, kaya atau miskin, berangkat dari skor rendah yang mirip. Meski begitu, 15 persen siswa termiskin berhasil masuk kuartil teratas sains di negaranya, lebih tinggi dari rata-rata OECD yang 12 persen. Anak-anak ini membuktikan potensinya ada.

Konteks global ikut penting. PISA 2025 mencatat rata-rata OECD terendah sepanjang sejarah di sains, membaca, dan matematika. Dari 2022 ke 2025, rata-rata OECD turun sekitar 14 poin di membaca dan 9 poin di matematika. Perubahan skor Indonesia dalam periode yang sama kecil dan tidak signifikan secara statistik: naik 6 poin di sains, turun 2 di matematika, naik 7 di membaca. Indonesia datar saat banyak negara maju justru merosot. Itu bukan prestasi, tapi juga bukan tanda kemunduran kecerdasan.

3 dari 4 halaman

Semangat Anak-Anaknya Tinggi, Sistemnya yang Kurang Ideal

Data sikap belajar menambah gambaran. Sebanyak 80 persen siswa Indonesia mengaku penasaran pada banyak hal (OECD 73 persen), 74 persen berusaha lebih keras saat tugas makin sulit (OECD 60 persen), dan hanya 9 persen menganggap sekolah buang-buang waktu (OECD 24 persen). Sembilan dari sepuluh siswa berani bertanya ke guru dan teman saat tidak paham. Satu catatan: OECD mengingatkan angka sikap berasal dari laporan siswa sendiri, sehingga perbandingan antarnegara bisa dipengaruhi budaya menjawab survei. Tetap saja, tidak ada sinyal anak-anak ini malas.

Guru pun bukan sumber masalah utama menurut data. Hanya 18 persen siswa bersekolah di tempat yang kepala sekolahnya mengeluh kekurangan guru (OECD 39 persen). Sebanyak 82 persen siswa mengatakan guru peduli pada belajar setiap murid (OECD 69 persen), dan 85 persen menyebut guru terus mengajar sampai siswa paham (OECD 66 persen).

Yang bermasalah justru fasilitas dan dukungan di sekitar kelas. Sebanyak 37 persen siswa bersekolah di tempat yang kekurangan buku, perangkat IT, atau bahan laboratorium, dan 39 persen di sekolah dengan infrastruktur fisik terbatas, naik dari 33 persen pada 2022. Dukungan orang tua menurun: siswa yang ditanya soal kegiatan sekolah tiap pekan turun dari 57 persen ke 48 persen, dan yang berdiskusi soal masalah sekolah turun dari 48 persen ke 36 persen. Perundungan naik ke 24 persen siswa (OECD 20 persen), dan korban perundungan siber, 7 persen siswa, kehilangan rata-rata 18 poin sains.

Hanya 30 persen siswa Indonesia yang percaya kecerdasan bisa dilatih lewat usaha dan umpan balik, jauh di bawah rata-rata OECD yang 69 persen. Setelah memperhitungkan latar sosial-ekonomi, siswa dengan keyakinan ini mencetak skor sains 17 poin lebih tinggi. Hubungan ini belum tentu sebab-akibat, tapi polanya jelas, keyakinan bahwa pintar itu bawaan lahir berjalan beriringan dengan skor lebih rendah. Meyakini “kita memang bodoh” bisa jadi bagian dari masalah, bukan penjelasannya.

4 dari 4 halaman

Jadi, Bagaimana Menyikapi Skor Ini?

Skor PISA Indonesia menunjukkan kemampuan dasar siswa kita jauh di bawah kebutuhan. Itu temuan yang perlu dihadapi, terutama karena hanya 27 persen siswa mampu membaca di level minimum, padahal membaca fondasi semua pelajaran lain. Tapi data yang sama menunjukkan penyebabnya ada di sistem dan lingkungan belajar, bukan di kapasitas anak-anaknya.

Ada tiga kebiasaan sederhana saat membaca berita PISA berikutnya. Lihat persentase siswa di Level 2, bukan hanya peringkat. Lihat tren dan konteks, karena rata-rata dunia pun sedang turun. Dan hati-hati dengan label “bodoh”, karena siswa kita sebenarnya tidak dalam posisi yang ideal. Pembenahan yang masuk akal ada di fasilitas sekolah, penguatan literasi dasar, keterlibatan keluarga, dan cara guru membangun keyakinan bahwa kemampuan bisa dilatih. Anak-anak Indonesia sudah datang ke sekolah dengan rasa ingin tahu. Yang kurang adalah sistem yang mengimbanginya.

Beri Komentar