4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Eksperimen Tata Surya Di Kelas - Imgae By AI
DREAM.CO.ID - Sains berperan penting dalam perkembangan teknologi dan kemajuan suatu negara. Namun, bagaimana masyarakat bisa tertarik pada sains jika pengetahuan ilmiah terasa jauh dari kehidupan sehari-hari?
Persoalan ini dibahas Gita Wirjawan bersama Guru Besar Astrofisika dan Kosmologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Premana Wardayanti Premadi, dalam podcast Endgame episode 280.
Menurut Gita, sains semakin terpisah dari opini publik. Pengetahuan yang berkembang di lingkungan akademik belum tentu sampai kepada masyarakat luas.
" Sains semakin bercerai dari opini publik dan masyarakat. Administrasi publik juga semakin cerai dari opini publik. Saya agak bingung, saya punya banyak kenalan guru besar, profesor di universitas di banyak negara. Mereka itu puas ketika bukunya hanya terjual 50-200 kopi. Sedangkan ada 8 Miliar manusia di bumi," ungkap Gita Wirjawan.
Gita ingin pengetahuan yang dimiliki para profesor bisa menjangkau lebih banyak orang. Salah satu caranya adalah membuat sains lebih mudah diakses dan dipahami masyarakat.
Lantas, bagaimana cara membuat sains lebih dekat dengan publik?
Premana, yang akrab disapa Nana, menceritakan bahwa kecintaannya pada kosmologi tumbuh salah satunya berkat buku sains populer karya fisikawan Stephen Weinberg, The First Three Minutes.
Buku tersebut membahas tiga menit pertama evolusi alam semesta. Meski mengangkat topik yang kompleks, sains populer berusaha menjelaskan gagasan ilmiah agar dapat dipahami pembaca yang bukan ahli.
" Saya sendiri mencintai kosmologi, salah satunya karena membaca buku sains populer dan mungkin menjadi pioneer, yaitu bukunya Stephen Weinberg berjudul The First Three Minutes. Di buku itu dijelaskan bagaimana 3 menit pertama evolusi semesta. Weinberg membuat buku itu dengan maksud bahwa sains itu untuk semua orang agar tahu."
Bagi Nana, saintis perlu kembali pada semangat tersebut. Pengetahuan tidak cukup hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga perlu dikomunikasikan dengan bahasa yang bisa dipahami masyarakat.
" Saya rasa para saintis harus kembali ke situ. Kalau Anda tidak bisa menjelaskan apa yang muncul di sains itu kepada khalayak ramai yang tidak paham sains, maka Anda harus pertanyakan seberapa paham Anda sebenarnya tentang sains," ujar Nana sambil tertawa.
Membuat sains lebih populer bukan semata-mata tugas masyarakat yang ingin belajar. Para saintis juga memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan pengetahuan dengan cara yang lebih mudah dipahami.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pendidikan sains di sekolah terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.
Nana mencontohkan perdebatan tentang status Pluto pada 2006. Ketika Pluto tidak lagi dikategorikan sebagai planet utama, banyak guru bertanya kepadanya karena buku pelajaran yang mereka gunakan masih mencantumkan sembilan planet.
" Saya ingat betul, tahun 2006. Ada keributan yang sangat besar, institusi astronomi dunia mengambil keputusan bahwa Pluto tidak lagi dianggap sebagai planet mayor. Saya diserbu pertanyaan dari guru banyak sekali. Pluto ke mana? Nah, guru-guru ini concern. Karena di buku teks jelas tertulis ada 9 planet termasuk Pluto."
Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya hubungan antara perguruan tinggi dan guru sekolah. Perkembangan sains perlu diterjemahkan ke dalam pembelajaran agar guru dapat menyampaikan pengetahuan yang relevan kepada murid.
Nana menilai, kedekatan antara akademisi dan guru perlu dijaga karena guru berperan penting dalam mempersiapkan generasi berikutnya.
Ia juga menilai guru perlu mendapat ruang untuk mengembangkan pengetahuan dan berpikir kritis. Guru bukan sekadar penyampai materi dalam buku teks, melainkan sosok yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu murid.
" Kalau mereka dianggap saintis dan mereka punya hak dan develop, itu akan mengaktifkan modal yang mereka punya. Jadi bukan memberikan pengajaran by text book. Melainkan lebih mendalami itu. Seperti bagaimana kita hadir untuk guru-guru dan menjadikan mereka lebih kritis. Di situlah akan membuat anak-anak bisa bertanya karena gurunya memulai kelas dengan percakapan tentang hal-hal menarik," ungkap Nana.
Meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap sains membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Saintis perlu menyampaikan pengetahuan dengan bahasa yang mudah dipahami, perguruan tinggi perlu menjalin hubungan dengan guru, dan sekolah perlu memberi ruang bagi murid untuk bertanya serta berpikir kritis.
Bagi Gita, persoalan ini merupakan tanggung jawab bersama.
" Kita semua salah. Saya tidak melihat bagaimana kita bisa mengubah ini menjadi lebih baik. Selama puluhan tahun begini."
Sains akan sulit menarik perhatian jika hanya berkembang di ruang akademik tanpa dikomunikasikan kepada masyarakat. Karena itu, tantangannya bukan hanya menemukan hal baru, tetapi juga membuat lebih banyak orang memahami mengapa pengetahuan tersebut penting bagi kehidupan mereka.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
