Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
© Gemini Generated Image
DREAM.CO.ID - Seseorang yang membawa bekal makan siang ke kantor, memilih naik transportasi umum, memperbaiki barang yang rusak daripada membeli yang baru, atau berpikir dua kali sebelum membeli kopi seharga puluhan ribu rupiah sering dianggap sedang berhemat secara berlebihan. Di media sosial, kebiasaan seperti ini kerap dikaitkan dengan frugal living. Namun, ada satu hal yang sering luput dari pembahasan: apakah seseorang sengaja mengatur pengeluaran untuk mencapai tujuan keuangan atau memang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhannya?
Keduanya sekilas bisa terlihat serupa. Sama-sama mengurangi belanja, menunda pembelian barang, dan mempertimbangkan pengeluaran sehari-hari. Namun, frugal living dan hidup pas-pasan memiliki perbedaan mendasar, terutama dalam hal kondisi keuangan, pilihan, dan tujuan.
Frugal living merupakan gaya hidup yang menekankan pengelolaan uang secara sadar. Seseorang berusaha menggunakan sumber daya yang dimiliki secara efisien, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mengalokasikan uang sesuai prioritas. Tujuannya bukan semata-mata mengeluarkan uang sesedikit mungkin, melainkan memastikan setiap pengeluaran memberikan manfaat yang sepadan.
Sebaliknya, hidup pas-pasan lebih menggambarkan kondisi ketika pendapatan hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, bahkan terkadang tidak mencukupi seluruh kebutuhan tersebut. Pengeluaran harus dibatasi bukan selalu karena seseorang sedang menyusun strategi keuangan, melainkan karena kemampuan ekonominya memang terbatas.
Riset konsumen mendefinisikan frugality dengan cukup jelas. Rumusan yang paling sering dikutip berasal dari Lastovicka dan kawan-kawan pada 1999. Frugality adalah sifat gaya hidup konsumen yang dicirikan oleh sejauh mana seseorang membatasi pembelian dan memakai barang dengan cermat demi tujuan jangka panjang. Intinya pengambilan keputusan yang disengaja, mencari nilai, membatasi konsumsi, dan mengatur diri sendiri, terlepas dari kondisi ekonomi atau status keuangan.
Kalimat terakhir itu penting. Perilaku frugal bersifat sukarela, disengaja, dan proaktif, dan tidak melulu terikat pada keadaan finansial. Seseorang bergaji besar bisa frugal. Seseorang berpenghasilan kecil belum tentu frugal, karena pengeluarannya mungkin ditentukan keadaan, bukan keputusan. Seorang peneliti membedakannya begini: konsumen yang terpaksa membatasi belanja tidak punya banyak pilihan, sedangkan konsumen frugal yang termotivasi dari dalam harus melatih pengendalian diri agar menabung alih-alih berbelanja.
Hidup pas-pasan adalah kondisi saat pemasukan nyaris tidak cukup untuk kebutuhan. Orangnya tidak memilih hemat. Pengeluarannya ditentukan tagihan, cicilan, dan harga kebutuhan, dan sisa uang untuk menabung hampir tidak ada.
Frugal punya arah. Seorang pakar etika bisnis menulis bahwa motivasi adalah kunci frugality, dan tanpa tujuan, kehati-hatian dalam mengeluarkan uang kehilangan makna. Orang frugal memangkas pengeluaran yang tidak penting supaya bisa membayar yang penting: dana pensiun, uang muka rumah, atau liburan yang benar-benar diinginkan. Riset menemukan konsumen frugal cenderung kurang impulsif dan lebih disiplin dalam membelanjakan uang.
Rasa di baliknya juga berlawanan. Dalam riset psikologi tentang tightwad dan spendthrift, para peneliti memisahkan orang frugal dari orang pelit. Orang frugal terdorong oleh kenikmatan menabung, sedangkan tightwad menolak membelanjakan uang karena merasakan sakit saat membayar.
Tightwad bahkan berbelanja lebih sedikit daripada yang sebenarnya mereka inginkan, dan tetap merasa sakit ketika membeli hal yang mereka hargai. Satu temuan menarik: perbedaan pendapatan menjelaskan sangat sedikit perbedaan utang dan tabungan antara tightwad dan spendthrift. Jadi sikap terhadap uang ikut menentukan, tidak sekadar besar gajinya.
Ini menghasilkan tiga tipe yang sering tertukar. Orang frugal menghemat dengan sadar dan merasa lega. Orang pelit menghemat karena takut dan merasa tersiksa. Orang pas-pasan menghemat karena terpaksa dan tidak punya pilihan lain. Dari kejauhan, ketiganya sama-sama terlihat jarang jajan.
Garis antara frugal dan merugikan diri sendiri juga tipis. Frugality bisa bergeser menjadi minimalisme, kesederhanaan sukarela, atau bahkan kekurangan. Menghemat sampai tidak mengizinkan diri menikmati apa pun sudah bukan frugal lagi.
Perbedaan terbesar justru ada di kepala. Pada 2013, peneliti Anandi Mani, Sendhil Mullainathan, Eldar Shafir, dan Jiaying Zhao menerbitkan studi di Science tentang dampak kekurangan uang pada kemampuan berpikir. Ketika partisipan miskin diminta memikirkan masalah keuangan, performa kognitif mereka menurun, sedangkan partisipan berkecukupan tidak terpengaruh.
Dalam studi kedua, petani yang sama tampil lebih buruk pada tes kognitif sebelum panen, saat uang tipis, dibanding sesudah panen. Penurunan itu tidak bisa dijelaskan oleh waktu, gizi, usaha kerja, atau stres. Dampak kekhawatiran finansial itu setara penurunan 13 poin IQ, atau kehilangan tidur semalam penuh.
Penjelasan para peneliti: kelangkaan menghabiskan “bandwidth mental” yang seharusnya dipakai untuk urusan lain. Pesannya sama sekali bukan bahwa orang miskin kurang pintar. Hasil studi menunjukkan orang yang hidup dengan anggaran ketat dibatasi kapasitas berpikirnya oleh tekanan menyambung hidup. Penelitian sebelumnya dari kelompok yang sama juga menunjukkan orang miskin lebih mungkin melakukan hal yang memperkuat kemiskinan, seperti berutang berlebihan.
Konsekuensinya praktis. Orang frugal membuat keputusan keuangan dengan kepala yang relatif lapang. Orang yang pas-pasan memutuskan sambil menghitung apakah gaji cukup sampai tanggal berikutnya, dan keputusan di bawah tekanan seperti itu cenderung lebih buruk. Menyuruhnya “hemat saja” adalah nasihat yang mengabaikan keadaannya.
Empat pertanyaan bisa membantu. Apakah ada pilihan, atau pengeluaran ditentukan keadaan? Apakah ada tujuan di balik penghematan? Apakah masih ada ruang napas berupa dana darurat dan sisa uang di akhir bulan? Dan bagaimana rasanya saat membeli sesuatu yang kamu inginkan, lega atau menyakitkan?
Kalau jawabannya mengarah ke pas-pasan, tips frugal seperti mengurangi jajan kopi biasanya tidak cukup. Persoalannya sering di sisi pemasukan, utang, atau jaring pengaman, dan itu butuh langkah yang berbeda dari sekadar menahan belanja.
Kalau jawabannya mengarah ke frugal, peringatan kecilnya ada di sisi sebaliknya: jangan biarkan hemat berubah jadi rasa takut berbelanja. Uang yang dihemat bermakna kalau akhirnya dipakai untuk hidup yang kamu pilih.
Advertisement


Anak Terlihat Dewasa dan Selalu Mengalah? Waspadai Parentifikasi yang Bisa Berdampak hingga Dewasa

Ramai Isu Putus Kabel RI–Singapura: Kenapa Internet Dunia Belum Bisa Pindah ke Satelit?

Prancis dan Italia Diguncang Demo Besar-besaran, Apa yang Membuat Warga Turun ke Jalan?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

LEPAS Warnai Jakarta Fashion Week 2027, Kenalkan Leopard Aesthetics lewat Otomotif dan Fashion