Ingin Memperlambat Penuaan? Studi Ungkap Hal yang Mungkin Membantu dan yang Ternyata Tak Banyak Berpengaruh
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’
Pertamina Hulu Energi Akuisisi PI 3 WK di Kaltim, Salah Satunya di Lokasi Temuan Cadangan Gas Raksasa Tahun 2023
Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran
Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah
© Pexels.com/Jonathan Borba
DREAM.CO.ID - Bagi seorang ibu, masa setelah melahirkan sering kali dipenuhi kebutuhan bayi yang membuat kesehatan dirinya sendiri berada di urutan belakang. Situasi ini menjadi semakin sulit ketika seorang ibu harus berhadapan dengan masalah transportasi, tidak memiliki pengasuhan anak, kesulitan memahami informasi medis, hingga sistem layanan kesehatan yang rumit.
Studi terbaru dari Northwestern Medicine menunjukkan bahwa satu intervensi sederhana berupa patient navigator atau pendamping pasien dapat membantu mengatasi hambatan tersebut sekaligus membuat ibu lebih terhubung dengan layanan kesehatan setelah melahirkan.
Penelitian yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026 di JAMA Health Forum menemukan bahwa ibu yang didampingi patient navigator jauh lebih mungkin mendapatkan pemeriksaan pascapersalinan, skrining depresi, layanan pencegahan, hingga kunjungan ke layanan kesehatan primer satu tahun setelah melahirkan.
Studi ini melibatkan 405 perempuan hamil yang mendapatkan perawatan di Prentice Women's Hospital, Chicago, antara 2020 dan 2024. Peserta yang mendapatkan pendamping mulai bekerja dengan navigator menjelang akhir kehamilan dan terus mendapatkan bantuan selama satu tahun setelah melahirkan.
Para navigator yang dapat berbahasa Inggris dan Spanyol tidak hanya mengingatkan pasien agar datang ke dokter. Mereka membantu menyusun rencana perawatan pascapersalinan, menjadwalkan dan bahkan mendampingi janji temu, mengatur transportasi dan pengasuhan anak, berkomunikasi dengan dokter serta perawat, dan membantu pasien memahami informasi medis yang rumit.
Hasilnya terlihat cukup jelas. Sebanyak 96% pasien yang didampingi navigator menghadiri kunjungan pascapersalinan, dibandingkan 80% pada kelompok yang menerima perawatan pascapersalinan biasa. Sebanyak 86% juga mendapatkan skrining dan perawatan depresi pascapersalinan, dibandingkan 72% pada kelompok pembanding.
Perbedaannya bahkan terlihat setelah masa pascapersalinan awal berlalu. Satu tahun setelah melahirkan, 57% pasien yang mendapat bantuan navigator menghadiri kunjungan layanan kesehatan primer, hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok tanpa navigator yang mencapai 30%.
Pasien yang didampingi juga lebih mungkin menggunakan metode keluarga berencana yang mereka inginkan, yakni 65% dibandingkan 43%. Pemeriksaan kesehatan preventif pun lebih sering dilakukan, termasuk pemeriksaan tekanan darah sebesar 85% berbanding 62%, pemeriksaan lipid 28% berbanding 13%, serta pemeriksaan glukosa 31% berbanding 16%.
Lynn Yee, kepala maternal-fetal medicine di Northwestern University Feinberg School of Medicine sekaligus dokter Northwestern Medicine, mengatakan masa kehamilan dan pascapersalinan merupakan periode yang kompleks. Banyak perempuan akhirnya mengesampingkan kebutuhan kesehatan mereka sendiri, terutama ketika dukungan sosial terbatas atau terdapat persoalan sosial yang lebih rumit.
Masalahnya, masa setelah melahirkan juga merupakan periode penting untuk kesehatan jangka panjang. Komplikasi kehamilan seperti diabetes gestasional dan preeklamsia dapat berdampak terhadap kesehatan bertahun-tahun kemudian. Karena itu, terputusnya hubungan dengan layanan kesehatan setelah persalinan dapat membuat masalah kesehatan yang seharusnya dipantau tidak terdeteksi atau tidak tertangani.
Patient navigator berperan sebagai penghubung antara pasien dan sistem kesehatan. Namun, tujuan program ini bukan membuat ibu terus bergantung pada pendamping. Navigator justru membantu pasien memahami cara bekerja dengan sistem kesehatan sehingga pada akhirnya mereka dapat mengatur janji temu, mencari layanan kesehatan primer, dan mengelola perawatan mereka sendiri.
Pendekatan tersebut juga membantu tenaga kesehatan. Ketika pasien tidak dapat menghadiri janji temu, navigator dapat memberi tahu dokter, menjadwalkan ulang kunjungan, atau menangani persoalan administratif yang sebaliknya dapat menambah beban staf medis. Navigator juga memastikan tindak lanjut penting, seperti pemeriksaan toleransi glukosa dan kunjungan medis berikutnya, tidak terlewat.
Viridiana Carmona-Barrera, salah satu patient navigator dalam penelitian, menceritakan pengalamannya membantu seorang pasien dengan kondisi kesehatan kronis yang hampir melewatkan janji penting karena tidak memiliki transportasi dan pengasuhan anak. Ia akhirnya mengoordinasikan keduanya agar pasien dapat datang.
Bagi peneliti, keberhasilan program justru terlihat ketika seorang ibu tidak lagi membutuhkan navigator. Yee menggambarkan tujuan tersebut sebagai kemampuan untuk sampai pada akhir tahun dan mengatakan kepada pasien, “ Anda tidak membutuhkan saya lagi.” Dalam model ini, kemandirian pasien bukan sekadar hasil sampingan, melainkan ukuran keberhasilan program.
Advertisement

Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya

8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan

Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya



Sudah Tidur 8 Jam tapi Tetap Lelah? Bisa Jadi Anda Kekurangan 7 Jenis Istirahat Ini