8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi
Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya
Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan
Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah
9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes
Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan
3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
© Pexels.com/Thirdman
DREAM.CO.ID - Setelah menerima vaksin flu atau COVID-19, sebagian orang mungkin mengalami demam ringan, lelah, nyeri, atau gejala mirip flu selama beberapa hari. Namun, ada pula orang yang hampir tidak merasakan apa-apa. Perbedaan reaksi ini selama ini belum sepenuhnya dipahami. Studi terbaru menunjukkan bahwa salah satu jawabannya mungkin terletak pada cara sistem kekebalan tubuh masing-masing orang merespons vaksin.
Penelitian yang dilakukan tim dari Center for Vaccinology di University of Geneva dan Geneva University Hospital, Swiss, menemukan bahwa perbedaan kecil dalam sistem kekebalan bawaan dapat memengaruhi seberapa kuat seseorang bereaksi setelah vaksinasi. Penelitian yang diterbitkan dalam Science Translational Medicine tersebut menggunakan vaksin COVID-19 berbasis mRNA sebagai studi kasus dan melibatkan manusia serta model tikus.
Para peneliti merekrut 51 orang dewasa sehat dengan usia median 43,5 tahun. Mereka menerima dua dosis vaksin COVID-19 mRNA dan dipantau selama satu minggu setelah masing-masing dosis untuk mencatat efek samping yang muncul.
Salah satu temuan utama berkaitan dengan interferon, yaitu protein sinyal yang dilepaskan sel ketika mendeteksi virus. Protein ini membantu memberi peringatan kepada sel lain agar bersiap menghadapi ancaman. Namun, kemampuan tubuh menghasilkan respons interferon tidak sama pada setiap orang.
Natacha Madelon, PhD, peneliti dari Center for Vaccinology sekaligus penulis pertama studi, menjelaskan bahwa sistem pertahanan antivirus yang berkaitan dengan interferon kemungkinan membantu menjelaskan perbedaan efek samping antarmanusia. Semakin aktif respons interferon alami seseorang bahkan sebelum vaksinasi, semakin besar kemungkinan orang tersebut mengalami reaksi setelah menerima vaksin.
Ketika vaksin diberikan, sistem kekebalan tubuh memang sengaja diaktifkan untuk belajar mengenali target yang berkaitan dengan virus. Aktivasi tersebut dapat memunculkan reaksi seperti demam, kelelahan, nyeri, atau gejala mirip flu. Dengan demikian, pada sebagian orang, respons imun yang lebih kuat dapat menghasilkan efek samping yang lebih terasa.
Eksperimen tambahan pada tikus memberikan petunjuk mengenai mekanisme tersebut. Setelah dosis pertama, tikus mengembangkan antibodi dan sel T yang dapat mengenali antigen. Setelah dosis kedua, kekebalan yang sudah terbentuk itu dapat dengan cepat meningkatkan respons sel darah putih yang disebut monosit. Respons tersebut kemudian dapat menghasilkan reaksi tubuh yang lebih kuat terhadap vaksin.
Clare Thompson, dokter umum di Cadogan Clinic, London, yang tidak terlibat dalam penelitian, mengatakan kecenderungan mengalami reaksi vaksin yang lebih kuat kemungkinan berkaitan dengan sistem kekebalan bawaan yang memiliki respons interferon lebih aktif. Faktor seperti genetika, mikrobioma, dan riwayat peradangan mungkin juga berperan, meski masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Namun, Thompson menekankan bahwa reaksi yang diamati dalam penelitian ini umumnya ringan dan berlangsung sementara, bukan komplikasi serius. Sampai sekarang juga belum ada cara untuk memprediksi atau mencegah seseorang mengalami efek samping vaksin.
Jika muncul keluhan setelah vaksinasi, sebagian besar efek samping akan mereda dalam beberapa hari. Istirahat dan mencukupi kebutuhan cairan dapat membantu tubuh melewati masa tersebut. Parasetamol juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi gejala jika memang sesuai untuk kondisi seseorang.
Yang juga penting, kuat atau lemahnya efek samping bukan ukuran seberapa efektif vaksin bekerja. Orang yang mengalami reaksi lebih kuat bukan berarti vaksinnya bekerja lebih baik. Sebaliknya, tidak mengalami efek samping bukan berarti vaksin tidak efektif.
Studi ini juga belum menunjukkan bahwa orang dengan risiko efek samping tertentu harus menghindari vaksin. Peneliti masih perlu mengetahui apakah mekanisme serupa berlaku pada vaksin lain, termasuk vaksin flu. Untuk saat ini, orang yang memiliki kekhawatiran mengenai kemungkinan reaksi alergi serius terhadap bahan vaksin sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menerima vaksinasi.
Advertisement

3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar

Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes

Suka Membaca Buku? Kebiasaan Ini Bisa Turunkan Risiko Alzheimer Hingga 33 Persen Lebih Rendah

8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi

Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya

Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan