3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang
Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
© Pexels.com/Dany Kur Studio
DREAM.CO.ID - Memilih makanan sehat terkadang bukan sekadar persoalan mengetahui mana yang baik untuk tubuh. Suasana ketika seseorang makan ternyata juga dapat ikut memengaruhi keputusan. Salah satu faktor yang mungkin berperan adalah musik yang terdengar di latar belakang.
Sebuah studi terbaru menemukan bahwa musik dengan tingkat rangsangan rendah atau low-arousal music dapat mendorong orang memilih makanan yang lebih sehat dibandingkan musik dengan tingkat rangsangan tinggi. Musik dengan karakter lebih tenang, lambat, dan tidak terlalu keras tampaknya menciptakan suasana yang membuat pilihan makanan sehat terasa lebih sesuai.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal npj Science of Food. Penelitian dilakukan melalui empat eksperimen yang melibatkan situasi nyata di kafetaria universitas serta beberapa simulasi restoran.
Para peneliti dari Macau University of Science and Technology di China menjelaskan bahwa musik latar menarik untuk diteliti karena tidak melekat langsung pada makanan, sering kali bekerja tanpa disadari, dan relatif mudah diubah di lingkungan restoran.
“ Musik latar merupakan isyarat yang sangat relevan: musik berada di luar makanan itu sendiri, sering bekerja di luar kesadaran utama, dan dapat dengan mudah dimanipulasi di lingkungan restoran,” tulis para peneliti.
Penelitian sebelumnya juga telah menunjukkan adanya hubungan antara karakter musik dan pilihan makanan. Musik dengan volume tinggi pernah dikaitkan dengan pilihan makanan yang kurang sehat, kemungkinan karena suara keras meningkatkan tingkat kegembiraan atau rangsangan seseorang. Sebaliknya, musik dengan volume lebih rendah dikaitkan dengan meningkatnya penjualan makanan sehat, yang diduga berkaitan dengan suasana yang lebih santai.
Dalam penelitian terbaru, para peneliti menguji gagasan bahwa karakter suara tertentu dapat memberikan kesan tertentu terhadap makanan. Musik yang dianggap lebih “ sehat” memiliki karakter nada lebih tinggi, tempo lebih lambat, volume lebih rendah, suara yang tidak terdistorsi, artikulasi legato, serta harmoni yang selaras.
Eksperimen pertama dilakukan di sebuah kafetaria universitas di Makau selama delapan hari kerja. Pada hari tertentu diputar musik dengan tingkat rangsangan rendah, sedangkan pada hari lainnya digunakan musik dengan tingkat rangsangan tinggi.
Dari total 911 makanan yang terjual selama penelitian, pilihan makanan sehat mencapai 18,94 persen ketika musik dengan rangsangan rendah diputar. Angka tersebut turun menjadi 13,59 persen pada kondisi musik dengan rangsangan tinggi.
Peneliti kemudian melakukan tiga eksperimen tambahan menggunakan simulasi restoran. Dalam salah satu eksperimen, peserta melihat menu makan siang sehat sambil mendengarkan musik hip-hop dengan tingkat rangsangan berbeda. Mereka yang mendengarkan musik dengan rangsangan rendah melaporkan niat konsumsi lebih tinggi, dengan skor rata-rata 6,08 dibandingkan 5,56 pada kelompok yang mendengarkan musik dengan rangsangan tinggi.
Pola serupa muncul dalam simulasi restoran dengan musik jazz. Musik jazz dengan rangsangan rendah menghasilkan skor niat konsumsi 6,02, sedangkan musik dengan rangsangan tinggi menghasilkan 4,40.
Dalam eksperimen terakhir, musik diperdengarkan bersama suara latar. Skor niat konsumsi mencapai 5,91 pada kelompok dengan musik rangsangan rendah, dibandingkan 5,59 pada musik rangsangan tinggi dan 5,14 ketika hanya suara latar yang digunakan.
Menurut peneliti, musik yang tenang mungkin memberikan sinyal bahwa lingkungan makan terasa lebih santai. Dalam suasana seperti itu, pilihan makanan sehat dapat terasa lebih sesuai dengan situasi.
Peserta yang mendengarkan musik dengan rangsangan rendah juga melaporkan tingkat pemahaman situasi yang lebih tinggi. Mereka merasa suasana yang dihadapi lebih masuk akal dan memiliki keterkaitan yang jelas. Kondisi tersebut diduga dapat mengurangi resistensi psikologis dan memperkuat niat seseorang terhadap pilihan yang tersedia.
Temuan ini membuka kemungkinan penggunaan musik sebagai bagian dari strategi untuk mendorong pilihan makanan sehat di restoran, toko makanan, hingga platform belanja daring. Namun, penelitian tersebut belum membuktikan apakah efek yang sama akan terjadi ketika seseorang berbelanja bahan makanan sehari-hari.
Jadi, musik memang bukan pengganti pola makan sehat. Namun, jika sedang berusaha membuat pilihan makanan yang lebih baik, mendengarkan playlist yang lebih tenang mungkin dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menciptakan suasana yang mendukung.
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar


6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an