Minggu, 11 Oktober 2026 Cari

Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan

Reporter : Abidah
Minggu, 11 Oktober 2026 14:00
Sering Menahan Diri untuk Bicara? Kebiasaan Ini Bisa Diam-Diam Merusak Hubungan
Dalam sejumlah penelitian, orang justru lebih menyukai individu yang bersedia mengungkapkan dirinya dibandingkan mereka yang memilih menahan informasi.

DREAM.CO.ID - Dalam percakapan sehari-hari, ada banyak hal yang sebenarnya ingin kita katakan tetapi akhirnya tidak pernah keluar. Kita mungkin ingin menceritakan pengalaman yang mirip ketika seseorang sedang bercerita, memberikan pujian kepada pasangan, mengakui sedang membutuhkan bantuan, atau mengatakan bahwa sebuah perkataan telah menyakiti perasaan. Namun, dalam hitungan detik, pikiran tersebut dibatalkan sebelum sempat menjadi kalimat.

Kebiasaan menahan hal-hal semacam ini mungkin terlihat sepele. Kita memang sering diajarkan untuk berhati-hati agar tidak terlalu banyak bercerita atau membuka diri kepada orang lain. Namun, menurut psikolog klinis Jill P. Weber, manusia sering kali lebih menyadari risiko terlalu banyak berbagi dibandingkan risiko karena terlalu sedikit mengungkapkan diri.

Weber menyebut proses penyaringan spontan tersebut sebagai “ invisible edit” atau “ edit tak terlihat”. Proses ini terjadi ketika sebuah pikiran muncul, tetapi sensor internal dengan cepat menganggapnya terlalu berisiko untuk disampaikan dan langsung membuangnya. Akibatnya, orang lain hanya melihat versi diri kita yang sudah diseleksi, bukan keseluruhan pengalaman dan perasaan yang sebenarnya ingin dibagikan.

1 dari 2 halaman

Penelitian Leslie John, ilmuwan perilaku dari Harvard Business School, menunjukkan bahwa manusia cenderung lebih memperhatikan risiko membuka diri daripada biaya sosial dari menyembunyikan informasi. Dalam sejumlah penelitian, orang justru lebih menyukai individu yang bersedia mengungkapkan dirinya dibandingkan mereka yang memilih menahan informasi, bahkan ketika informasi yang disampaikan berpotensi membuat orang tersebut terlihat kurang ideal.

Dalam salah satu eksperimen, orang lebih tertarik berkencan dengan seseorang yang bersedia menjawab pertanyaan secara langsung, meskipun jawabannya tidak selalu sesuai dengan harapan sosial, dibandingkan dengan orang yang memilih tidak menjawab.

Mengungkapkan sesuatu yang bersifat personal juga dapat menjadi sinyal kepercayaan. Ketika seseorang bersedia mengambil risiko dengan menunjukkan sisi dirinya yang lebih rentan, orang lain dapat menangkapnya sebagai tanda bahwa dirinya dipercaya. Hal tersebut kemudian dapat mendorong keterbukaan dari kedua belah pihak dan memperdalam hubungan.

Sebaliknya, terlalu sering menahan diri dapat memberikan sinyal yang berbeda. Orang lain bisa saja menafsirkannya sebagai tanda kurang percaya, tidak peduli, atau bahkan menghindar, meskipun sebenarnya bukan itu maksudnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa berbagi informasi tentang diri sendiri berkaitan dengan aktivasi wilayah otak yang berhubungan dengan sistem penghargaan.

Meski demikian, keterbukaan bukan berarti seseorang harus menceritakan semua hal kepada semua orang. Batas pribadi tetap penting. Masalahnya adalah ketika kita tanpa sadar menyensor hal-hal yang sebenarnya aman dan wajar untuk dibagikan, seperti perasaan, kebutuhan, apresiasi, atau pengalaman kecil yang dapat membuat hubungan menjadi lebih dekat.

Kebiasaan tersebut terutama dapat menjadi masalah dalam hubungan jangka panjang. Ketika pasangan semakin lama bersama, mereka mungkin merasa sudah mengetahui satu sama lain. Namun, mengenal seseorang selama bertahun-tahun tidak sama dengan terus mengungkapkan apa yang sedang dirasakan pada saat ini. Jika nuansa dunia batin semakin jarang dibagikan, percakapan dapat berubah menjadi rutinitas dan masing-masing orang terjebak dalam peran yang kaku.

2 dari 2 halaman

Karena itu, langkah yang disarankan bukan berhenti menyaring ucapan atau menghilangkan batas pribadi. Yang lebih penting adalah menyadari kapan proses “ edit tak terlihat” muncul dan memahami alasan di baliknya.

Ketika pasangan melakukan sesuatu yang menyenangkan, misalnya, seseorang tidak harus berhenti pada ucapan “ terima kasih”, tetapi dapat mengatakan bahwa dirinya merasa beruntung mendapatkan perhatian tersebut. Ketika menyadari telah mengecewakan pasangan, seseorang dapat mengakuinya. Jika sebuah perkataan menyakitkan, mengatakan “ itu sebenarnya menyakitkan” juga dapat menjadi bentuk keterbukaan.

Begitu pula setelah konflik, mengungkapkan keinginan untuk kembali dekat dapat membuka jalan menuju pemulihan hubungan. Intinya bukan selalu mengatakan apa pun yang terlintas di kepala, melainkan menyadari apa yang hampir dikatakan tetapi akhirnya disimpan.

Weber menyarankan untuk mencoba memperhatikan hal tersebut dalam percakapan sehari-hari: apa yang sebenarnya ingin dikatakan, mengapa kita mengeditnya, dan apa yang mungkin terjadi jika kita mengatakannya. Dengan kesadaran tersebut, keputusan untuk terbuka atau menahan diri dapat dibuat secara lebih sengaja, bukan semata-mata karena dorongan otomatis untuk menghindari risiko sosial.

Beri Komentar