9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes
Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan
3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar
Langkah Tepat Lindungi Kulit dari Paparan Sinar UV
6 Suplemen yang Mulai Perlu Diperhatikan Saat Memasuki Usia 40-an
Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya
Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?
5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya
© Pexels.com/SHVETS Production
DREAM.CO.ID - Bagi sebagian orang, membaca buku menjadi cara sederhana untuk mengisi waktu luang. Sebuah novel sebelum tidur, majalah saat menunggu, atau buku nonfiksi di akhir pekan mungkin terlihat seperti aktivitas santai. Namun, kebiasaan tersebut ternyata juga berkaitan dengan kesehatan otak, terutama ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Medicine pada 15 September menemukan bahwa membaca untuk kesenangan berkaitan dengan berbagai manfaat bagi otak dan kesehatan mental. Pada orang dewasa yang lebih tua, kebiasaan membaca secara teratur dikaitkan dengan penurunan kognitif yang lebih lambat serta risiko demensia yang lebih rendah.
Temuan ini tidak berarti membaca dapat dipastikan mencegah Alzheimer atau demensia. Sebagian besar penelitian mengenai hubungan membaca dan kesehatan otak bersifat observasional sehingga menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa membaca secara langsung menyebabkan penurunan risiko penyakit tersebut.
Salah satu penjelasan yang dikemukakan peneliti adalah konsep cognitive reserve atau cadangan kognitif. Sederhananya, aktivitas yang terus merangsang otak diduga dapat membantu membangun kemampuan otak untuk menghadapi perubahan yang terjadi seiring bertambahnya usia.
Dung Trinh, MD, internis dari MemorialCare Medical Group dan Chief Medical Officer Healthy Brain Clinic, mengatakan membaca merupakan aktivitas yang merangsang kognisi dan mungkin membantu membangun cadangan kognitif sehingga otak lebih tangguh ketika menua.
Penelitian pada orang dewasa lanjut usia juga menemukan bahwa mereka yang rutin membaca memiliki performa lebih baik dalam tes kognitif dibandingkan mereka yang tidak membaca. Bukti dari penelitian sebelumnya menunjukkan aktivitas yang merangsang kognisi, termasuk membaca, berkaitan dengan penurunan kognitif yang lebih lambat dan risiko demensia yang lebih rendah.
Namun, Trinh menekankan bahwa hubungan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa membaca secara langsung mengubah proses biologis Alzheimer. Karena itu, membaca lebih tepat dipandang sebagai salah satu bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan otak, bukan sebagai terapi tunggal atau jaminan seseorang terbebas dari demensia.
Menariknya, manfaat membaca tidak baru muncul ketika seseorang memasuki usia lanjut. Kebiasaan membaca untuk kesenangan sejak masa kanak-kanak juga dikaitkan dengan perkembangan kognitif dan kesehatan mental.
Data dari Adolescent Brain Cognitive Development atau ABCD Study menunjukkan bahwa membaca untuk kesenangan pada usia 3–10 tahun berkaitan dengan manfaat kognitif, perilaku, dan akademik yang dapat terlihat hingga masa remaja. Pemeriksaan neuroimaging juga menunjukkan hubungan antara kebiasaan tersebut dengan area korteks yang lebih besar serta volume lebih besar pada sejumlah bagian otak yang berkaitan dengan bahasa dan pengaturan emosi.
Anak yang mulai membaca untuk kesenangan sejak dini juga dikaitkan dengan perhatian, memori, dan fungsi eksekutif yang lebih baik, prestasi akademik yang lebih tinggi, lebih sedikit masalah kesehatan mental, serta gaya hidup yang lebih sehat, termasuk tidur lebih banyak dan waktu menggunakan layar yang lebih sedikit.
Manfaat membaca tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berpikir. Aktivitas ini juga dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis dan hubungan sosial.
Dalam survei The Reading Agency pada 2015, orang dewasa melaporkan bahwa membaca membantu meningkatkan empati, perkembangan diri, dan mengurangi stres. Bahkan, membaca selama enam menit saja disebut dapat menurunkan tingkat stres hingga 68 persen.
Membaca juga dapat membuat seseorang merasa lebih terhubung dengan orang lain. Dalam survei tersebut, sekitar 74 persen pembaca dewasa mengatakan membaca memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan mereka, sementara 41 persen mengatakan aktivitas tersebut membantu mereka merasa lebih terhubung dengan orang lain.
Alex Dimitriu, MD, ahli psikiatri dan kedokteran tidur yang tidak terlibat dalam tinjauan tersebut, mengatakan, “ Reading builds empathy, improves focus, and offers a healthy digital detox.” Menurutnya, membaca juga merangsang imajinasi sekaligus memberi tingkat stimulasi yang cukup rendah untuk membuat seseorang berpikir dan merasakan sesuatu secara mandiri.
Bagi orang yang ingin membangun kembali kebiasaan membaca, langkahnya tidak harus besar. Healthline menyarankan memulai dengan 15–20 menit setiap hari, memilih bacaan yang memang disukai, menyimpan buku di tempat yang mudah terlihat, serta mencoba berbagai genre. Bergabung dengan klub buku juga dapat memberikan unsur sosial yang membuat kebiasaan tersebut lebih mudah dipertahankan.
Dengan begitu, membaca tidak harus diperlakukan sebagai aktivitas yang hanya bertujuan menyelesaikan sejumlah buku dalam setahun. Novel, komik, nonfiksi, majalah, hingga bentuk bacaan lain yang menyenangkan tetap dapat menjadi cara untuk membuat otak aktif.
Penelitian yang ada memang belum membuktikan bahwa membaca secara langsung dapat mencegah Alzheimer atau demensia. Namun, berbagai temuan menunjukkan bahwa kebiasaan membaca berkaitan dengan kemampuan kognitif, kesehatan mental, pengelolaan stres, serta penurunan kognitif yang lebih lambat pada usia lanjut. Karena relatif mudah dilakukan dan tidak membutuhkan biaya besar, membaca dapat menjadi salah satu aktivitas yang dimasukkan ke dalam gaya hidup yang mendukung kesehatan otak sepanjang hidup.
Advertisement

Laut Naik 56 Cm pada 2100, 770 Juta Orang Terancam: Bukan Cuma Pantai yang Bisa Hilang

5 Buah yang Bisa Bantu Atasi Lemas dan Tambah Energi, Pisang Salah Satunya

Air Dingin atau Suhu Ruang, Mana yang Lebih Baik untuk Kesehatan?

Jalan Secepat Apa yang Bisa Bantu Panjang Umur? Peneliti Sebut Angka Idealnya

9 Cara Aneh yang Pernah Dilakukan Manusia untuk Menghindari Wabah Pes

Dengarkan Musik yang Tenang Saat Makan, Studi Ungkap Pengaruhnya pada Pilihan Makanan

3 Kebiasaan Olahraga yang Sebaiknya Mulai Dilakukan Saat Usia Paruh Baya agar Tetap Bugar