Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’
Pertamina Hulu Energi Akuisisi PI 3 WK di Kaltim, Salah Satunya di Lokasi Temuan Cadangan Gas Raksasa Tahun 2023
Spa and Wellness Jadi Bagian dari Gaya Hidup Urban, Ini Manfaatnya bagi Tubuh dan Pikiran
Survei: Dulu Coblos Prabowo, 55 Persen Pemilihnya Kini Bilang Ogah
5 Minuman yang Sebaiknya Dihindari Setiap Hari Jika Ingin Mengurangi Gula
Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A
Mengapa AC Mobil Listrik Tetap Bisa Aman Menyala Meski Mesin Mati?
© Pexels.com/Dzawin Nuha
DREAM.CO.ID - Sudah tidur cukup, tetapi ketika bangun tubuh masih terasa berat dan pikiran belum benar-benar segar? Kondisi seperti ini tidak selalu berarti seseorang membutuhkan lebih banyak waktu di tempat tidur. Bisa jadi, yang kurang bukan tidur, melainkan jenis istirahat tertentu yang dibutuhkan tubuh dan pikiran.
Dilansir dari Health, menurut teori dokter penyakit dalam Saundra Dalton-Smith, manusia membutuhkan tujuh jenis istirahat untuk benar-benar merasa pulih, bukan hanya istirahat fisik. Selain istirahat fisik, ada istirahat mental, emosional, sosial, sensorik, kreatif, dan spiritual. Konsep ini menjelaskan mengapa seseorang bisa tidur semalaman tetapi tetap merasa terkuras setelah menghadapi tekanan pekerjaan, interaksi sosial, paparan layar, atau beban pikiran sepanjang hari.
Tidur sendiri merupakan kondisi tidak sadar yang penting bagi tubuh dan otak untuk memperbaiki diri, memulihkan energi, dan memproses informasi. Namun, tidur hanyalah salah satu bagian dari istirahat. Kelelahan mental dan tekanan emosional juga dapat menguras energi, bahkan ketika kebutuhan tidur sudah terpenuhi.
1. Istirahat Fisik
Ini adalah jenis istirahat yang paling mudah dikenali. Bentuk pasifnya berupa tidur atau tidur siang, sedangkan bentuk aktifnya bisa berupa peregangan, pijat, atau yoga ringan yang membantu mengurangi ketegangan otot dan memperbaiki sirkulasi.
Tubuh mungkin membutuhkan lebih banyak istirahat fisik jika Anda tetap kelelahan setelah tidur malam, sering mengalami otot tegang atau nyeri, lebih mudah sakit, atau merasa tidak mampu menjalani hari tanpa kafein dan makanan manis. Tidur berkualitas selama tujuh hingga sembilan jam, tidur siang singkat 20–30 menit, serta peregangan dapat membantu.
2. Istirahat Mental
Jika pikiran terus bekerja bahkan ketika tubuh sedang duduk diam, yang mungkin dibutuhkan adalah istirahat mental. Kesulitan berkonsentrasi, brain fog, mudah lupa, sering melakukan kesalahan sederhana, pikiran yang terus berpacu, serta mudah cemas atau tersinggung merupakan beberapa tandanya.
Memberikan jeda singkat selama bekerja, menuliskan daftar pekerjaan agar tidak terus dipikirkan, mengurangi jumlah tugas yang dikerjakan bersamaan, bermeditasi, atau berjalan-jalan di luar ruangan dapat membantu memberi ruang bagi otak untuk beristirahat.
3. Istirahat Emosional
Ada kalanya seseorang lelah bukan karena banyak pekerjaan, tetapi karena terlalu lama menyembunyikan perasaan. Selalu mengatakan “ saya baik-baik saja”, sulit mengatakan tidak, terus berusaha menyenangkan orang lain, atau merasa terbebani secara emosional dapat menjadi tanda kurangnya istirahat emosional.
Menghabiskan waktu bersama orang yang membuat Anda bisa menjadi diri sendiri, menulis jurnal, menetapkan batasan yang sehat, dan berbicara dengan profesional kesehatan mental dapat menjadi cara untuk memulihkan energi emosional.
4. Istirahat Sosial
Berada di tengah banyak orang tidak selalu membuat seseorang merasa terhubung. Jika pertemuan sosial justru membuat Anda terkuras, merasa harus terus “ aktif” di depan orang lain, atau merasa kesepian meski dikelilingi banyak orang, mungkin yang dibutuhkan adalah istirahat sosial.
Caranya bukan selalu mengisolasi diri, melainkan memilih hubungan yang lebih memberi energi, mengurangi interaksi yang menguras tenaga, menyediakan waktu untuk diri sendiri, dan mempertahankan hubungan satu lawan satu yang terasa bermakna.
5. Istirahat Sensorik
Paparan suara lalu lintas, cahaya terang, layar, dan notifikasi tanpa henti dapat membuat sistem sensorik kewalahan. Sakit kepala, mata lelah, mudah kesal, serta keinginan kuat untuk berada di tempat yang tenang merupakan beberapa tandanya.
Mematikan notifikasi, menjauh sementara dari perangkat elektronik, duduk di ruangan yang tenang dan redup, atau menghabiskan waktu di luar ruangan dapat membantu mengurangi beban sensorik.
6. Istirahat Kreatif
Kreativitas juga membutuhkan jeda. Ketika pekerjaan terasa monoton, ide menjadi basi, sulit berpikir dengan cara berbeda, atau rasa ingin tahu dan kekaguman terhadap sesuatu mulai menghilang, seseorang mungkin membutuhkan istirahat kreatif.
Menghabiskan waktu di alam, menikmati musik atau karya seni, mencoba hobi tanpa tuntutan harus menghasilkan sesuatu, mengubah rutinitas, atau memberi diri sendiri waktu untuk melamun tanpa tujuan dapat membantu memulihkan energi kreatif.
7. Istirahat Spiritual
Istirahat terakhir berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Hal ini dapat muncul melalui keyakinan, identitas, komunitas, atau aktivitas yang memberi rasa memiliki dan tujuan.
Perasaan hidup tidak memiliki makna, kehilangan arah, merasa terisolasi, atau mengalami kekosongan dan sinisme dapat menjadi tanda kebutuhan tersebut. Praktik spiritual, meditasi, kegiatan sukarela, bergabung dengan komunitas yang memiliki nilai serupa, serta merefleksikan nilai hidup dapat menjadi pilihan.
Pada akhirnya, rasa lelah tidak selalu bisa diselesaikan dengan tidur lebih lama. Seseorang yang seharian bekerja di depan komputer mungkin membutuhkan aktivitas fisik, sementara orang yang terus berinteraksi dengan banyak orang mungkin justru membutuhkan waktu sendiri. Karena itu, bentuk istirahat yang tepat dapat berbeda sesuai sumber kelelahan.
Cara mengenalinya adalah memperhatikan kapan dan bagaimana energi mulai terkuras. Mencatat aktivitas selama seminggu, melakukan evaluasi terhadap kondisi fisik dan mental, serta memperhatikan bagian kehidupan yang terasa paling berat dapat membantu menemukan jenis istirahat yang selama ini terabaikan. Jika kelelahan terus berlangsung atau mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk mencari kemungkinan masalah kesehatan yang mendasarinya.
Dengan demikian, istirahat tidak selalu berarti berhenti melakukan sesuatu. Beralih dari satu jenis aktivitas ke aktivitas lain juga dapat menjadi bentuk istirahat. Setelah menghabiskan energi mental untuk bekerja, misalnya, berjalan atau melakukan aktivitas fisik ringan dapat menjadi jeda yang dibutuhkan. Sebaliknya, setelah terlalu lama bersosialisasi, duduk tenang dan membaca buku mungkin justru menjadi bentuk pemulihan yang lebih tepat.
Advertisement

Aroma Parfum yang Lagi Tren Ini Ternyata Bisa Bantu Tidur Lebih Nyenyak, Studi Ungkap Rahasianya

8 Makanan yang Bisa Redakan Ngidam Makanan Manis Lebih Baik daripada Permen, Menurut Ahli Gizi

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan

Mengapa Ada Orang yang Lebih Sering Mengalami Efek Samping Vaksin? Studi Ungkap Penyebabnya

Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?

Sering Merasa Orang Lain Tidak Menyukai Anda? Bisa Jadi Ini Hanya ‘Liking Gap’
