Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© Pexels.com/Vitaly Gorbachev
DREAM.CO.ID - Bagi sebagian orang, minum kopi pada siang atau bahkan sore hari tidak membuat mata sulit terpejam pada malam hari. Mereka tetap bisa tertidur seperti biasa, tidur selama sekitar delapan jam, dan bangun tanpa merasa mengalami gangguan tidur. Namun, kondisi tersebut belum tentu berarti tubuh mendapatkan tidur yang benar-benar berkualitas.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kafein dapat memengaruhi cara otak tidur, bahkan ketika seseorang tidak mengalami kesulitan untuk tertidur. Perubahan tersebut terlihat melalui pemeriksaan electroencephalography atau EEG, yang merekam aktivitas listrik otak selama seseorang tidur.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dibahas oleh Wroclaw Medical University pada 22 September 2026. Para peneliti menyoroti bahwa menilai efek kopi hanya dari durasi tidur atau apakah seseorang terbangun pada malam hari dapat melewatkan perubahan yang lebih halus pada otak.
Prof. Donata Kurpas dari Department of Nursing, Wroclaw Medical University, menjelaskan bahwa EEG dapat memberikan gambaran mengenai kualitas tidur yang tidak selalu terlihat dari pengalaman subjektif seseorang.
“ EEG memungkinkan kita melihat bukan hanya apakah seseorang sedang tidur, tetapi juga bagaimana otak tersebut tidur. Penilaian tidur klasik melihat durasi dan tahap tidur, sedangkan analisis EEG kuantitatif dapat menunjukkan perubahan yang lebih halus, seperti berkurangnya aktivitas gelombang lambat, yang merupakan penanda penting kedalaman dan sifat restoratif tidur,” jelas Kurpas.
Gelombang lambat merupakan salah satu ciri utama tidur dalam. Tahap tidur ini berkaitan dengan proses pemulihan fisik, pengisian kembali cadangan energi, serta pemeliharaan fungsi otak yang sehat.
Masalahnya, efek kafein tidak selalu terlihat dalam bentuk insomnia. Seseorang mungkin tetap tidur pada waktu yang normal dan berada di tempat tidur selama delapan jam, tetapi aktivitas gelombang lambat di otaknya berkurang.
“ Kafein dapat memperpendek waktu tidur atau membuat seseorang lebih sulit tertidur. Namun, bahkan ketika durasi tidur terlihat normal, kafein dapat mengurangi aktivitas gelombang lambat dan menggeser pola EEG menuju kondisi otak yang lebih ‘terjaga’,” kata Kurpas.
Karena tidak selalu menyebabkan seseorang terbangun, perubahan ini juga mudah tidak disadari. Seseorang bahkan dapat merasa telah tidur nyenyak meski aktivitas otaknya menunjukkan lebih sedikit karakteristik tidur dalam.
“ Perasaan subjektif bahwa seseorang telah tidur dengan baik tidak selalu sesuai dengan apa yang terlihat dalam rekaman neurofisiologis. Seseorang mungkin tertidur tanpa kesulitan berarti dan tidak mengingat adanya terbangun pada malam hari, sementara otaknya menunjukkan lebih sedikit karakteristik tidur dalam,” tambahnya.
Pengaruh kafein terhadap tidur juga tidak sama pada setiap orang. Faktor seperti genetika, metabolisme, usia, stres, dan kelelahan kronis dapat memengaruhi seberapa kuat tubuh merespons kafein.
Karena itu, waktu minum kopi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Pada sebagian orang, konsumsi kafein sejak pagi masih mungkin berpengaruh terhadap tidur malam, terutama jika tubuh belum sepenuhnya memetabolisme kafein tersebut.
“ Ini bukan hanya soal kopi yang dikonsumsi sesaat sebelum tidur. Bagi sebagian orang, jumlah total kafein yang dikonsumsi sepanjang hari dan apakah tubuh memiliki cukup waktu untuk memetabolismenya sebelum malam juga dapat menjadi faktor penting,” ujar Kurpas.
Hal ini menjadi perhatian terutama bagi orang yang mengandalkan kopi atau produk berkafein untuk mempertahankan fokus, stamina, atau performa sepanjang hari.
Kafein memang dapat meningkatkan kewaspadaan dan membuat rasa lelah untuk sementara terasa lebih ringan. Namun, jika kualitas pemulihan saat tidur ikut menurun, seseorang dapat merasa lebih lelah pada hari berikutnya dan kembali membutuhkan kafein untuk mengatasinya.
“ Jika kafein membantu seseorang berfungsi pada siang hari tetapi secara bersamaan memperburuk kualitas pemulihan pada malam hari, sebuah lingkaran setan dapat terbentuk: kelelahan yang semakin besar, kebutuhan stimulasi yang semakin tinggi, dan tidur yang semakin buruk,” kata Kurpas.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas tidur tidak selalu dapat dinilai hanya dari berapa lama seseorang berada di tempat tidur. Aktivitas otak selama tidur juga penting untuk melihat apakah istirahat tersebut benar-benar memberikan pemulihan.
“ Kafein bukan sesuatu yang ‘baik’ atau ‘buruk’. Kafein adalah zat aktif secara biologis yang efeknya bergantung pada dosis, waktu konsumsi, usia, gaya hidup, kualitas tidur, tingkat stres, dan sensitivitas individu,” pungkas Kurpas.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya