Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© Pexels.com/Srattha Nualsate
DREAM.CO.ID - Air soda atau sparkling water semakin sering dipilih sebagai pengganti minuman bersoda manis. Minuman ini terasa menyegarkan karena mengandung karbon dioksida yang menghasilkan gelembung dan sensasi sedikit “ menggigit” di mulut. Karena umumnya tidak mengandung gula maupun kalori, air soda sering dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat. Namun, apakah aman jika diminum setiap hari?
Dilansir dari Cleveland Clinic, air soda pada dasarnya merupakan air biasa yang diberi karbon dioksida sehingga menghasilkan gelembung. Beberapa produk juga mengandung mineral alami atau tambahan, sedangkan jenis lainnya diberi perasa tanpa tambahan gula. Secara umum, sparkling water dapat menjadi bagian dari pola konsumsi cairan sehari-hari, terutama jika digunakan untuk menggantikan minuman tinggi gula.
Ahli diet Cleveland Clinic, Beth Czerwony, RD, LD, menjelaskan bahwa air soda dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan cairan. Sensasi berkarbonasi juga membuat sebagian orang lebih menikmati minum air dibandingkan air putih biasa. Bagi orang yang sedang mengurangi konsumsi soda manis, mengganti minuman tersebut dengan air berkarbonasi tanpa gula dapat menjadi salah satu pilihan.
Namun, tidak semua produk yang terlihat seperti “ air soda” memiliki kandungan yang sama. Ada sparkling water, seltzer, club soda, dan tonic water. Perbedaannya terletak pada kandungan mineral, bahan tambahan, hingga gula. Tonic water, misalnya, biasanya mengandung gula sehingga tidak dapat disamakan dengan air soda tanpa kalori.
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah efek karbonasi terhadap tulang. Minum air berkarbonasi tidak terbukti secara umum membuat tulang menjadi rapuh. Kekhawatiran tersebut kemungkinan muncul karena adanya anggapan bahwa minuman berkarbonasi identik dengan minuman cola. Padahal, kandungan minuman dan efeknya terhadap tubuh tidak sama.
Meski demikian, ada bagian tubuh yang mungkin merasakan efek karbonasi lebih cepat, yaitu sistem pencernaan. Menurut Cleveland Clinic, karbonasi dapat menyebabkan sebagian orang mengalami sendawa, kembung, atau rasa tidak nyaman pada perut. Orang yang memiliki masalah pencernaan tertentu mungkin lebih sensitif terhadap minuman berkarbonasi.
Persoalan lain adalah kesehatan gigi. Air soda tanpa gula memang jauh berbeda dari minuman bersoda manis, tetapi karbonasi dapat membuat air menjadi sedikit lebih asam. Jika produk juga mengandung tambahan asam, seperti asam sitrat pada minuman berperisa, paparan berulang dapat meningkatkan risiko erosi enamel gigi.
Karena itu, jenis air soda yang diminum tetap penting. Air berkarbonasi polos tanpa gula dan tanpa tambahan asam umumnya menjadi pilihan yang lebih sederhana. Sementara itu, produk dengan rasa buah, pemanis, gula, atau berbagai tambahan lain sebaiknya diperiksa melalui label kandungannya.
Cara mengonsumsinya juga dapat diperhatikan. American Dental Association menyarankan agar konsumsi minuman asam tidak dilakukan terus-menerus sepanjang hari karena gigi akan lebih sering terpapar kondisi asam. Minum dalam satu kesempatan makan atau waktu tertentu dapat mengurangi frekuensi paparan dibandingkan menyeruputnya sedikit demi sedikit sepanjang hari.
Jadi, bagi kebanyakan orang sehat, minum air soda tanpa gula setiap hari pada dasarnya dapat menjadi bagian dari pola hidrasi, selama produk yang dipilih memang tidak mengandung gula atau bahan tambahan yang tidak diinginkan. Air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan, tetapi air berkarbonasi polos dapat menjadi alternatif ketika seseorang ingin variasi tanpa menambah gula dan kalori.
Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata keberadaan gelembungnya, melainkan apa saja yang terdapat di dalam botol. Membaca label, memperhatikan kandungan gula dan asam tambahan, serta melihat bagaimana tubuh merespons karbonasi menjadi langkah sederhana untuk menentukan apakah kebiasaan tersebut cocok dipertahankan setiap hari.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya