Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
© 2026 USG Ibu Hamil Di Klinik (Pexels.com-Pavel Danilyuk)
DREAM.CO.ID - Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Hasanuddin menemukan fakta adanya mikroplastik dalam tubuh sejumlah ibu hamil di Makassar, Sulawesi Selatan. Riset itu juga mendapati partikel mikroplastik dalam plasenta.
Peneliti Unhas, Hasnawati Amqam, menulis hasil penelitian yang dilakukan pada 2024 itu pada laman The Conversation, Selasa, 29 September 2026. Penelitian itu belum dipublikasikan sebelumnya.
" Kami menemukan mikroplastik dalam tinja, darah ibu maupun plasenta alias organ yang menghubungkan ibu dan janin," tulis Hasnawati.
Ukuran mikroplastik memang sangat kecil. Kurang dari lima milimeter. Partikel ini bisa bertahan lama di lingkungan. Jadi pencemar udara, tanah, dan air. Baca juga: Mikroplastik, Pencemar Mungil yang Sangat Merusak
Penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas itu melibatkan 29 ibu hamil. Hasil riset menunjukkan rata-rata 2,57 partikel mikroplastik pada setiap sampel tinja dan 1,44 partikel mikroplastik apda sampel darah.
" Partikel ini ditemukan dalam bentuk line dan fragmen," tulis Hasnawati.

Penelitian ini, menurut Associate Professor di Unhas itu, sejalan dengan temuan di Jerman. Pada 2021, riset di Negeri Panzer mendeteksi mikroplastik di dalam plasenta dan feses pertama bayi pada persalinan normal.
Pada riset sebelumnya, yang diterbitkan 2024, penelitian Unhas juga menemukan mikroplastik pada seluruh sampel feses 30 ibu hamil dari dua puskesmas di Makassar.
" Total, ada 359 partikel mikroplastik yang teridentifikasi," imbuh Hasnawati.
Sebagian mikroplastik memang melewati saluran cerna ibu hamil. Sebagian dari mereka keluar bersama feses. " Namun, tidak menutup kemungkinan sebagian lainnya terserap ke dalam tubuh," tambah Hasnawati.
Para peneliti Unhas menyatakan paparan mikroplastik pada ibu hamil bersifat kumulatif. Partikel mikro itu bisa datang dari piring makan, gelas, kemasan, makanan dan minuman.
Berbagai riset terbaru, tulis Hasnawati, menunjukkan makanan dan minuman menjadi perantara mikroplastik masuk ke dalam tubuh.
Sedangkan riset terbaru juga menunjukkan 45 merek garam yang beredar di Indonesia mengandung mikroplastik. Konsentrasi garam yang bahannya berasal daari Indonesia bagian barat paling tinggi kandungan mikroplastiknya.Baca juga: 45 Merek Garam Indonesia Mengandung Mikroplastik

Saking kecilnya ukuran mikroplastik, partikel ini mampu menembus plasenta. Padahal, plasenta harusnya menjadi penyaring yang melindungi janin dari zat berbahaya.
Dalam artikel itu, Hasnawati juga mengutip sebuah tinjauan internasional yang menegaskan bahwa mikroplastik dan nanoplastik yang memasuki plasenta dapat memicu kerusakan sel akibat stres oksidatif --jumlah radikal bebas lebih banyak daripada antioksidan dalam tubuh, peradangan, serta gangguan hormon pada janin.
" Akibatnya, perkembangan janin bisa terganggu dan risiko kelahiran prematur meningkat," tulis Hasnawati. Baca juga: Cantik Tanpa Mikroplastik
Paparan mikroplastik dalam plasenta juga menghambat pertumbuhan janin. Makin tinggi paparan, risiko ini makin besar pula.
Dalam jangka panjang, paparan mikroplastik diduga bisa mengganggu kesehatan reproduksi. " Akan tetapi, mekanisme pastinya masih terus diteliti oleh para ilmuwan di seluruh dunia," tulis Hasnawati.

Paparan mikroplastik memang sulit dihindari. Sebab, kontaminasi partikel mikroplastik bisa datang dari banyak sumber. Baca juga: Musim Hujan Tiba, Kenali Bahaya Mikroplastik dari Makanan, Minuman, dan Udara
Namun demikian, bukan berarti kita tidak bisa mengurangi risiko paparan partikel mikroplastik. Ada sejumlah cara untuk mengurangi paparannya.
Salah satunya dengan mencuci beras sebelum dimasak. Cara ini disebut bisa mengurangi paparan mikroplastik 20-60 persen.
Demikian juga dengan buah, sayur, daging, dan ikan, perlu dicuci berulang kali untuk mengurangi konsentrasi mikroplastik yang akan kita makan.
Selain itu, hindari mengonsumsi makanan dan minuman panas dalam wadah plastik. Jika ingin ngeteh dari cangkir, hendaknya menggunakan teh tubruk alias teh seduh kasar.
" Batasi juga konsumsi makanan olahan dan kemasan sekali pakai," tambah Hasnawati.
Pencegahan di tingkat individu saja tidak cukup. Perlu intervensi pemerintah melalui kebijakan tegas terkait mikroplastik.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya