© 2026 Perempuan Melakukan Rutinitas Perawatan Kulit (Pexels.com-Miriam Alonso)
DREAM.CO.ID - Tengoklah meja rias kita, pasti ada skincare. Bukan cuma satu, mungkin ada tiga atau bahkan hampir selusin nongkrong di sana. Maklum saja, produk perawatan kulit sekarang kian beragam. Cleanser, moisturizer, sunscreen, itu yang basic.
Jika mau extra treatment, ritualnya beda lagi. Rangkaian makin panjang. Skincare yang digunakan kian beragam: cleansing balm, facial wash, scrub, toner, essence, serum, ampoule, eye cream, moisturizer, hingga sunscreen. Semua produk dipakai demi kulit indah dan glowing. Sehat.
Sebagian bahan bekerja di kulit. Namun beberapa partikel ikut terbawa air saat dibilas. Di sinilah ada bahan yang harus dicermati: mikroplastik. Bahan ini bisa berakhir di lingkungan.
Ukuran mikroplastik kurang dari 5 milimeter. Begitu kecil. Dalam skincare, bahkan dimensinya jauh lebih kecil lagi. Salah satu bentuknya sering disebut microbeads. Butiran yang umumnya dibuat dari jenis plastik tertentu, seperti polyethylene, ini digunakan sebagai bahan abrasif. Dipakai untuk mengangkat sel kulit mati.

Microbeads ini bisa terbawa air saat pembilasan dalam ritual skincare. Sejak itulah perjalanan panjangnya dimulai, dari kamar mandi ke lepas pantai. Bahan ini bisa bertahan bertahun-tahun di alam bebas, jadi pencemar bagi lingkungan.
Riset Mikroplastik
Riset Universitas Plymouth menunjukkan hampir 100.000 microbeads dapat terlepas dalam setiap penggunaan produk tertentu, seperti scrub wajah. Ukuran yang sangat kecil membuat banyak bahan ini terlepas hingga ke sungai, bahkan laut, karena tidak tertangkap dalam proses pengolahan air limbah konvensional.
Penelitian yang dimuat Marine Pollution Bulletin tersebut memperkirakan kondisi itu dapat menyebabkan sekitar 80 ton limbah mikroplastik masuk ke laut setiap tahun hanya dari penggunaan produk kosmetik di Inggris.
Menurut studi itu, penggunaan mikroplastik tidak berhenti pada produk eksfoliasi. Partikel tersebut juga dilaporkan ditemukan dalam berbagai produk perawatan lain, seperti sabun cuci tangan, sabun, pasta gigi, busa cukur, sunscreen, dan sampo.

Para peneliti dari Universitas Plymouth memilih merek scrub wajah yang mencantumkan mikro plastik sebagai salah satu bahan. Produk tersebut disaring menggunakan metode vakum untuk mendapatkan partikel plastik di dalam produk.
Material yang tersaring kemudian dianalisis menggunakan mikroskop elektron. Hasilnya menunjukkan bahwa setiap 150 mililiter produk mengandung antara 137.000 hingga 2,8 juta partikel mikro.
“ Penggunaan produk-produk ini menyebabkan pencemaran laut yang sebenarnya tidak perlu akibat jutaan partikel mikroplastik. Ada kekhawatiran besar mengenai akumulasi mikroplastik di lingkungan,” kata Profesor Richard Thompson, yang telah mempelajari dampak sampah terhadap lingkungan laut selama lebih dari 20 tahun.
Penelitian lebih masif dilakukan Plastic Soup Foundation. Lembaga nirlaba asal Amsterdam, Belanda, itu meneliti 7.704 produk kosmetik dan perawatan dari 10 merek paling populer dari empat produsen kosmetik terbesar di Eropa. Hasilnya, 87 persen produk dinyatakan mengandung mikroplastik.

UIN Sunan Ampel Surabaya juga pernah meneliti 10 produk scrub wajah dan kulit. Riset ini menemukan polyethylene sebagai polimer plastik yang dominan pada sampel. Penelitian lain datang dari Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS). Studi ini mendapati salah satu sampel body scrub memiliki kecocokan 94,26 persen dengan polyethylene low density (LDPE).
Temuan itu bukan berarti semua skincare di Indonesia mengandung mikroplastik. Jumlah sampel penelitian terlalu kecil untuk mewakili pasar. Tapi setidaknya temuan itu menunjukkan bahwa mikroplastik dalam produk perawatan tubuh menjadi persoalan semua negara.
Kajian Astha Singh dan Brijesh Kumar Mishra dari IIT (ISM) Dhanbad, India, yang diterbitkan dalam Journal of Cleaner Production pada 2023, memperkirakan secara global produk personal care menghasilkan 12.000 ton mikroplastik per tahun. Dalam periode 1970-2019, akumulasi mikroplastik dari produk personal care diperkirakan mencapai 300.000 ton.
Industri
Mikroplastik memang jadi masalah, namun bukan tanpa solusi. Sejumlah produsen personal care sudah berinovasi untuk menggantikan microbeads dalam produk mereka. Beiersdorf, misalnya, menjadi salah satu produsen produk perawatan yang mengklaim telah meninggalkan bahan tersebut.
Perusahaan yang berkantor pusat di Hamburg, Jerman, yang menaungi NIVEA dan Eucerin, itu telah meninggalkan penggunaan mikroplastik dalam produk mereka sejak 2015. NIVEA menyatakan produknya bebas mikroplastik sejak 2021 dan Eucerin pada akhir 2023.
Memang tak mudah. Butuh banyak penelitian untuk mengembangkan produk yang bebas mikroplastik. Meski tanpa microbeads, formula skincare harus tetap mampu memberikan fungsi yang diharapkan konsumen, mulai tekstur, stabilitas, daya sebar, sensasi pada kulit, maupun kemampuan mengangkat kotoran.

Oleh karena itu, produsen harus mencari bahan alternatif pengganti microbeads yang ramah lingkungan namun memiliki fungsi sama. Mutu tetap dipertahankan meski kandungan bahan ada yang diganti.
“ Sebagai contoh, kini kami menggunakan partikel alternatif seperti selulosa mikrokristalin, butiran almon, butiran jojoba, atau gula untuk menghasilkan efek eksfoliasi,” kata Manager Global Product Development Dermo-Cosmetics Beiersdorf, Christoph Ernst.
Kebijakan serupa juga dilakukan L'Oréal. Dalam Sustainability Report 2023, mereka menyebut bahan baku mikroplastik menyumbang sekitar 0,04 persen dari total berat bahan baku. Mereka menargetkan meninggalkan mikroplastik pada seluruh produk pada 2030.
Sejak Januari 2017, perusahaan asal Paris ini menghapus microbeads dari produk eksfoliasi. Mulai 2020, seluruh produk rinse-off (yang digunakan lalu dibilas –seperti sampo dan shower gel) juga diklaim bebas microbeads.
Sementara, mereka mengurangi microbeads pada makeup sejak 2023 dan menggantikannya dengan bahan alternatif tanpa mengurangi kinerja produk.
“ Sebagai contoh, untuk glitter yang digunakan dalam makeup, kami menggunakan alternatif yang dapat terurai secara hayati dan berasal dari eukaliptus,” demikian klaim mereka dalam Laporan Keberlanjutan 2023 itu.

Bagaimana Indonesia?
Di Indonesia, penggunaan microbeads diatur dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik. Plastik microbeads menjadi salah satu dari 1.706 bahan yang tidak diizinkan digunakan dalam kosmetik.
Aturan ini penting. Bukan cuma di atas kertas, melainkan harus benar-benar ditegakkan. Regulasi ini, bila diterapkan sungguh-sungguh, bakan mengurangi, produk kosmetik yang mengandung mikroplastik di pasaran.
Bagaimanapun, pencegahan dari hulu sangat penting. Aturan itu akan menjadi dasar bagi produsen untuk menentukan bahan apa saja yang akan masuk ke dalam kemasan.
Mengurangi mikroplastik dari skincare tidak harus dimulai saat pengaplikasian di bilik maupun kamar mandi. Upaya itu bisa dilakukan dari laboratorium, dari tempat formula produk ditentukan.
Jika sudah begitu, tampil cantik tidak harus meninggalkan jejak plastik.
Advertisement


Mengapa Hari Ini Sangat Produktif, tetapi Besok Sulit Fokus? Ini Penjelasan Ilmuwan

Stres dan Kesehatan Mental Ternyata Bisa Berkaitan dengan Gangguan Kandung Kemih yang Kita Alami

Benarkah Kita Bisa Tidur Hanya 4 Jam tetapi Tetap Segar? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Perlukah Anak Mengikuti Baby Class? Kapan Usia Ideal Anak Mulai Sekolah?

Ibu Eva Dwiana Raih Apresiasi Perempuan Berpengaruh 2026 Kategori Leadership di Sraya Nusa

Dunia pada 1293: Peristiwa di Seluruh Dunia saat Majapahit Berdiri