© 2026 Truk Tangki Pertamina (Pexels.com-Fabrian Pradanaputra)
DREAM.CO.ID - Dipakai, lalu dibuang. Demikian umumnya nasib plastik. Biasanya tugas mereka selesai dalam sekali pakai. Masa gunanya singkat. Namun tidak dengan umurnya, plastik dapat bertahan lama, bahkan bisa dalam kurun belasan tahun.
Dan itulah problem. Plastik yang sudah kehilangan guna menumpuk. Berserakan kemana-mana. Benda yang semula jadi primadona karena praktis, kuat, dan murah, itu berubah ketika tak lagi diperlukan. Yang dulu memberi kemudahan, kini menjadi ancaman bagi bumi.
Namun cerita berbeda datang dari Makassar. Di tanah Anging Mammiri, kisah plastik segel tangki Pertamina tak sesederhana itu. Setelah fungsi utama mereka berakhir, plastik-plastik segel itu memulai proses baru.
Seperti usaha lain, operasional Pertamina di Integrated Terminal (IT) Makassar juga menyisakan sampah. Plastik segel tangki itu jadi salah satunya. Saban bulan terkumpul 143,5 kilogram plastik segel. Jika volume itu konsisten, maka dalam setahun bisa terkumpul sekitar 1,7 ton. Jika dibiarkan, segel-segel itu bakal jadi polutan, pencemar bumi yang kita huni bersama ini.

Kegundahan itu bukan tanpa alasan. Sampah plastik sudah jadi isu dunia. Data Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menyebut kini manusia menghasilkan 400 juta ton sampah plastik tiap tahun.
Data yang dirilis Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tak kalah mengkhawatirkan. Dunia memproduksi plastik 460 juta ton pada 2019. Dari angka itu, sampah plastik yang dihasilkan 353 juta ton.
Riset OECD menyebut hanya 9 persen sampah plastik yang didaur ulang, 19 persen dibakar, 50 persen ke pembuangan sampah terstandar sanitasi. Celakanya, 22 persen sampah plastik dibuang sembarangan, dibakar secara terbuka, atau bocor ke lingkungan.
Bagaimana di Indonesia? Kementerian Lingkungan Hidup menyebut total sampah plastik nasional mencapai 10,8 juta ton. Itu sekitar 20 persen dari total sampah nasional. Tingkat daur ulangnya baru 22 persen. Jauh dari harapan.
Jadi Solusi
Daur ulang yang dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga di IT Makassar itu bisa jadi bagian dari solusi. Menjadi bagian upaya memperingan beban untuk mengurangi cemaran bumi. Segel-segel plastik itu didaur ulang: dicacah, diolah, lalu dibentuk menjadi tempat sampah hingga furnitur.
Kini, tempat sampah hasil daur ulang itu bukan cuma jadi pajangan. Barang yang sebelumnya berupa sampah itu sudah punya fungsi lagi. Tempat-tempat sampah itu kini ditempatkan di sejumlah titik di Kelurahan Tamalabba, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar.

Jika bertamu ke IT Makassar, kita juga akan menjumpai tempat-tempat sampah bernuansa kuning dan biru itu. Selain menampung sampah, hasil daur ulang itu juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat yang datang ke kantor tersebut.
“ Kami ingin menunjukkan bahwa limbah yang dihasilkan dari kegiatan operasional tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang tidak bernilai,” kata Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto.
Pertamina memang tak sendiri. Mereka merangkul masyarakat. Kolaborasi menjadi bagian penting membangun kesadaran pengelolaan lingkungan.
“ Dengan inovasi dan kolaborasi bersama masyarakat, limbah plastik segel ini dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi, nilai estetika, sekaligus memberikan manfaat ekonomi,” ujar Lilik.
Sampah Makassar
Inisiatif itu menjadi bagian upaya mendorong pengelolaan sampah secara mandiri di Makassar. Lilik menyebut masyarakat di Tamalabba yang diajak berkolaborasi dalam mengelola plastik segel itu sebagai contoh bahwa kepedulian lingkungan dapat diwujudkan lewat aksi nyata.
“ Kami berharap inovasi ini tidak berhenti pada produk yang dihasilkan, tetapi juga dapat menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan limbah merupakan tanggung jawab bersama,” tutur Lilik.

Makassar memang menghadapi tekanan serius dalam pengelolaan sampah. Tahun lalu, timbulan sampah di Makassar sekitar 1.034 ton per hari. Pada awal 2026, TPA Antang menerima 800 hingga 1.000 ton per hari. Pemerintah mendorong perubahan pola pengelolaan agar material yang masih dapat dimanfaatkan tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Dan, daur ulang segel plastik IT Makassar mengurangi beban itu. Semakin banyak material dipilah dan diolah sejak sumbernya, kian sedikit beban yang harus dibawa ke hilir. Itulah prinsip ekonomi sirkular: menjaga material tetap berada dalam siklus pemanfaatan selama mungkin.
Plastik segel tangki Pertamina di IT Makassar sudah menyelesaikan tugas pertama. Kini, ia mendapat kesempatan kedua. Kalau material masih bisa berguna, mengapa harus buru-buru dibuang?
Advertisement


ShopeeVIP+ Hadirkan Pengalaman ‘Sekali Langganan, Dapat Semua’, Semakin Lengkap dengan Akses Netflix


Dopamine Anchoring: Cara Menurut Ahli agar Otak Mau Mengerjakan Tugas Membosankan

Benarkah Jalan Kaki 5 Menit Setelah Makan Bisa Menurunkan Gula Darah?


Tim Pencari Jurnalis di Selat Sunda Belum Bisa Masuk Pulau Sertung