Dopamine Anchoring: Cara Menurut Ahli agar Otak Mau Mengerjakan Tugas Membosankan

Reporter : Abidah
Kamis, 10 September 2026 10:00
Dopamine Anchoring: Cara Menurut Ahli agar Otak Mau Mengerjakan Tugas Membosankan
Idenya sederhana: memadukan tugas membosankan atau sulit dengan sesuatu yang benar-benar disukai, agar perlahan tugas itu terasa tidak lagi seperti beban.

DREAM.CO.ID - Pernah bertanya-tanya kenapa melipat cucian atau menyimpan belanjaan jadi terasa lebih mudah saat sambil mendengarkan podcast favorit? Itulah yang disebut dopamine anchoring sedang bekerja. Dilansir dari Verywell Mind, teknik ini pada dasarnya versi modern dari classical conditioning. Idenya sederhana: memadukan tugas membosankan atau sulit dengan sesuatu yang benar-benar disukai, agar perlahan tugas itu terasa tidak lagi seperti beban.

" Meski istilahnya baru dan dipopulerkan lewat media sosial, ilmu saraf yang mendasarinya, yakni memadukan stimulus dengan penghargaan untuk membentuk perilaku, sudah diteliti selama puluhan tahun," kata psikiater Anoopinder Singh, MD.

Bagaimana Dopamine Anchoring Bekerja

Dopamine anchoring memanfaatkan sistem dopamin dan penghargaan di otak untuk membangun asosiasi positif terhadap tugas yang terasa membosankan atau menyebalkan.

Saat mengalami sesuatu yang menyenangkan, seperti makan sepotong kue atau mencapai target tertentu, sistem penghargaan otak akan aktif dan melepaskan dopamin, neurotransmiter sekaligus hormon penting. Lonjakan dopamin inilah yang memberi rasa senang dan puas, mendorong seseorang ingin mengulangi hal tersebut.

Menariknya, menurut Singh, dorongan dopamin paling kuat sebenarnya tidak muncul saat menerima penghargaannya, melainkan saat mengantisipasinya. Sama seperti rasa antusias sebelum pertandingan besar atau liburan yang sudah direncanakan. " Dopamin lebih berkaitan dengan 'menginginkan' ketimbang 'menyukai'. Dopamin membuat kita mencari pengalaman yang memberi penghargaan," jelas Dr. Singh.

Inilah yang dimanfaatkan dopamine anchoring. " Idenya adalah 'menjangkarkan' pelepasan dopamin pada isyarat atau perilaku tertentu," kata Dr. Singh. Misalnya, menikmati camilan manis sambil belajar untuk ujian, atau menyalakan lilin beraroma favorit hanya saat sedang membaca buku.

Seiring diulangi berkali-kali, otak mulai melepaskan dopamin bahkan sebelum penghargaan sesungguhnya diterima, meningkatkan motivasi dan membuat tugas itu sendiri terasa memberi penghargaan secara intrinsik, jelas Dr. Holly Schiff, psikolog klinis berlisensi di New York City. Ini mirip dengan bagaimana anjing-anjing Pavlov belajar mengeluarkan air liur saat mendengar bunyi lonceng.

1 dari 4 halaman

Dopamine Anchoring vs Habit Stacking

Jika habit stacking adalah memadukan kebiasaan baru dengan kebiasaan yang sudah ada, dopamine anchoring melangkah lebih jauh dengan menyisipkan sesuatu yang menyenangkan di antara isyarat dan perilaku itu sendiri.

" Kamu sedang mengapit kebiasaan barumu dengan momen-momen yang menyenangkan, dengan rasa puas itu mendorong otak untuk ingin mengulangi rangkaian tersebut berulang kali," kata terapis berlisensi Brianna Paruolo.

Apa Kata Profesional Kesehatan Mental

" Dalam pengalaman klinis saya, teknik ini bisa membantu, terutama untuk membangun rutinitas atau mengatasi prokrastinasi," kata Dr. Singh.

Prinsip dasar di balik dopamine anchoring, seperti classical conditioning dan penguatan positif, sudah cukup mapan, menjadikannya alat yang berguna untuk meningkatkan produktivitas dan membangun kebiasaan yang lebih sehat, kata Dr. Schiff, yang sudah menggunakan teknik ini bersama pasiennya.

Bagi instruktur mindfulness Rebecca Morris, dopamine anchoring mengubah tugas mencuci piring yang selalu dihindarinya menjadi ritual bersih-bersih yang menyenangkan. " Saya memutuskan mencoba dopamine anchoring dan menaruh laptop di dapur untuk menonton acara favorit sambil mencuci piring. Ini membuat perbedaan besar! Suami saya bahkan bercanda ini sudah jadi 'me time' saya," ungkapnya.

Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa teknik ini bukan solusi ajaib dan tidak boleh dijadikan pengganti penanganan bagi masalah kesehatan mental yang lebih serius.

 

2 dari 4 halaman

Apa Kekurangan Dopamine Anchoring?

Baik Dr. Schiff maupun Paruolo mengingatkan agar tidak menggunakan pemicu dopamin setiap kali harus melakukan sesuatu yang tidak disukai, karena terlalu bergantung pada penghargaan eksternal bisa mengurangi motivasi intrinsik seiring waktu.

" Kamu berisiko mengubah setiap aktivitas menjadi semacam transaksi yang membutuhkan pembayaran berupa kesenangan," kata Paruolo.

Selain itu, terlalu mengoptimalkan sistem penghargaan otak bisa menyebabkan kelelahan (burnout), ketergantungan pada stimulasi terus-menerus, dan desensitisasi dopamin, catat Dr. Singh.

Ada juga risiko penguatan yang bersifat adiktif. Jika " jangkar" yang dipilih melibatkan pemicu dopamin yang tidak sehat (misalnya doomscrolling atau belanja impulsif), seseorang bisa berakhir memperkuat kebiasaan teralihkan, bukan disiplin diri, kata Dr. Schiff.

 

3 dari 4 halaman

Cara Memulai

Bagi yang penasaran ingin mencoba tren dopamine anchoring, berikut cara melakukannya dengan tepat menurut para ahli:

Bersikap spesifik. Paruolo menyarankan memilih satu tugas atau kebiasaan tertentu yang selama ini konsisten dihindari. Ini harus konkret dan terukur, seperti " membalas email kerja" , " membayar tagihan" , atau " merapikan kamar" , bukan sesuatu yang samar seperti " menjadi lebih produktif" .

Sesuaikan penghargaan dengan tingkat kesulitan tugas. Misalnya, melipat cucian mungkin cocok dipadukan dengan podcast favorit, sementara mengurus pajak mungkin butuh sesuatu yang lebih berarti, seperti makanan takeout favorit setelahnya, kata Paruolo.

Jaga agar jangkar tetap sederhana dan mudah diakses. " Kamu tidak ingin menciptakan sistem penghargaan yang rumit hingga justru menjadi penghalang tersendiri," kata Paruolo. Jika lebih banyak waktu dihabiskan menyempurnakan sistem penghargaan dibanding benar-benar mengerjakan tugasnya, itu hanya menjadi bentuk prokrastinasi lain.

Jangan berharap hasil instan. Motivasi tidak bekerja seperti saklar. Karena itu penting untuk sabar menjalani prosesnya. Wajar juga jika awalnya terasa canggung, sebab sedang menata ulang jalur saraf yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun, kata Paruolo.

Manfaatkan mindfulness. " Mindfulness membantu menjadi lebih sadar dan lebih mampu mendeteksi serta menafsirkan kondisi internal diri sendiri," kata Dr. Schiff. Ini membantu mengenali lonjakan dan penurunan dopamin, serta menciptakan jeda antara stimulus dan respons dengan berhenti sejenak sebelum bertindak. Ini juga membantu menjangkarkan perilaku secara sengaja, bukan impulsif, tambah Dr. Schiff.

Lacak kemajuan. Gunakan jurnal untuk mencatat pemicu, penghargaan, tingkat motivasi, suasana hati, dan efektivitas jangkar yang dipakai, untuk mengetahui apa yang berhasil dan apa yang perlu disesuaikan.

Dan yang terakhir, seperti kebiasaan baru lainnya, ingat bahwa konsistensi lebih penting daripada intensitas.

 

4 dari 4 halaman

Bisakah Otak Benar-Benar Dilatih untuk Kebiasaan yang Lebih Baik?

Ketika masalah yang lebih dalam seperti depresi, ADHD, atau kecemasan menjadi penyebab kesulitan motivasi, dopamine anchoring bisa terasa seperti menempelkan plester pada tulang yang patah. " Ini mungkin memberi kelegaan sementara, tapi tidak mengatasi akar masalahnya," kata Paruolo.

Bahkan, bagi mereka dengan kondisi seperti ADHD, depresi, atau kecanduan, jalur penghargaan di otak sudah mengalami disregulasi, sehingga mencoba memanipulasinya tanpa bimbingan klinis justru bisa memperburuk gejala, catat Dr. Singh.

Paruolo juga menambahkan, penting mempertimbangkan terapi jika dopamine anchoring dipakai untuk menghindari mengatasi masalah emosional yang lebih dalam, seperti perfeksionisme atau ketakutan akan kegagalan, yang justru membuat seseorang terus terjebak dalam siklus prokrastinasi.

Beri Komentar