© Pexels.com/Cottonbro Studio
DREAM.CO.ID - Seseorang dengan hidung tersumbat, tenggorokan terasa penuh lendir, atau suara yang terdengar berat mungkin pernah mendengar tawaran pengobatan tradisional bernama gurah. Dalam praktik yang dikenal masyarakat Jawa, gurah biasanya dilakukan dengan memasukkan atau meneteskan ramuan tertentu ke hidung. Setelah itu, hidung dan tenggorokan dapat mengeluarkan banyak lendir sehingga pasien merasa saluran pernapasannya menjadi lebih lega.
Pengalaman tersebut membuat gurah tetap dikenal hingga sekarang. Namun, muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah gurah benar-benar terbukti sebagai metode pengobatan secara ilmiah?
Apa Sebenarnya Gurah?
Gurah merupakan salah satu praktik pengobatan tradisional yang berkembang di Indonesia, khususnya dalam tradisi masyarakat Jawa. Praktiknya dapat berbeda antara satu tempat dan praktisi dengan tempat lainnya. Secara umum, gurah hidung menggunakan bahan atau ramuan yang diteteskan ke dalam rongga hidung dengan tujuan merangsang keluarnya lendir dari hidung dan saluran pernapasan.
Di masyarakat, gurah kerap dikaitkan dengan berbagai keluhan, mulai dari hidung tersumbat, sinusitis, gangguan tenggorokan, suara, hingga masalah pernapasan tertentu. Sebagian orang juga menggunakannya dengan harapan dapat “ membersihkan” saluran pernapasan.
Di sinilah persoalan ilmiah mulai muncul. Sebuah praktik yang membuat seseorang merasa lebih lega tidak otomatis berarti praktik tersebut telah terbukti mengobati penyakit tertentu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri tidak menganggap pengobatan tradisional sebagai sesuatu yang otomatis tidak ilmiah. WHO justru mendorong penelitian terhadap pengobatan tradisional, tetapi menekankan bahwa keamanan dan efektivitasnya perlu dibuktikan melalui penelitian yang kuat. Strategi pengobatan tradisional WHO 2025–2034 secara khusus menempatkan penguatan bukti ilmiah, keamanan, kualitas, dan regulasi sebagai bagian penting dalam integrasi pengobatan tradisional ke sistem kesehatan.
Efek gurah yang paling mudah diamati adalah keluarnya lendir dalam jumlah cukup banyak setelah ramuan dimasukkan ke hidung. Fenomena tersebut memang dapat terjadi karena rongga hidung memiliki mekanisme pertahanan alami berupa mukus atau lendir.
Ketika suatu cairan atau bahan tertentu masuk ke dalam hidung, jaringan di dalamnya dapat mengalami rangsangan dan menghasilkan respons berupa bersin, peningkatan sekresi, atau keluarnya cairan. Karena itu, banyaknya lendir yang keluar setelah gurah belum dapat menjadi bukti bahwa lendir tersebut merupakan “ racun” atau kotoran yang selama ini menumpuk di dalam tubuh.
Rasa lega setelah lendir keluar juga tidak selalu berarti penyakit yang menjadi penyebabnya telah sembuh. Hidung yang sementara lebih terbuka memang dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman, tetapi penyebab dasar keluhan tetap perlu dinilai.
Jawabannya perlu disampaikan dengan hati-hati: bukti ilmiah yang secara khusus membuktikan gurah sebagai terapi efektif untuk berbagai penyakit masih terbatas.
Penelitian mengenai pengobatan herbal untuk penyakit seperti rinosinusitis kronis memang sudah banyak dilakukan. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang mencakup 80 uji acak terkontrol menemukan adanya manfaat sejumlah terapi herbal terhadap beberapa ukuran gejala rinosinusitis kronis. Namun, peneliti juga menemukan bahwa kualitas metodologis banyak penelitian tersebut masih rendah atau tidak jelas, sehingga diperlukan penelitian yang lebih kuat.
Masalahnya, temuan mengenai obat herbal secara umum tidak dapat langsung digunakan untuk membuktikan gurah. Ramuan, konsentrasi bahan, cara pemberian, dosis, serta prosedur gurah dapat berbeda. Karena itu, penelitian terhadap tanaman tertentu atau terapi herbal tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh praktik gurah efektif.
Dalam penelitian medis, sebuah metode pengobatan idealnya diuji dengan prosedur yang memungkinkan peneliti membandingkan hasilnya secara objektif. Misalnya, apakah pasien yang menjalani gurah mengalami perbaikan lebih besar dibandingkan pasien yang mendapatkan plasebo atau terapi standar? Apakah manfaat tersebut bertahan dalam jangka panjang? Apa efek sampingnya? Dan apakah hasilnya konsisten ketika penelitian dilakukan pada kelompok pasien yang berbeda?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu masih menjadi tantangan dalam penelitian pengobatan tradisional. WHO juga menyatakan bahwa penggunaan suatu pengobatan dalam waktu lama tidak dengan sendirinya membuktikan manfaat dan keamanannya; bukti tersebut tetap perlu diperkuat melalui penelitian ilmiah.
Terbatasnya bukti bukan berarti gurah otomatis berbahaya. Artinya, kita belum memiliki bukti yang cukup untuk memberikan klaim manfaat medis yang luas.
Justru aspek keamanan perlu mendapat perhatian. Rongga hidung merupakan jaringan yang sensitif. Bahan yang diteteskan ke dalam hidung harus memiliki komposisi dan kebersihan yang dapat dipastikan. Risiko dapat muncul apabila ramuan terkontaminasi, konsentrasinya tidak tepat, atau prosedurnya dilakukan tanpa memperhatikan kondisi pasien.
NCCIH, lembaga pemerintah Amerika Serikat yang menangani penelitian pengobatan komplementer, mengingatkan bahwa keamanan produk herbal sangat bergantung pada produk dan cara penggunaannya. Tidak semua produk alami otomatis aman, dan beberapa produk herbal dapat berinteraksi dengan obat atau mengandung kontaminan.
Karena itu, orang yang mengalami hidung tersumbat berulang, nyeri wajah, gangguan penciuman, mimisan, atau keluhan pernapasan yang menetap sebaiknya tidak hanya mengandalkan gurah. Keluhan tersebut dapat memiliki berbagai penyebab dan membutuhkan diagnosis yang tepat.
Gurah dapat ditempatkan sebagai praktik pengobatan tradisional yang masih membutuhkan pembuktian ilmiah lebih kuat, bukan sebagai terapi medis yang efektivitasnya sudah terbukti secara luas.
Perbedaan ini penting. Tradisi dan pengalaman masyarakat tetap dapat menjadi sumber pengetahuan yang menarik untuk diteliti. Bahkan WHO mengakui bahwa pengobatan tradisional memiliki tempat dalam layanan kesehatan, selama integrasinya dilakukan berdasarkan bukti, keamanan, kualitas, dan regulasi yang memadai.
Advertisement
Dari Rumah BUMN hingga Pameran, Cara UMKM Menembus Pasar Global

AI Makin Ancam Manusia, PBB Ingatkan Dunia Jangan Terlambat Mengendalikannya

Inilah Peta Baru Dunia Versi PBB: Eropa dan Amerika Jadi Lebih Kecil. Mengapa?

Tak Lagi ke Bantargebang, Sebagian Limbah Jakarta Belok ke Bank Sampah

Sampah Bisa Jadi Voucher Belanja hingga Pengganti Batubara


Masalah Keuangan Berkepanjangan Bisa Berkaitan dengan Penuaan Otak Lebih Cepat, Ini Penjelasannya

Pemeriksaan Kesehatan yang Penting untuk Perempuan Usia 20-an, 30-an, 40-an, dan 50-an


Tembus 21 Juta Views, 'Kasih Aba-Aba 2.0' Naykilla & Tenxi Jadi Tren TikTok Untuk Sambut Shopee 9.9

7 Aturan Parenting yang Tidak Harus Selalu Diikuti dan 3 Hal yang Wajib Diterapkan Orangtua


Tak Cukup Lihat Klaim di Kemasan, Orang Tua Perlu Lihat Bukti di Balik Susu Formula Anak