© Pexels.com/Mikael Blomkvist
DREAM.CO.ID - Tagihan yang menumpuk, pendapatan yang tidak cukup, atau terus-menerus khawatir apakah uang bulan ini bisa bertahan sampai akhir bulan bukan hanya menguras isi dompet. Kondisi tersebut juga dapat membebani pikiran. Jika berlangsung selama bertahun-tahun, tekanan finansial ternyata berkaitan dengan kondisi otak dan kemampuan berpikir ketika seseorang memasuki usia lebih tua.
Penelitian terbaru dari University College London (UCL) menemukan bahwa orang yang mengalami kesulitan keuangan secara terus-menerus sejak usia dewasa muda hingga paruh baya cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah pada usia 53 tahun. Pada kelompok yang menjalani pemindaian otak, masalah keuangan yang berlangsung lama juga berkaitan dengan beberapa tanda kesehatan otak yang lebih buruk pada usia 69–71 tahun. Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Innovation in Aging.
Mengikuti Kehidupan Ribuan Orang Selama Puluhan Tahun
Peneliti menganalisis data 2.759 orang yang mengikuti British birth cohort study 1946, salah satu penelitian jangka panjang mengenai perkembangan manusia yang dilakukan di Inggris. Para peserta memberikan informasi mengenai kondisi kehidupan mereka selama beberapa tahap kehidupan.
Pendapatan rumah tangga diperiksa ketika peserta berusia 26, 43, dan 53 tahun. Seseorang dikategorikan mengalami pendapatan rendah secara terus-menerus jika masuk dalam kelompok 20 persen terbawah setidaknya dua kali. Sekitar 16 persen peserta masuk dalam kategori ini.
Peneliti juga mengukur kesulitan finansial berdasarkan pengalaman sehari-hari, misalnya kesulitan memenuhi kebutuhan dari pendapatan yang dimiliki atau membayar tagihan. Sekitar 12 persen peserta mengalami masalah finansial yang terus-menerus berdasarkan ukuran tersebut.
Ketika mencapai usia 53 tahun, peserta menjalani tes yang mengukur beberapa kemampuan kognitif, termasuk kecepatan memproses informasi dan kemampuan mengingat kata-kata.
Hasilnya menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengalami pendapatan rendah atau kesulitan finansial sepanjang masa dewasa, semakin rendah pula performa mereka dalam tes tersebut. Hubungan ini tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor lain, termasuk kemampuan kognitif ketika masih kecil, tingkat pendidikan, dan kondisi sosial ekonomi saat masa kanak-kanak.
Menariknya, penelitian menemukan bahwa peserta yang mengalami kesulitan keuangan memiliki penurunan skor memori yang tampak lebih lambat antara usia 53 dan 69 tahun. Namun, peneliti tidak menganggap masalah keuangan sebagai sesuatu yang melindungi kemampuan memori. Kemungkinan penjelasannya justru karena kelompok tersebut sudah memiliki skor lebih rendah sejak usia 53 tahun sehingga ruang untuk mengalami penurunan lebih jauh menjadi lebih kecil.
Peneliti menduga ada beberapa mekanisme yang mungkin menjelaskan hubungan tersebut. Salah satunya adalah stres kronis. Kekhawatiran mengenai uang yang berlangsung selama bertahun-tahun dapat membuat tubuh dan pikiran terus berada dalam kondisi tertekan. Stres berkepanjangan diketahui dapat memengaruhi berbagai proses biologis yang berkaitan dengan kesehatan otak.
Masalah keuangan juga dapat meningkatkan beban kognitif. Ketika seseorang terus memikirkan tagihan, utang, kebutuhan keluarga, atau bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian kapasitas mentalnya tersita untuk memikirkan persoalan tersebut. Akibatnya, sumber daya kognitif yang tersedia untuk perhatian, pengambilan keputusan, dan tugas mental lainnya bisa berkurang.
Pada kelompok yang menjalani pemindaian MRI ketika berusia sekitar 69–71 tahun, pendapatan rendah yang berlangsung lama berkaitan dengan volume ventrikel otak yang lebih besar. Pembesaran ruang berisi cairan di dalam otak tersebut merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai kesehatan otak.
Meski hasilnya menarik, penelitian ini tidak membuktikan bahwa kesulitan keuangan secara langsung menyebabkan otak menua lebih cepat. Penelitian tersebut bersifat observasional sehingga masih mungkin terdapat faktor lain yang ikut memengaruhi hubungan tersebut.
Namun, temuan ini menunjukkan bahwa dampak masalah ekonomi mungkin tidak berhenti ketika persoalan keuangan berlalu. Kesulitan yang berlangsung selama puluhan tahun dapat berkaitan dengan kesehatan fisik dan kognitif di kemudian hari.
Para peneliti karena itu menilai upaya mengurangi kemiskinan dan membantu masyarakat yang menghadapi tekanan finansial pada usia produktif bukan hanya persoalan ekonomi saat ini. Dalam jangka panjang, dukungan tersebut berpotensi ikut berperan dalam menjaga kesehatan otak dan mengurangi risiko penurunan kognitif pada usia lanjut.
Advertisement

Es Batu atau Air Es, Mana yang Lebih Cepat Mendinginkan Minuman? Jawabannya Ternyata Mengejutkan


Mengapa Mencetak Uang Lebih Banyak Tidak Bisa Membuat Negara Lebih Kaya?


Masalah Keuangan Berkepanjangan Bisa Berkaitan dengan Penuaan Otak Lebih Cepat, Ini Penjelasannya

Oli Palsu Marak, QTRUST Hadirkan SeQure untuk Cek Keaslian Produk

3,3 Juta Lansia Terdampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Ini yang Terjadi Saat Masuk ke Tubuh