Gunung Anak Krakatau
DREAM.CO.ID - Datanglah debu itu. Abu letusan Gunung Anak Krakatau menghambur hingga ke langit Jakarta. Material vulkanik gunung di Selat Sunda ini terpotret oleh citra satelit, mereka berarak ke berbagai penjuru.
Laman Laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BNKG) mencatat sebaran abu dalam dua klaster. Catatan itu berdasar informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada Minggu 6 September 2026 pukul 08.00 WIB.
Klaster pertama, sebaran dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki mengarah ke timur laut-selatan. " Mencakup sebagian DK Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta perairan sekitarnya," demikian keterangan laman BMKG.
Kedua, sebaran dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki mengarah ke barat daya-barat laut. Abu vulkanik pada klaster ini menyebar ke sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudera Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Dampaknya langsung terasa. Bandara Internasional Soekarno-Hatta ditutup sejak Minggu pukul 01.30 WIB. Rencana semula, bandara berhenti operasi hingga pukul 05.30 WIB. Namun, kemudian diperpanjang hingga 09.30 WIB. Ada 33 penerbangan terganggu, internasional dan domestik: 16 dibatalkan, 7 ditunda, 5 dijadwalkan ulang.
Gunung Anak Krakatau boleh dibilang masih muda. Baru muncul 1927. Namun jika ditarik ke belakang lagi, ia jauh lebih tua. Sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari Gunung Krakatau.
Gunung ini berdiri di atas Pulau Krakatau. Orang juga menyebutnya Pulau Rakata. Sebelum gunung itu meletus, pulau ini luasnya sekitar 33,5 kilometer persegi. Rakata berdampingan dengan Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Di atas Rakata itulah berdiri Gunung Krakatau, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.
Satu setengah abad silam, Gunung Krakatau meletus hebat. Jadi erupsi terbesar dalam sejarah modern. Puncaknya terjadi pada 27 Agustus 1883. Letusan ini membuat Rakata dan Gunung Krakatau runtuh. Diikuti pula oleh runtuhnya Gunung Danan dan Perbuatan ke dasar
Letusan Gunung Krakatau memuntahkan jutaan ton material berupa batu, lumpur, dan debu yang menutupi wilayah seluas 827.000 km².
Abu vulkanik menyembur 50 sampai 90 kilometer, menyebar sampai Islandia dan Kanada. Langit menjadi gelap. Angkasa tertutup debu vulkanik. Sebagian besar sinar matahari tak bisa menembus atmosfir bumi. Iklim dunia berubah drastis, musim dingin lebih panjang daripada musim panas. Akibatnya, suhu bumi turun.
Yang tak kalah dahsyat, letusan Krakatau memicu tsunami di sekitar Selat Sunda. Dalam catatan sejarah, gelombang tsunami Krakatau pada permukaan laut meliputi paling sedikit seluas 4000 km². Sebanyak 36.000 orang meninggal dunia akibat gelombang pasang yang menerjang daratan itu.
Setelah letusan legendaris itu, Krakatau tidak benar-benar " mati" . Runtuhnya Krakatau tak lantas membuat aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda itu padam. Dalam kaldera baru yang terbentuk akibat erupsi 1883, dapur magma membangun kerucut baru.
Pada Desember 1927, muncul aktivitas erupsi bawah laut. Proses itu terus berulang hingga membentuk daratan baru di atas permukaan laut. Daratan baru inilah yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau. Sejak itu, gunung api aktif bertipe A itu mengalami rentetan letusan-letusan dalam skala kecil.
Letusan kembali terjadi pada 2018. Pada 22 Desember tahun itu, letusan disertai runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau menyebabkan gelombang tsunami di Selat Sunda. Sebanyak 430 orang dilaporkan meninggal.
Setelah itu, rentetan letusan Gunung Anak Krakatau terus terjadi meski dalam skala rendah. Gunung Anak Krakatau tidak pernah benar-benar tidur. Sejak Desember 2018 itu, gunung ini kembali tumbuh. Menghimpun kekuatan.
Aktivitas Anak Krakatau kembali menggeliat pertengahan tahun ini. Pada 2 Juli 2026 berstatus Level III. Siaga. Letupan terus terjadi hingga September, menyemburkan debu vulkanik dan batuan pijar.
Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau terus-menerus erupsi. Sejak itu, suara gemuruh terdengar hingga pukul 04.40 WIB. Dari Pos Pantau PGA Krakatau Pasauran semburan terlihat merah menyala.
Fenomena erupsi Gunung Anak Krakatau itu menyerupai “ lava fountain” atau lava air mancur yang menghasilkan aliran lava. Masyarakat di sejumlah wilayah, seperti Jawa Barat, Banten, dan Lampung, melaporkan mendengarkan dentuman dan merasakan getaran yang diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau.
Namun, hasil evaluasi Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut pertumbuhan Gunung Anak Krakatau setelah letusan 22 Desember 2018 relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meski demikian, perkembangannya terus dipantau.
Advertisement

Anak Laki-Laki dan Perempuan Harus Diasuh Berbeda? Ini Penjelasan Psikologi Anak

Kulit Kering dan Gatal atau Eksim? Kenali Perbedaannya Sebelum Memilih Pelembap

Penelitian Ungkap Mengapa Otak dengan ADHD Mungkin Lebih Kreatif?

Abu Vulkanik Letusan Anak Krakatau Sampai Jakarta, Bandara Soekarno Hatta Ditutup Sementara

Es Batu atau Air Es, Mana yang Lebih Cepat Mendinginkan Minuman? Jawabannya Ternyata Mengejutkan

Ceramide, Filaggrin, dan Niacinamide untuk Kulit Sensitif: Apa Fungsinya?

Skin Barrier Rusak pada Kulit Eksim: Tanda, Penyebab, dan Cara Merawatnya