Pengelolaan Sampah/ Foto: Pexels
Jakarta - Pernah membayangkan seberapa banyak jumlah sampah plastik yang kamu hasilkan dalam satu bulan? Mulai dari air minum kemasan, produk toiletries, skincare, makeup, jajanan hingga bumbu dapur. Produk kemasan dari berbagai FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) di Indonesia memang jadi kesukaan masyarakat. Harganya yang sangat terjangkau,dan bisa langsung dikonsumsi dengan kemasan praktis yang memanjakan konsumen.
Di balik ‘kenyamanan’ tersebut, ada efek lain yang bisa berdampak pada lingkungan dan masyarakat secara jangka panjang. Tumpukan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang terus bertambah setiap harinya, tidak diolah dengan efektif dan efisien. Hal yang muncul tentunya polusi yang sangat merugikan, mulai dari air yang tercemar, bau yang menyengat, asap pembakaran, hingga mikroplastik yang memenuhi tanah dan air.
Data dari World Bank, jumlah sampah plastik di Indonesia diperkirakan sekitar 7,8 juta ton per tahun, dengan sekitar 4,9 juta ton di antaranya tidak terkelola dengan baik. Untuk meminimalisir dampak buruk dari sampah produk kemasan, terutama yang sekali pakai, berbagai perusahaan FMCG mencoba mengembangkan sistem dan program tertentu.

Mulai dari menyediakan bank sampah, berkolaborasi dengan berbagai stakeholders untuk pengelolaan sampah hingga membuat para konsumennya untuk lebih aktif dan peduli untuk memilah. Ada beberapa program yang cukup menarik dari perusahaan FMCG ini dalam pengelolaan sampah.
Penasaran seperti apa? Mari kita kulik beberapa sistem dan program yang sudah berjalan.
Voucher Belanja
Buat kamu yang hobi berburu voucher, kini banyak brand yang membuat program penukaran sampah kemasan yang bisa ditukar sejumlah poin. Saat poin sudah mencapai angka tertentu, nantinya bisa ditukar dengan voucher belanja produk. Menarik, bukan?
Salah satunya Nestle, berkolaborasi dengan Rekosistem yang menyediakan fasilitas Waste Station. Dikutip dari Nestle.co.id station ini berfungsi untuk mengumpulkan dan mengelola sampah anorganik secara optimal dan berkelanjutan.

Konsumen dapat menyetorkan seluruh material sampah jenis anorganik seperti kertas, kardus, plastik, sachet, kaleng, kaca, dan juga minyak jelantah. Saat menyetor di Waste Station, konsumen akan mendapat sejumlah poin yang nantinya akan bisa ditukar dengan voucher untuk berbelanja di toko ritel tertentu.
Program yang juga mirip, dibuat oleh Aquviva, produk Air Minum dalam Kemasan (AMDK) Wings Group yang menyediakan Plasticpay, yaitu alat atau station yang bisa langsung jadi tempat penukaran botol plastik untuk menjadi poin-poin.
Dikutip dari Aquviva.co.id, station ditempatkan di beberapa titik di Jakarta, Tangerang dan Bali. Konsumen yang membuang botol di station tersebut bisa membantu mengumpulkan sampah botol plastik. Untuk reward-nya, di poin tertentu bisa ditukar dengan e-money. Sudah pernah coba?
Pengganti Batu Bara
Banyak yang belum tahu kalau sampah plastik, bisa diolah menjadi bahan bakar pengganti batubara dan sudah dimanfaatkan dengan sangat baik di Indonesia, seperti oleh PLN dan beberapa pabrik semen.
Hal tersebut karena sampah plastik dengan teknologi tertentu diolah sedemikian rupa menjadi bahan bakar yaitu RDF/ Refuse Derived Fuel (Bahan Bakar Turunan Sampah). Bahan bakar tersebut, dikutip dari Babelprov.go.id, diproduksi dari komponen yang mudah terbakar yang oleh industri yang disebut Limbah Padat Kota atau MSW untuk kemudian menjadi sumber bahan bakar yang bisa jadi pengganti batubara.

RDF sendiri merupakan sumber energi terbarukan yang memastikan limbah tidak hanya dibuang ke tempat pembuangan sampah, tetapi dimanfaatkan dengan baik. Beberapa perusahaan FMCG seperti Unilever memanfaatkan pengolah RDF ini.
Dikutip dari Unilever.co.id, Unilever bekerja sama dengan pemerintah provinsi DKI Jakarta dan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), pada September 2020 melakukan kegiatan penambangan TPA atau landfill mining pada zona tidak aktif TPST Bantargebang. Di TPA tersebut, sampah khususnya plastik diproses menjadi material bahan bakar alternatif pengganti batu bara atau Refuse Derived Fuel (RDF) di pabrik semen PT SBI Narogong.
Dari program pengolahan sampah tersebut, menurut kamu mana yang paling menarik berdampak?
Advertisement

Es Batu atau Air Es, Mana yang Lebih Cepat Mendinginkan Minuman? Jawabannya Ternyata Mengejutkan


Mengapa Mencetak Uang Lebih Banyak Tidak Bisa Membuat Negara Lebih Kaya?


Pemeriksaan Kesehatan yang Penting untuk Perempuan Usia 20-an, 30-an, 40-an, dan 50-an

Masalah Keuangan Berkepanjangan Bisa Berkaitan dengan Penuaan Otak Lebih Cepat, Ini Penjelasannya

Oli Palsu Marak, QTRUST Hadirkan SeQure untuk Cek Keaslian Produk