Tak Lagi ke Bantargebang, Sebagian Limbah Jakarta Belok ke Bank Sampah

Reporter : Eko
Selasa, 8 September 2026 13:01
Tak Lagi ke Bantargebang, Sebagian Limbah Jakarta Belok ke Bank Sampah
Sampah Jakarta tak harus berakhir di Bantargebang. Dengan memilah dari sumber, limbah yang semula menjadi beban dapat kembali menjadi sumber daya ekonomi.

DREAM.CO.ID - Pramono Anung menyampaikan kabar baik. Saat menjadi keynote speaker dalam acara Local Hero Indonesia Forum 2026 di Grha Ali Sadikin pada 31 Agustus lalu, Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa setoran sampah Ibu Kota ke Bantargebang turun hingga lebih dari 500 ton per hari.

Saban hari, Jakarta menghasilkan 9.000 ton sampah. Setahun totalnya 3,17 juta ton. Setiap hari pula sebanyak 7.400 dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat. Pada akhir pekan, berat sampah yang diangkut bisa sampai 8.000 ton.

Untuk mengurangi kiriman ke Bantargebang, Pemerintah Jakarta mengubah cara mereka dalam menangani sampah. Bukan lagi menggunakan pola lama: angkut-buang. Kini, penanganan sampah Ibu Kota menjadi pilah, angkut, dan olah. Sebagian dibelokkan ke pengolahan.

Gerakan pilah sampah di Jakarta dicanangkan pada 10 Mei 2026. Program ini dituangkan dalam Instruksi Gubernur Nomor 5 tahun 2026 tentang Gerakan Pemilihan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber. Sejak itu, gerakan ini kian masif.

Persentase rumah tangga yang terlibat dalam gerakan memilah sampah melambung dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen. Sementara, pengelolaan sampah organik di 2.247 bank sampah naik dari 1.046 ton menjadi 1.432 ton. Perubahan sudah terlihat. Sejak upaya itu, kiriman sampah Jakarta ke Bantargebang berkurang.

Pengolahan sampah (Pexels.com/ Tom Fisk)

Nilai Ekonomis

Memang tak semua sampah berakhir sia-sia. Sebagian masih memiliki nilai ekonomi. Banyak sampah yang bisa didaur ulang. Di sanalah pemilahan sampah jadi penting. Proses ini akan " membelokkan" limbah yang masih berguna ke bank sampah.

Mari kita melihat potensi sampah di Indonesia dengan kacamata ekonomi sirkular. Kita buka studi yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, United Nations Development Programme (UNDP), dan Kedutaan Besar Denmark di Jakarta.

Laporan berjudul " Manfaat Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan, dari Ekonomi Sirkular di Indonesia" yang diterbitkan Januari 2021 itu mengupas potensi ekonomi sirkular di Indonesia pada lima sektor: makanan dan minuman, tekstil, konstruksi, perdagangan, serta listrik dan elektronik.

Pengolahan sampah (Pexels.com/ Vikram Aditya)

Riset itu menyebut kelima sektor ini mempresentasikan 1/3 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Bidang-bidang itu juga mempekerjakan lebih dari 43 juta orang pada 2019.

Saat laporan itu dibuat, limbah makanan dan minuman di Indonesia mencapai 54,7 juta ton. Angka itu diprediksi naik 54 persen pada 2030. Limbah tekstil sebanyak 2,3 juta ton, dan diperkirakan naik 70 persen pada 2030.

Limbah konstruksi pada saat studi itu disusun mencapai 29 juta ton. Laporan itu memprediksi angka itu bakal naik 82 persen pada 2030. Sedangkan perdagangan menyumbang 5,4 juta ton limbah yang kebanyakan sampah plastik, dan diprediksi naik 39 persen pada 2030.

Tapi, studi ini melihat polusi menjadi solusi. Ekonomi sirkular mengubah sampah-sampah yang selalu menggunung itu menjadi sumber cuan. Laporan ini menyebut ekonomi sirkular pada lima sektor itu berpotensi menghasilkan PDB tambahan sebesar Rp593 triliun hingga Rp638 triliun bagi Indonesia pada 2030.

Di sektor lingkungan, ekonomi sirkular bisa mengurangi limbah di Indonesia pada tiap sektor sekitar 18 hingga 52 persen pada 2030. Selain itu diperkirakan akan mengurangi emisi CO2 sebesar 126 juta ton dan penggunaan air sebesar 6,3 miliar meter kubik di 2030.

Sedangkan keuntungan sosialnya diprediksi mampu menciptakan 4,4 juta lapangan kerja baru pada 2030, menambah tabungan rumah tangga hampir sembilan persen pada 2030.

Pengolahan sampah (Pexels.com/ Junayin Hosain)

Bisnis Hijau

Namun, memaksimalkan potensi itu bukan urusan gampang. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pemerintah Jakarta yang mampu memangkas kiriman sampah ke TPST Bantargebang itu juga butuh kerja sama semua pihak, mulai pemerintah hingga masyarakat.

" Karena untuk menyelesaikan persoalan sampah tidak bisa sendirian," ucap Pramono, dikutip dari laman beritajakarta.id.

Urusan sampah memang menjadi pekerjaan bersama. Pemerintah tak bisa sendiri. Kini sudah banyak pihak yang peduli dengan lingkungan. Sejumlah entitas bisnis juga melirik " bisnis hijau" . Salah satu kisahnya datang dari sektor perbankan yang dilakukan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk alias BNI.

Sejak 2017, bank pelat merah ini menjalankan Program BNI Agen46 Bank Sampah. Cara ini diharapkan mengurangi dampak buruk bagi lingkungan. " Melalui Program BNI Agen46 Bank Sampah, kami menghadirkan solusi agar masyarakat bisa berkontribusi menjaga lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi,” ujar Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, dikutip dari laman resmi BNI.

Pengolahan sampah (Pexels.com/ CP Khanal)

Skema ini mengajak masyarakat memilah dan menyetorkan sampah anorganik bernilai ekonomis, seperti botol plastik, kardus, logam, hingga minyak jelantah. Sampah yang telah ditimbang dikonversi menjadi saldo tabungan di rekening BNI milik nasabah.

Proses konversi dilakukan real-time melalui sistem BNI Agen46 dengan menggunakan mesin Electronic Data Capture (EDC). Sampah yang terkumpul kemudian dibeli oleh mitra pengepul untuk didaur ulang dan diolah kembali.

“ Dengan BNI Agen46 Bank Sampah, sampah bisa menjadi tabungan dan lingkungan menjadi lebih bersih serta nyaman. Program ini merupakan wujud komitmen BNI dalam mendukung keberlanjutan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat,” tambah Okki.

Bisa dibayangkan betapa besarnya potensi skema ini. Sebaran Agen BNI46 cukup luas. Jika kita buka sustainability report tahun 2025, mereka memiliki 217.013 Agen BNI46 yang menjangkau 6.174 kecamatan, sebanyak 21,4 juta rekening dengan dana nasabah sebesar Rp2,6 triliun.

Kini, kembali lagi ke Jakarta. Beban Bantargebang tak akan pernah benar-benar ringan jika Ibu Kota hanya sibuk mengangkut dan membuang sampahnya. Salah satu jalan keluarnya dimulai jauh sebelum mesin truk menyala: memilah dari sumber, mengolah yang masih bernilai, lalu mengembalikannya ke dalam siklus ekonomi.

Beri Komentar