Benarkah Gempa Bumi Bisa Membuat Hari Menjadi Lebih Pendek?

Reporter : Abidah
Kamis, 10 September 2026 08:00
Benarkah Gempa Bumi Bisa Membuat Hari Menjadi Lebih Pendek?
Gempa memang dapat membuat hari menjadi sedikit lebih pendek. Namun, bukan berarti jam tiba-tiba kehilangan beberapa menit setelah gempa besar.

DREAM.CO.ID - Pada 11 Maret 2011, gempa dahsyat mengguncang lepas pantai Jepang dan memicu tsunami besar yang menewaskan ribuan orang. Gempa Tohoku dengan magnitudo sekitar 9 itu tidak hanya mengubah permukaan Jepang. Peristiwa tersebut juga menggeser massa batuan dalam skala besar dan, menurut perhitungan ilmiah, membuat Bumi berputar sedikit lebih cepat. Akibatnya, panjang satu hari berkurang dalam hitungan sepersekian juta detik.

Sekilas, gagasan bahwa gempa bisa mengubah panjang hari terdengar seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Bagaimana mungkin gerakan kerak Bumi memengaruhi waktu? Penjelasannya berkaitan dengan prinsip fisika yang sederhana: kekekalan momentum sudut. Prinsip ini menjelaskan mengapa seorang peseluncur es yang sedang berputar akan berputar lebih cepat ketika menarik kedua tangannya mendekati tubuh.

Kecepatan putaran suatu benda tidak hanya bergantung pada seberapa cepat benda itu berputar, tetapi juga pada bagaimana massanya tersebar dari pusat rotasi. Dalam fisika, ukuran ini disebut momen inersia. Ketika massa bergerak mendekati sumbu rotasi, momen inersia berkurang. Karena momentum sudut harus tetap, kecepatan putaran meningkat.

Prinsip yang sama berlaku pada Bumi. Planet ini terus berputar pada porosnya. Ketika gempa sangat besar mengubah distribusi massa Bumi, perubahan tersebut dapat memengaruhi kecepatan rotasinya, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.

Gempa Tohoku 2011 merupakan salah satu contohnya. Gempa terjadi di zona subduksi, tempat satu lempeng tektonik bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya. Pergerakan di sepanjang patahan menggeser massa batuan dalam jumlah sangat besar. Data geodesi menunjukkan bahwa patahan mengalami pergeseran puluhan meter di beberapa bagian. Studi USGS, misalnya, memperkirakan pergeseran maksimum sekitar 33 meter dalam model tertentu, sementara penelitian lain mencatat pergeseran lebih dari 50 meter pada bagian dangkal patahan.

1 dari 1 halaman

Perubahan distribusi massa tersebut secara teori membuat Bumi berputar sedikit lebih cepat. Perhitungan awal ilmuwan NASA Richard Gross memperkirakan gempa Jepang memendekkan panjang hari sekitar 1,8 mikrodetik, atau 1,8 juta bagian dari satu detik. Setelah menggunakan model patahan yang lebih baik, perhitungan tersebut diperbarui menjadi sekitar 1,4 mikrodetik per hari.

Angka tersebut sangat kecil sehingga manusia sama sekali tidak dapat merasakannya. Bahkan, perubahan itu tidak dapat begitu saja dibaca menggunakan jam biasa. Rotasi Bumi sendiri terus berubah akibat berbagai faktor lain, termasuk angin atmosfer, arus laut, serta interaksi gravitasi dengan Bulan.

Hal lain yang sering keliru dalam pemberitaan adalah klaim bahwa gempa Jepang " menggeser poros Bumi" . Pernyataan itu membutuhkan penjelasan. Gempa tidak membuat poros rotasi Bumi bergeser di ruang angkasa. Yang berubah adalah figure axis, yaitu garis yang berkaitan dengan distribusi dan keseimbangan massa Bumi. NASA menjelaskan bahwa sumbu ini berbeda dari sumbu rotasi Bumi dan keduanya memang tidak sepenuhnya berimpit.

Perubahan posisi figure axis akibat gempa 2011 diperkirakan sekitar belasan sentimeter. Sementara itu, perubahan fisik yang jauh lebih mudah diamati terjadi pada permukaan Jepang. Sistem GPS mencatat pergeseran kerak Bumi akibat gempa tersebut, dengan sejumlah wilayah bergerak beberapa meter. Studi geodesi menggunakan data GPS dan pengukuran lain untuk merekonstruksi bagaimana patahan bergerak selama gempa.

Gempa bukan satu-satunya faktor yang menentukan panjang hari. Bahkan, pengaruhnya sangat kecil dibandingkan proses lain yang berlangsung terus-menerus. Perubahan angin, pergerakan massa air di lautan, dan gaya pasang surut Bulan dapat mengubah kecepatan rotasi Bumi dalam skala yang jauh lebih besar.

Jadi, gempa memang dapat membuat hari menjadi sedikit lebih pendek. Namun, bukan berarti jam tiba-tiba kehilangan beberapa menit setelah gempa besar. Pada gempa Jepang 2011, perubahan yang dihitung hanya sekitar 1,4 mikrodetik. Fenomena tersebut justru menunjukkan betapa sensitifnya sistem Bumi: pergeseran batuan yang berlangsung dalam hitungan menit dapat meninggalkan jejak pada gerak rotasi planet, meskipun perubahan waktunya terlalu kecil untuk dirasakan manusia.

Beri Komentar