Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
© Pexels.com/DS Stories
DREAM.CO.ID - Pernah merasa pekerjaan yang biasanya mudah tiba-tiba terasa sangat berat? Pada hari tertentu, seseorang bisa menyelesaikan banyak tugas hanya dalam beberapa jam. Namun, keesokan harinya, pekerjaan yang sama terasa membutuhkan tenaga dan konsentrasi jauh lebih besar.
Perubahan tersebut ternyata bukan sekadar soal kemauan atau kedisiplinan. Penelitian dari University of Toronto Scarborough menunjukkan bahwa ketajaman mental yang berubah dari hari ke hari dapat memengaruhi seberapa banyak seseorang mampu menyelesaikan pekerjaannya.
Dalam kondisi mental yang lebih tajam dari biasanya, seseorang bukan hanya cenderung menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, tetapi juga menetapkan target yang lebih tinggi. Dampaknya cukup besar. Peneliti memperkirakan perbedaan ketajaman mental dapat membuat produktivitas seseorang bergeser sekitar 30 hingga 40 menit dalam satu hari.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances tersebut mengikuti para peserta selama 12 minggu untuk mengetahui mengapa kemampuan seseorang dalam menjalankan rencana dapat berubah dari satu hari ke hari berikutnya.
Ketajaman Mental Menentukan Produktivitas Harian
Para peneliti mendefinisikan ketajaman mental sebagai kemampuan untuk berpikir secara jernih, fokus, dan efisien pada waktu tertentu.
Ketika kondisi tersebut berada pada tingkat tinggi, seseorang biasanya lebih mudah berkonsentrasi, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas. Sebaliknya, ketika ketajaman mental menurun, aktivitas sederhana sekalipun dapat terasa lebih sulit.
Menariknya, penelitian ini tidak sekadar membandingkan orang yang memang memiliki kemampuan kognitif berbeda. Para peneliti justru mengikuti orang yang sama dari waktu ke waktu.
Peserta penelitian yang merupakan mahasiswa menjalani tes singkat setiap hari untuk mengukur kecepatan dan ketepatan berpikir. Mereka juga melaporkan target yang ingin dicapai, produktivitas, suasana hati, waktu tidur, serta beban pekerjaan.
Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti melihat bagaimana perubahan kondisi mental seseorang berhubungan langsung dengan keberhasilannya menjalankan aktivitas sehari-hari.
Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup konsisten. Ketika mahasiswa berada dalam kondisi mental yang lebih tajam dibandingkan kondisi normal mereka, mereka cenderung menyelesaikan lebih banyak target.
Efek tersebut terlihat terutama ketika mereka mengerjakan tugas akademik. Mereka bukan hanya lebih mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga cenderung menetapkan sasaran yang lebih tinggi.
Sebaliknya, ketika ketajaman mental berada di bawah tingkat biasanya, kemampuan menyelesaikan tugas ikut menurun. Bahkan pekerjaan rutin dapat terasa lebih sulit.
Temuan ini juga tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh kepribadian. Sifat seperti ketekunan atau kemampuan mengendalikan diri memang berhubungan dengan performa secara keseluruhan, tetapi tidak membuat seseorang terbebas dari hari-hari ketika produktivitasnya menurun.
Dengan kata lain, orang yang sangat disiplin sekalipun tetap dapat mengalami hari ketika otaknya tidak bekerja seoptimal biasanya.
Salah satu temuan yang menarik adalah besarnya dampak perubahan ketajaman mental tersebut.
Berdasarkan analisis terhadap performa kognitif selama jam kerja, peneliti memperkirakan seseorang dapat mengalami perubahan produktivitas sekitar 30 hingga 40 menit ketika kondisi mentalnya berada di atas atau di bawah tingkat biasanya.
Jika dibandingkan antara hari terbaik dan hari terburuk, selisihnya bahkan dapat mencapai sekitar 80 menit waktu produktif.
Temuan ini memberikan perspektif berbeda terhadap produktivitas. Ketika seseorang merasa tidak mampu bekerja seefektif biasanya, masalahnya belum tentu terletak pada kurangnya motivasi atau disiplin. Kondisi otak pada hari tersebut juga dapat memainkan peran penting.
Lantas, mengapa ketajaman mental seseorang bisa berubah setiap hari?
Penelitian menunjukkan bahwa tidur menjadi salah satu faktor penting. Peserta cenderung memiliki performa mental yang lebih baik setelah mendapatkan waktu tidur lebih banyak dibandingkan biasanya.
Waktu dalam sehari juga berpengaruh. Kemampuan kognitif cenderung lebih baik pada awal hari dan secara bertahap menurun seiring berjalannya waktu.
Motivasi dan kemampuan mempertahankan fokus juga berkaitan dengan ketajaman mental yang lebih tinggi. Sebaliknya, suasana hati depresif berhubungan dengan performa mental yang lebih rendah.
Beban kerja memberikan hasil yang lebih kompleks. Bekerja lebih lama dalam satu hari justru dapat berkaitan dengan ketajaman mental yang lebih tinggi karena seseorang mampu meningkatkan usaha ketika menghadapi tuntutan tertentu.
Namun, kondisi tersebut tidak berlaku jika berlangsung terus-menerus.
Peneliti menemukan bahwa bekerja keras selama satu atau dua hari mungkin masih dapat ditoleransi oleh tubuh dan otak. Masalah muncul ketika seseorang terus bekerja dalam waktu panjang tanpa memberikan kesempatan untuk beristirahat.
Periode kerja berlebihan dalam jangka panjang berkaitan dengan penurunan ketajaman mental. Pada akhirnya, kondisi tersebut justru dapat membuat seseorang semakin sulit mempertahankan produktivitas.
Fenomena ini sejalan dengan konsep burnout, ketika tekanan dan tuntutan yang berlangsung terus-menerus menguras sumber daya fisik dan mental seseorang.
Karena itu, memaksakan produktivitas setiap hari dengan durasi kerja yang semakin panjang bukan selalu strategi yang efektif. Dalam jangka panjang, kurang istirahat dapat membuat kemampuan berpikir dan menyelesaikan pekerjaan ikut menurun.
Meskipun penelitian ini melibatkan mahasiswa, temuan tersebut memberikan sejumlah pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, cukup tidur. Tidur bukan sekadar waktu ketika tubuh berhenti beraktivitas, tetapi bagian penting dari pemulihan fungsi kognitif.
Kedua, hindari bekerja berlebihan dalam jangka panjang. Bekerja keras sesekali mungkin diperlukan untuk memenuhi tenggat waktu, tetapi menjadikannya pola terus-menerus dapat berdampak buruk pada ketajaman mental.
Ketiga, perhatikan kondisi suasana hati dan kesehatan mental. Kondisi emosional dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk fokus dan menjalankan rencana.
Pada akhirnya, produktivitas manusia memang tidak selalu bergerak dalam garis lurus. Ada hari ketika pikiran terasa jernih dan pekerjaan mengalir dengan mudah, tetapi ada pula hari ketika tugas sederhana terasa lebih berat.
Memahami perubahan tersebut dapat membantu seseorang mengatur ekspektasi terhadap dirinya sendiri. Tidak semua hari harus menjadi hari paling produktif. Terkadang, memberikan waktu bagi otak untuk beristirahat justru menjadi bagian dari cara mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

Pembalut dan Buku Kena Pajak, Barang Apa Lagi yang Tanpa Sadar Dipajaki?

6 Tips agar Perjalanan dengan Bayi Lebih Nyaman dan Minim Drama

Tak Selalu Bawa Sajadah, Inisiatif Ini Bantu Jamaah Salat Jumat Lebih Nyaman