© 2026 Operasi Jarak Jauh (Pixabay.com- Hysw001)
DREAM.CO.ID - Seribu kilometer lebih. Itulah jarak Jakarta-Bali. Dua jam lebih jika ditempuh pakai pesawat. Bisa sehari semalam apabila lewat jalur darat. Tapi bentang itu bukan lagi menjadi soal bagi seorang dokter untuk melakukan operasi, meski terpisah jarak sedemikian jauh dengan pasiennya.
Adalah Dr. dr. Herbert Situmorang, SpOG, Subsp.F.E.R. yang menaklukkan jarak itu. Pada 6 Agustus 2026, Herbert yang berada di Bali melakukan tindakan medis kepada pasien yang sedang terbaring di atas meja operasi RSCM Kencana, Jakarta.
Dari Pulau Dewata itu, Herbert mengendalikan sistem robotik di Jakarta untuk melakukan histerektomi. Tindakan pengangkatan rahim. Pasiennya adalah perempuan berusia 47 tahun. Pasien yang telah punya tiga anak itu mengalami perdarahan.
Operasi jarak jauh itu dilakukan setelah melalui berbagai pertimbangan medis. Salah satunya kondisi pasien yang memungkinkan untuk menjalani operasi dengan bantuan sistem robotik. Ini menjadi operasi ginekologi jarak jauh berbasis robotik pertama di Indonesia.
Herbert tidak memegang alat bedah langsung. Dia mengendalikan konsol robotik yang terhubung dengan sistem di RSCM Kencana. Gerakan tangan Herbert diterjemahkan oleh sistem robot untuk membedah pasien.
“ Pembedahan robotik ini merupakan operasi ginekologi jarak jauh pertama yang dikerjakan di Indonesia,” kata Herbert, dikutip dari Liputan6.com, Jumat 11 September 2026.

Bukan cuma soal kemampuan dokter, keberhasilan operasi jarak jauh itu juga ditentukan faktor lain. “ Teknologi sistem robotik dan konektivitas internet yang digunakan telah memenuhi persyaratan untuk mendukung pelaksanaan pembedahan jarak jauh secara aman," kata dia.
Operasi itu bertepatan dengan penyelenggaraan APAGE (Asia Pacific Association for Gynecologic Surgery) 26th Annual Meeting yang digelar bersamaan dengan IGES (Indonesian Gynecological Endoscopy Society) 13th Annual Meeting di Jimbaran Convention Center, Bali.
Herbert melakukan operasi itu di hadapan sekitar 800 ahli bedah robotik dari kawasan Asia Pasifik dan Amerika Serikat. “ Ini pertama kalinya juga saya melakukan operasi dengan menggunakan jas di hadapan 800 para ahli bedah robotik dari Asia Pasifik dan Amerika Serikat,” ujarnya.
Tetap Ada Dokter
Herbert memang melakukan operasi dari Bali. Namun demikian, bukan berarti tak ada dokter di ruang operasi RSCM. Di sisi pasien tetap ada dokter yang mendampingi.
Para dokter yang mendampingi pasien di ruang operasi RSCM itu antara lain dr. Riyan Hari Kurniawan, SpOG, Subsp.FER; dr. Ferdhy Suryadi Suwandinata, SpOG, Subsp.FER; Prof. Dr. dr. Hariyono Winarto, SpOG, Subsp.Onk(K); Dr. dr. M. Suskhan Djusad, SpOG, Subsp.Urogin, Re(K); serta dr. Luther Holan Parasian N, Sp.An-TI. Mereka memantau kondisi pasien dan menjadi bagian penting dari sistem keselamatan dalam prosedur tersebut.
“ Tangan-tangannya (tangan robot) itu bergerak, bukan dokter Ian yang menggerakkan, tapi dari Bali yang menggerakkan,” jelas Herbert.
Menurut dia, teknologi robotik memberi sejumlah keuntungan dalam tindakan bedah. Bagi dokter, sistem robot memberikan superior view atau pandangan yang lebih jelas terhadap area operasi. Peralatan juga dapat digerakkan secara presisi melalui teknik minimal invasif.

Namun, kecanggihan teknologi bukan satu-satunya takaran keberhasilan. Yang utama adalah kondisi pasien usai operasi. Menurut Herbert, pasien yang dia bedah sudah balik ke rumah sehari setelah menjalani operasi.
“ Puji Tuhan, alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar. Pasien langsung bisa pulang besoknya,” tutur Herbert.
Utamakan Keselamatan
Sebelum operasi, tim RSCM Kencana tidak langsung menghubungkan sistem robotik dari Jakarta dengan operator di Bali. Mereka melakukan simulasi dan uji coba berulang kali untuk memastikan sistem bekerja sesuai rancangan.
Segala kemungkinan gangguan juga dihitung melalui skenario what if. Sehingga tidak hanya memastikan operasi bisa berjalan, namun juga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi kegagalan.
Salah satu skenario yang diuji adalah terputusnya koneksi internet antara Bali dan Jakarta di tengah proses operasi. Untuk mengantisipasi potensi itu, disiapkan dokter di sisi pasien yang dapat melakukan tindakan secara langsung.

“ Misalnya, bagaimana apabila sambungan internet tiba-tiba mati? Maka kita punya jawabannya, safety-nya akan tetap terjaga dengan adanya dokter yang langsung di depan pasien (dalam hal ini dokter Ian),” kata Herbert.
Gangguan koneksi di rumah sakit hingga pemadaman listrik juga jadi kemungkinan yang tak luput diperhitungkan. Kata Herbert, kelistrikan rumah sakit sudah punya standar dan mekanisme cadangan untuk menghadapi gangguan.
Semua kemungkinan sudah dipetakan. Semua dibaca dengan teliti demi keamanan. “ Fail-safe-nya sudah kita coba petakan, karena yang paling utama adalah patient safety,” kata Herbert.
Advertisement


ShopeeVIP+ Hadirkan Pengalaman ‘Sekali Langganan, Dapat Semua’, Semakin Lengkap dengan Akses Netflix


Dopamine Anchoring: Cara Menurut Ahli agar Otak Mau Mengerjakan Tugas Membosankan

Top 3 Sustainable Fashion Brand Tanah Air dengan Desain Khas Berkelas


Benarkah Jalan Kaki 5 Menit Setelah Makan Bisa Menurunkan Gula Darah?