Ilmuwan Temukan Pola Matematika dalam Hubungan Cinta, Ada Satu Titik yang Bisa Menentukan Kelanggengan

Reporter : Abidah
Minggu, 13 September 2026 06:00
Ilmuwan Temukan Pola Matematika dalam Hubungan Cinta, Ada Satu Titik yang Bisa Menentukan Kelanggengan
Ilmuwan menggunakan matematika untuk memahami hubungan cinta. Model menunjukkan adanya titik kritis yang dapat menentukan apakah hubungan bertahan atau berakhir.

DREAM.CO.ID - Ketika dua orang memutuskan menjalin hubungan, tidak ada yang benar-benar bisa memastikan berapa lama perasaan tersebut akan bertahan. Hubungan dapat terasa kuat pada satu waktu, kemudian menghadapi konflik, tekanan pekerjaan, persoalan keuangan, atau perubahan emosi yang perlahan mengubah kedekatan pasangan.

Namun, sejumlah ilmuwan menemukan bahwa perubahan dalam hubungan romantis ternyata dapat dipelajari menggunakan matematika. Bukan untuk menentukan siapa yang akan menjadi pasangan seseorang, melainkan untuk memahami mengapa sebagian hubungan mampu bertahan menghadapi tekanan, sementara hubungan lainnya perlahan mengalami keretakan.

Penelitian mengenai matematika hubungan tersebut dikembangkan selama puluhan tahun oleh sejumlah ilmuwan dari berbagai bidang. Salah satunya adalah Profesor Laurent Pujo-Menjouet dari University of Lyon I yang menggunakan pendekatan dynamical systems atau sistem dinamis untuk mempelajari perubahan perasaan dalam hubungan.

Bagaimana Matematika Bisa Menjelaskan Cinta?

Dalam pendekatan ini, hubungan romantis dipandang sebagai sebuah sistem yang terus berubah. Perasaan pasangan tidak dianggap sebagai sesuatu yang statis, melainkan dapat menguat, melemah, bereaksi terhadap konflik, dan kembali pulih setelah mengalami tekanan.

Model matematika tersebut sebenarnya memiliki akar yang jauh dari dunia percintaan. Sejumlah konsep awalnya digunakan untuk mempelajari perubahan populasi hewan.

Model populasi Thomas Malthus, misalnya, digunakan untuk memahami pertumbuhan populasi. Sementara itu, persamaan Lotka-Volterra dikembangkan untuk menggambarkan hubungan antara predator dan mangsa.

Ada pula konsep yang disebut Allee effect. Dalam ekologi, konsep ini menggambarkan kondisi ketika sebuah populasi yang turun melewati tingkat tertentu akan semakin sulit bertahan dan berkembang.

Gagasan mengenai titik kritis tersebut kemudian menarik perhatian peneliti hubungan. Dalam konteks pasangan, terdapat kondisi tertentu ketika kekuatan hubungan masih cukup untuk mempertahankan stabilitas. Namun, jika kondisi hubungan terus menurun melewati batas tersebut, risiko keretakan dapat meningkat.

1 dari 3 halaman

Ada Titik Kritis dalam Sebuah Hubungan

Menurut model yang dikembangkan Pujo-Menjouet dan peneliti lainnya, setiap hubungan dapat memiliki ambang tertentu yang menentukan kestabilannya.

Jika perasaan dan kekuatan hubungan berada di bawah ambang tersebut dalam waktu cukup lama, model matematika menunjukkan kecenderungan hubungan bergerak menuju perpisahan.

Sebaliknya, ketika pasangan mampu menjaga hubungan tetap berada di atas titik kritis tersebut, mereka memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kestabilan.

Konsep ini tidak berarti matematika dapat meramalkan secara pasti apakah sebuah pasangan akan bercerai atau tetap bersama. Peneliti lebih menggunakannya untuk memahami pola perubahan hubungan dan mengenali kondisi ketika sebuah hubungan mulai kehilangan stabilitas.

Konflik Bukan Masalah Utama, Kemampuan Pulih Lebih Penting

Salah satu aspek menarik dalam model matematika hubungan adalah perhatian terhadap respons pasangan setelah menghadapi konflik.

Pertengkaran merupakan bagian yang mungkin muncul dalam hubungan. Persoalannya bukan semata-mata apakah pasangan pernah bertengkar, melainkan seberapa baik mereka dapat kembali ke kondisi yang stabil setelah konflik.

Model yang lebih baru bahkan memasukkan faktor keterlambatan respons emosional. Seseorang mungkin tidak langsung merespons ketika terjadi pertengkaran. Waktu untuk berpikir dan menenangkan diri dapat memengaruhi apakah konflik semakin membesar atau justru mereda.

Dengan demikian, kemampuan pasangan untuk pulih setelah menghadapi tekanan menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga hubungan jangka panjang.

 

2 dari 3 halaman

Tiga Faktor yang Memengaruhi Hubungan Jangka Panjang

Model tersebut menyoroti setidaknya tiga kekuatan utama yang memengaruhi dinamika hubungan.

Pertama adalah ketertarikan timbal balik antara pasangan. Ketertarikan menjadi salah satu kekuatan yang menjaga hubungan tetap berjalan.

Kedua adalah pelemahan perasaan secara alami yang dapat terjadi seiring waktu. Hubungan yang telah berlangsung lama tentu tidak selalu memiliki intensitas emosi yang sama seperti ketika pertama kali dimulai.

Ketiga adalah respons emosional masing-masing pasangan terhadap pasangannya. Cara seseorang merespons perhatian, konflik, kritik, maupun dukungan dapat memengaruhi perkembangan hubungan.

Ketiga faktor tersebut kemudian berinteraksi dan menentukan seberapa kuat sebuah hubungan menghadapi tekanan dari luar.

Tekanan tersebut dapat berupa masalah pekerjaan, kondisi finansial, penyakit, kehadiran anak, hingga persoalan sehari-hari. Karena itu, hubungan yang stabil bukan berarti hubungan yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan hubungan yang mampu kembali menemukan keseimbangan setelah menghadapi masalah.

 

3 dari 3 halaman

Bisakah AI Memprediksi Hubungan yang Mulai Bermasalah?

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuka kemungkinan baru dalam penelitian mengenai hubungan romantis. Para peneliti membayangkan model matematika tersebut suatu hari dapat dikombinasikan dengan AI untuk menciptakan semacam sistem peringatan dini bagi pasangan.

Sistem semacam itu secara teoritis dapat mengenali pola yang menunjukkan sebuah hubungan mulai bergerak menuju kondisi tidak stabil. Pasangan kemudian dapat memperoleh kesempatan untuk melakukan perubahan sebelum persoalan berkembang menjadi lebih serius.

Konsep tersebut dapat diibaratkan seperti GPS untuk hubungan. Sistem tidak menentukan ke mana seseorang harus pergi, tetapi menunjukkan posisi saat ini dan kemungkinan arah perjalanan berdasarkan pola yang terdeteksi.

Namun, gagasan tersebut masih menghadapi banyak keterbatasan. Sebagian besar model hubungan dikembangkan berdasarkan pola yang ditemukan dalam hubungan masyarakat Barat. Padahal, hubungan romantis juga dipengaruhi budaya, agama, kondisi ekonomi, norma sosial, dan perubahan generasi.

Cinta Tetap Tidak Bisa Direduksi Menjadi Rumus

Pada akhirnya, matematika cinta bukan berarti perasaan manusia dapat disederhanakan menjadi sebuah persamaan yang mampu menentukan masa depan pasangan.

Manusia dapat mengubah perilaku, belajar dari pengalaman, mengikuti konseling, memperbaiki komunikasi, atau mengambil keputusan yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Faktor-faktor tersebut membuat hubungan romantis jauh lebih kompleks dibandingkan sistem matematika sederhana.

Penelitian ini lebih tepat dipahami sebagai upaya untuk menemukan pola. Dengan memahami bagaimana ketertarikan, respons emosional, konflik, dan kemampuan pulih saling memengaruhi, pasangan dapat memperoleh gambaran mengenai faktor yang membantu menjaga hubungan tetap stabil.

Dengan kata lain, mungkin memang ada pola matematika di balik hubungan cinta. Namun, persamaan tersebut tidak dapat menentukan siapa yang harus dicintai atau memastikan sebuah hubungan akan bertahan. Pada akhirnya, keputusan untuk menjaga hubungan tetap berada di tangan dua orang yang menjalaninya.

Beri Komentar