© Pexels.com/olly
DREAM.CO.ID - Rangkaian wabah penyakit bawaan makanan yang mencuat belakangan ini membawa komplikasi jangka panjang ini kembali menjadi sorotan. Sejumlah dokter membagikan cara memulai proses pemulihan bagi penderitanya.
Bagi sebagian orang, episode keracunan makanan meninggalkan lebih dari sekadar kenangan buruk. Lama setelah infeksi akut mereda, kram perut, diare, sembelit, dan gejala lain terus berulang, kadang bertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Kondisi ini disebut post-infection irritable bowel syndrome (IBS pascainfeksi), dan bisa berkembang setelah infeksi saluran pencernaan akibat bakteri, virus, atau parasit.
Wabah Musim Panas Membuat Risiko Ini Layak Diperhatikan Kembali
Risiko IBS pascainfeksi layak mendapat perhatian baru setelah musim panas ini diwarnai beberapa wabah penyakit bawaan makanan. Hingga 27 Agustus, wabah parasit Cyclospora yang terkait selada iceberg yang ditarik dari peredaran sudah membuat lebih dari 11.000 orang sakit di 20 negara bagian. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) turut menyelidiki kasus Salmonella yang terkait jalapeño dan E. coli yang terkait blueberry beku.
Dr. Irene Sonu, profesor klinis kedokteran bidang gastroenterologi dan hepatologi di Stanford Medicine, California, menjelaskan bahwa insiden IBS pascainfeksi berpotensi meningkat seiring lonjakan kasus penyakit bawaan makanan musim ini. Menurutnya, sekitar 10 persen orang yang mengalami penyakit gastrointestinal akan berkembang menjadi IBS pascainfeksi.
Pada IBS pascainfeksi, usus tidak kembali berfungsi normal meski penyakit akutnya sudah berlalu. Penderita terus mengalami nyeri perut berulang dan gejala gastrointestinal lain.
Dr. William D. Chey, kepala divisi gastroenterologi dan hepatologi di Michigan Medicine, Ann Arbor, menjelaskan bahwa memahami kondisi ini perlu dimulai dari apa yang terjadi pada usus selama infeksi awal. Reaksi keras seperti diare, kram perut, mual, dan muntah muncul karena tubuh berusaha menyingkirkan infeksi secepat mungkin, baik penyebabnya bakteri, virus, maupun parasit.
Reaksi-reaksi ini biasanya berhenti begitu infeksi sembuh. Pada IBS pascainfeksi, kondisi ini tidak terjadi. Chey menggambarkannya sebagai " hangover" pada saluran pencernaan — efek akut infeksi sudah hilang, tapi gangguannya tetap bertahan.
Gejala IBS pascainfeksi mencakup nyeri perut, kembung, gas berlebih, diare, sembelit, atau kombinasi diare dan sembelit secara bergantian.
Tidak ada tes khusus yang bisa memastikan diagnosis IBS pascainfeksi, kata Chey. Dokter biasanya menguji kemungkinan infeksi yang masih berlangsung atau kondisi lain yang bisa menjelaskan gejala tersebut. Bagi penderita diare akut atau berkepanjangan, dokter bisa melakukan tes PCR tinja atau kultur tinja untuk mendeteksi organisme seperti Salmonella, Shigella, atau Campylobacter, terutama saat diare disertai darah.
Alasan mengapa sebagian orang pulih sepenuhnya dari infeksi gastrointestinal sementara yang lain mengalami gejala pencernaan berkepanjangan belum sepenuhnya jelas, kata Chey. Sejumlah teori mencoba menjelaskan fenomena ini.
Sistem imun dan sistem saraf yang tetap aktif menjadi salah satu kemungkinan penyebab. Kedua sistem ini menjadi sangat aktif selama infeksi berlangsung di usus, dan pada sebagian orang, keduanya tidak sepenuhnya kembali normal setelah infeksi mereda.
Perubahan pada mikrobioma usus atau lapisan pelindung usus menjadi kemungkinan lain. Infeksi bisa mengubah komposisi bakteri yang hidup di usus atau membuat lapisan usus lebih permeabel, sehingga zat-zat di dalam usus lebih mudah berinteraksi dengan sel imun dan saraf di dinding usus.
Respons autoimun setelah infeksi bakteri tertentu juga menjadi teori yang dipertimbangkan. Sejumlah infeksi diduga memicu antibodi yang keliru menyerang saraf yang mengendalikan pergerakan usus.
Dr. Sonu menyebut belum ada teori yang bisa dipastikan kebenarannya, tapi persoalan utamanya tetap sama: usus menjadi lebih sensitif setelah infeksi.
Peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor yang meningkatkan risiko infeksi gastrointestinal berkembang menjadi IBS pascainfeksi. Durasi dan tingkat keparahan infeksi menjadi faktor utama — semakin parah dan semakin lama infeksi berlangsung, semakin besar pula risiko seseorang mengembangkan kondisi ini, menurut Chey.
Perempuan juga lebih berisiko mengalami IBS pascainfeksi dibanding laki-laki.
Jenis infeksi turut memengaruhi risiko ini. Sebuah tinjauan terhadap hampir 50 studi yang melibatkan lebih dari 28.000 orang menemukan bahwa 14,5 persen partisipan mengembangkan IBS pascainfeksi setelah mengalami gastroenteritis akut. Berdasarkan jenis infeksinya, sekitar 30 persen partisipan mengembangkan kondisi ini setelah infeksi parasit, 18 persen setelah infeksi bakteri, dan 11 persen setelah infeksi virus.
Chey menyebut tingkat kejadian yang lebih tinggi dilaporkan setelah infeksi akibat Giardia, Campylobacter, dan Salmonella. Dampak wabah Cyclospora musim panas ini terhadap angka IBS pascainfeksi belum diketahui, karena data terkait hubungan kedua kondisi ini masih minim. Tim Chey sedang memantau orang-orang yang terinfeksi Cyclospora di Michigan untuk mencari jawabannya, meski hasilnya baru akan diketahui beberapa tahun ke depan.
Penanganan IBS pascainfeksi melibatkan berbagai pendekatan, kata Sonu, dengan terapi terbaik bergantung pada gejala yang dialami masing-masing pasien.
Diare biasanya ditangani dengan obat antidiare, antibiotik tertentu, atau pengikat asam empedu. Sembelit ditangani dengan pencahar. Suplemen serat larut membantu mengatasi diare maupun sembelit. Kram perut bisa diredakan dengan obat antispasmodik, baik yang memerlukan resep dokter maupun yang dijual bebas.
Terapi kognitif perilaku atau hipnoterapi yang diarahkan pada usus membantu mengatasi hubungan antara usus dan otak, kadang dengan bantuan terapis atau aplikasi ponsel. Diet rendah FODMAP, yang membatasi sementara jenis karbohidrat tertentu yang difermentasi di usus dan menarik cairan ke dalam saluran pencernaan, membantu mengatasi gejala yang terkait makanan.
Diet Mediterania juga bisa memperbaiki gejala pada sebagian orang, kata Chey. Sebagian pasien mungkin perlu menjalani diet ketat sementara waktu, tapi tujuan akhirnya tetap mengembalikan pasien pada pola makan normal secara bertahap.
Apakah IBS Pascainfeksi Bisa Sembuh Total?
Setidaknya separuh pasien pulih atau membaik dengan sendirinya seiring waktu, kata Chey. Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tapi kondisi tubuh secara bertahap akan kembali normal.
Kemungkinan pemulihan inilah yang membuat penting untuk mengetahui apakah IBS seseorang dipicu oleh infeksi atau tidak. Dibanding penderita IBS yang tidak dipicu infeksi, penderita IBS pascainfeksi tampak lebih mungkin mengalami remisi pada akhirnya.
Sayangnya, pemulihan tidak berlaku bagi semua orang. Bukti menunjukkan sekitar 15 persen orang dewasa dengan IBS pascainfeksi masih mengalami gejala yang berlanjut setelah delapan tahun, kata Sonu.
Advertisement

Guilty Pleasure: Mengapa Kita Menikmati Sesuatu yang Sebenarnya Membuat Kita Merasa Bersalah?

Benarkah Air yang Direbus Dua Kali Berbahaya untuk Kesehatan?

Buah Matang atau Mentah, Mana yang Lebih Sehat? Ternyata Manfaatnya Berbeda

Tim Pencari Jurnalis di Selat Sunda Belum Bisa Masuk Pulau Sertung

Terlalu Banyak Minum Kopi Bisa Berdampak pada Kepadatan Tulang, Studi Menemukan


Top 3 Sustainable Fashion Brand Tanah Air dengan Desain Khas Berkelas