Buah Matang atau Mentah, Mana yang Lebih Sehat? Ternyata Manfaatnya Berbeda

Reporter : Abidah
Jumat, 11 September 2026 10:00
Buah Matang atau Mentah, Mana yang Lebih Sehat? Ternyata Manfaatnya Berbeda
Buah mentah atau belum matang bukan berarti tidak sehat, sementara buah yang sudah matang juga bukan berarti kehilangan seluruh manfaatnya.

DREAM.CO.ID - Ketika membeli pisang, kebanyakan orang akan memilih buah dengan kulit kuning cerah dan aroma manis yang mulai tercium. Tomat pun biasanya dipilih ketika warnanya sudah merah, sementara alpukat dicari ketika daging buahnya mulai lunak. Namun, di balik perubahan warna, rasa, dan tekstur tersebut, terjadi perubahan kimia yang membuat buah atau sayuran pada tingkat kematangan berbeda dapat menawarkan manfaat gizi yang tidak sepenuhnya sama.

Karena itu, buah mentah atau belum matang bukan berarti tidak sehat, sementara buah yang sudah matang juga bukan berarti kehilangan seluruh manfaatnya. Tingkat kematangan dapat mengubah komposisi pati, gula, senyawa fenolik, pigmen, hingga aktivitas antioksidan. Pilihan terbaik pada akhirnya bergantung pada jenis buah, kebutuhan gizi, dan bagaimana makanan tersebut dikonsumsi.

Pisang Hijau Lebih Tinggi Pati Resisten

Pisang menjadi contoh paling mudah untuk melihat perbedaan tersebut. Ketika masih hijau, pisang mengandung lebih banyak pati, termasuk pati resisten. Selama proses pematangan, sebagian pati dipecah menjadi gula sehingga pisang menjadi lebih manis, lembut, dan mudah dimakan.

Penelitian pada tepung pisang menunjukkan bahwa kandungan pati resisten dan total pati menurun selama pematangan, sementara sejumlah senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan dapat meningkat pada tahap tertentu.

Pati resisten menarik karena tidak langsung dicerna di usus halus. Sebagian dapat mencapai usus besar dan menjadi substrat bagi mikrobiota usus. Inilah alasan pisang yang masih hijau sering dianggap memiliki keunggulan dalam hal kandungan pati resisten dibandingkan pisang yang sudah sangat matang.

Namun, bukan berarti orang harus mengganti seluruh pisang matang dengan pisang hijau. Sebuah penelitian pada penderita diabetes tipe 2 menemukan bahwa respons glukosa setelah mengonsumsi pisang yang belum terlalu matang lebih rendah dibandingkan pisang yang terlalu matang. Meski demikian, ukuran penelitian tersebut kecil, sehingga hasilnya tidak dapat dijadikan aturan bahwa semua orang harus menghindari pisang matang.

Selain itu, konsumsi makanan yang sangat tinggi pati resisten secara tiba-tiba dapat menimbulkan masalah pencernaan pada sebagian orang. Karena itu, peningkatan asupan serat dan pati resisten sebaiknya dilakukan secara bertahap.

1 dari 3 halaman

Buah Matang dapat Mengalami Peningkatan Senyawa Antioksidan

Di sisi lain, proses pematangan juga dapat meningkatkan sejumlah senyawa bioaktif. Perubahan warna buah sering menjadi tanda terjadinya perubahan pigmen dan senyawa fenolik.

Pada pisang, misalnya, penelitian menemukan bahwa kandungan flavonoid cenderung lebih tinggi pada buah matang dan terlalu matang, sementara klorofil menurun dan beberapa pigmen seperti karotenoid serta antosianin meningkat selama proses pematangan. Namun, hasilnya tidak selalu seragam untuk setiap varietas dan jenis senyawa.

Hal serupa juga terlihat pada penelitian lain mengenai buah beri. Kandungan antosianin, yaitu kelompok pigmen yang memberikan warna merah, ungu, atau biru pada berbagai buah, dapat berubah secara signifikan selama pematangan. Artinya, buah yang semakin matang tidak otomatis kehilangan nilai gizinya. Dalam beberapa kondisi, justru muncul atau meningkat senyawa tertentu yang memiliki aktivitas antioksidan.

2 dari 3 halaman

Vitamin C Tidak Selalu Semakin Tinggi ketika Buah Matang

Perubahan vitamin juga tidak mengikuti satu pola yang sama. Pada sebagian buah dan sayuran, kadar vitamin C dapat meningkat selama pematangan, sedangkan pada jenis lain justru mencapai kadar tertinggi sebelum benar-benar matang.

Karena itu, anggapan bahwa buah matang selalu memiliki vitamin lebih banyak atau buah mentah selalu lebih bergizi tidak tepat. Jenis tanaman, varietas, kondisi penyimpanan, cara pematangan, hingga pengolahan setelah dipanen dapat memengaruhi kandungan gizinya.

Penelitian pada pisang bahkan menunjukkan bahwa respons terhadap pematangan dapat berbeda antarvarietas. Kandungan karotenoid, misalnya, pada sebagian besar varietas yang diteliti meningkat dari kondisi belum matang menuju matang, tetapi tidak semua varietas mengikuti pola yang sama.

 

3 dari 3 halaman

Jadi, Lebih Baik Makan Buah Mentah atau Matang?

Tidak ada jawaban tunggal. Jika ingin memperoleh lebih banyak pati resisten, pisang yang masih hijau atau belum terlalu matang dapat menjadi pilihan. Jika mengutamakan rasa manis, tekstur lembut, dan beberapa senyawa bioaktif yang meningkat selama pematangan, buah matang memiliki keunggulannya sendiri.

Yang lebih penting adalah tidak menjadikan tingkat kematangan sebagai satu-satunya ukuran kesehatan makanan. Buah dan sayuran dalam berbagai tingkat kematangan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang. Variasi justru memberi kesempatan bagi tubuh untuk memperoleh beragam serat, vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif.

Jadi, ketika menemukan pisang hijau di dapur atau tomat yang belum sepenuhnya merah, tidak perlu buru-buru menunggu semuanya matang. Keduanya memiliki karakter gizi yang berbeda dan dapat dimanfaatkan dengan cara yang berbeda pula. Yang terpenting bukan memilih antara “ mentah” atau “ matang”, melainkan memastikan buah dan sayuran tetap hadir secara rutin dalam pola makan sehari-hari.

Beri Komentar