© Pexels.com
DREAM.CO.ID - Sebagian orang mendengar istilah beras fortifikasi dan langsung curiga: ini beras plastik, bukan? Kekhawatiran itu pernah viral di beberapa negara, sampai pemerintah harus turun tangan meluruskannya. Dilansir dari Gulf News, kepanikan serupa sempat terjadi di Goa, India, ketika warga menduga beras berwarna sedikit berbeda itu terbuat dari plastik. Pemerintah setempat mengklarifikasi bahwa butiran itu justru dibuat dari tepung beras yang dicampur mikronutrien, bukan bahan sintetis berbahaya.
Beras fortifikasi sederhananya adalah beras biasa yang ditambahkan vitamin dan mineral tertentu melalui proses produksi, bukan beras hasil rekayasa genetik atau bahan kimia asing. Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan fortifikasi pangan sebagai penambahan zat gizi mikro ke bahan pangan yang biasa dikonsumsi masyarakat, seperti garam, tepung terigu, minyak, dan beras, guna meningkatkan nilai gizinya tanpa mengubah rasa atau cara memasaknya.
Proses pembuatannya melibatkan dua tahap. Pertama, pabrik memproduksi Fortified Rice Kernel atau FRK, yaitu butiran mirip beras yang dibuat dari bubuk beras dicampur mikronutrien menggunakan mesin ekstruder. Kedua, kernel ini dicampurkan ke beras biasa dengan perbandingan tertentu, umumnya satu banding seratus. Dilansir dari Vajiram & Ravi, teknologi ekstrusi dianggap paling efektif karena mampu menghasilkan butiran yang menyerupai beras asli dari segi warna, kilau, tekstur, dan ukuran, sehingga sulit dibedakan secara kasat mata dari beras biasa.
Kandungan gizi di dalam beras fortifikasi diatur ketat. Berdasarkan standar Food Safety and Standards Authority of India, setiap kilogram beras fortifikasi umumnya mengandung zat besi 28 hingga 42,5 miligram, asam folat 75 hingga 125 mikrogram, dan vitamin B12 sekitar 0,75 hingga 1,25 mikrogram. Beberapa produsen menambahkan zinc, vitamin A, serta vitamin B1, B2, B3, dan B6 sesuai kebutuhan program gizi di masing-masing negara.
Manfaatnya paling terasa pada populasi yang mengandalkan beras sebagai makanan pokok harian. Zat besi berperan penting dalam perkembangan kognitif anak, terutama pada usia dini ketika otak masih tumbuh pesat. Dilansir dari laman Drishti IAS, WHO menyebut fortifikasi beras sebagai strategi yang efektif, sederhana, dan murah untuk memperbaiki status gizi populasi yang mengonsumsi beras secara rutin, terutama dalam menekan angka anemia defisiensi besi yang masih tinggi di banyak negara berkembang.
Namun bukan berarti beras fortifikasi bebas dari perdebatan. Dilansir dari jurnal ilmiah yang dipublikasikan di PMC, National Center for Biotechnology Information Amerika Serikat, sebagian ahli mengangkat kekhawatiran soal potensi toksisitas kelebihan zat besi pada kelompok yang sebenarnya tidak kekurangan gizi tersebut. Kelebihan zat besi dalam tubuh dikaitkan dengan peningkatan risiko adenoma usus besar dan perubahan komposisi bakteri usus yang memicu peradangan.
Risiko yang lebih spesifik menyasar penderita kelainan darah seperti thalasemia dan anemia sel sabit. Dilansir dari Down To Earth, Mahkamah Agung India bahkan pernah meminta pemerintah menjelaskan mengapa label peringatan kesehatan tidak tercantum jelas di kemasan beras fortifikasi, padahal regulasi tahun 2018 sudah mewajibkan peringatan bahwa penderita thalasemia perlu pengawasan medis dan penderita anemia sel sabit disarankan tidak mengonsumsi produk berzat besi tinggi sama sekali. Masalahnya, dalam satu rumah tangga, jarang ada yang memasak dua jenis beras berbeda untuk anggota keluarga yang sehat dan yang punya kondisi khusus.
Studi lain yang dimuat di National Center for Biotechnology Information turut menyoroti temuan bahwa fortifikasi zat besi pada anak-anak di Kamboja berpotensi meningkatkan risiko infeksi cacing tambang, meski beberapa tinjauan sistematis belum menemukan bukti kuat yang konsisten soal hal ini.
Meski begitu, penelitian yang lebih luas cenderung menegaskan keamanan beras fortifikasi bagi populasi umum. Dilansir dari The Print, para ilmuwan menjelaskan bahwa tubuh manusia punya mekanisme pengaturan penyerapan zat besi secara alami di usus. Orang yang kekurangan zat besi akan menyerap lebih banyak dari makanan, sementara orang yang sudah cukup gizinya akan menyerap lebih sedikit. Mekanisme ini menjadi alasan mengapa keracunan akibat konsumsi beras fortifikasi dalam kadar yang diatur regulator dianggap nyaris mustahil terjadi pada orang tanpa kondisi medis khusus.
Advertisement

Kemnaker Sesuaikan Regulasi Ketenagakerjaan Imbangi Dinamika Dunia Kerja


Model AI Meta Retas Perusahaan Lain Saat Uji Coba Keamanan Siber, Apa Dampaknya untuk Kita?

Bukan 17 Agustus, Ini Kota yang Sudah Proklamasikan Kemerdekaan 2 Hari Sebelumnya

Beras Fortifikasi: Kenali Apa Itu serta Amankah untuk Kita Konsumsi?

Bukan 17 Agustus, Ini Kota yang Sudah Proklamasikan Kemerdekaan 2 Hari Sebelumnya

Model AI Meta Retas Perusahaan Lain Saat Uji Coba Keamanan Siber, Apa Dampaknya untuk Kita?