Orangtua Memakai Uang Amplop Khitan Anak, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 1 Februari 2023 08:48
Orangtua Memakai Uang Amplop Khitan Anak, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Biasanya, uang dari para tamu tersebut disimpan oleh orangtua atau bisa juga untuk membeli hadiah bagi anak yang khitan sesuai keinginannya.

Dream - Masyarakat Indonesia memiliki budaya menggelar syukuran khitanan anak secara besar-besaran. Anak yang khitan seperti pengantin, dipakaikan busana indah, duduk di kursi megah dan disalami para tamu.

Para tamu yang datang juga akan memberi hadiah sebagai ucapan selamat karena sudah dikhitan. Bisa berupa barang atau biasanya berupa amplop isi uang. Biasanya, uang dari para tamu tersebut disimpan oleh orangtua atau bisa juga untuk membeli hadiah bagi anak yang khitan sesuai keinginannya.

Lalu bagaimana jika uang di amplop dari tamu dipakai orangtua? Bagaimana hukumnya dalam Islam?

Dikutip dari BincangSyariah.com, Syekh Abu Bakar Syatha dalam I‘anatut Thalibin memberi penjelasan;

Syekh Abu Bakar Syatha© Bincang Syariah


Artinya: Hadiah yang dibawa saat acara khitanan itu hak bapak. Namun ada sebagian ulama yang berpendapat, hadiah itu untuk anak. Tapi bapaknya wajib menerima hadiah tersebut. Perbedaan pendapat itu terjadi jika orang yang memberi hadiah itu tidak menyebutkan pemberian hadiah itu buat bapak atau anaknya. Jika pemberi hadiah itu menyebutkan hadiah tersebut untuk yang dituju (anaknya, misal), maka hadiah itu untuk anak. Ini berdasarkan kesepakatan ulama.

 

1 dari 4 halaman

Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa pemberian hadiah saat ada pesta khitanan itu bersifat kondisional boleh digunakan untuk orangtua atau anak. Biasanya amplop dalam acara pesta dipisahkan antara yang buat anak atau buat orangtuanya.

Bila amplop yang dimasukkan itu di kotak orangtua, maka uang tersebut milik orangtua anak tersebut. Sebaliknya, amplop yang ditempatkan di kotak milik anak, maka itu adalah miliknya.

Syekh Abu Bakar Syataha juga memperingatkan bagi orangtua anak yang bekerja sebagai hakim atau pejabat pemerintah untuk tidak mudah menerimah hadiah dalam acara khitanan anak.

Syekh Abu Bakar Syatha© Bincang Syariah

Termasuk hal yang berbahaya adalah pemberian hadiah (khitanan) untuk tujuan mengambil hati bapak (anak yang khitan) yang menjabat sebagai hakim. Ini bagi bapak yang berprofesi hakim tersebut tidak boleh menerimanya.

Penjelasan selengkapnya baca di sini.

2 dari 4 halaman

Islam Anjurkan Akikah di Usia 7 Hari, Bagaimana Jika Saat Anak Sudah Besar?

Dream - Kelahiran buah hati dengan sehat dan selamat, termasuk sang ibu tentunya patut disyukuri. Allah SWT memberikan karunia dan amanah yang begitu besar ketika menganugerahkan seorang anak.

Salah satu cara bersyukur yang sangat dianjurkan dalam Islam atas kelahiran anak adalah dengan menggelar akikah. Memotong satu kambing jika yang lahir adalah anak perempuan, dan dua kambing bila yang lahir bayi lelaki.

Akikah sebenarnya dianjurkan digelar pada hari ke-7 kelahiran anak. Untuk di Indonesia, beberapa orangtua lebih memilih menggelarnya setelah bayi berusia 40 hari atau lebih. Biasanya karena pertimbangan ibu yang masih butuh pemulihan serta ayah yang mendampingi butuh banyak persiapan.

Lalu bagaimana hukumnya jika menggelar akikah saat anak sudah lebih dari 40 hari? Dikutip dari BincangSyariah.com, menurut ulama Syafiiyah, melakukan akikah setelah anak berumur lebih dari 7 hari hukumnya boleh dan sah.

 

3 dari 4 halaman

Saat Dewasa dan Mampu

Mereka berpendapat bahwa waktu akikah dimulai sejak anak baru dilahirkan hingga anak tersebut baligh. Jika anak sudah baligh dan belum diakikahi oleh orangtuanya, maka tanggung jawab untuk melakukan akikah bukan lagi dianjurkan pada orangtuanya, melainkan dianjurkan pada dirinya sendiri.

Sehingga jika orangtua mengakikahi anaknya setelah berumur lebih 7 hari, maka hukumnya boleh dan sah. Begitu juga boleh dan sah melakukan akikah setelah anak berumur lebih dari 40 hari sampai anak tersebut baligh. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu berikut;

kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu© Bincang Syariah

Ulama Syafiiyah dan Hanabilah menegaskan bahwa andaikan akikah dilakukan sebelum anak berumur tujuh hari atau setelahnya, maka akikah tersebut tetap sah.

 

4 dari 4 halaman

Waktu Akikah

Menurut sebagian ulama Hanabilah, waktu akikah dimulai sejak anak dilahirkan hingga anak tersebut diakikahi oleh orangtuanya atau anak tersebut melakukan akikah sendiri. Mereka berpendapat bahwa tidak ada waktu batas akhir bagi orangtua untuk mengakikahi anaknya.

Selama anak tersebut belum diakikahi, atau anak tersebut melakukan akikah sendiri, maka orangtua tetap dianjurkan untuk mengakikahi anaknya, meskipun anaknya sudah baligh atau sudah dewasa. Dalam kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Al-Zuhaili menyebutkan sebagai berikut;

kitab Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu© Bincang Syariah

Sekolompok ulama Hanbali berpendapat bahwa disunnahkan bagi seseorang menunaikan akikah untuk dirinya sendiri. Akikah tidak hanya khusus dilakukan ketika masih kecil, sehingga bapak tetap dianjurkan melakukan akikah terhadap anaknya meskipun anak tersebut sudah dewasa. Hal ini karena waktu akikah sendiri tidak ada batas akhirnya.

Selengkapnya baca di sini.

Beri Komentar