Bencana di Sumatera Sebabkan Krisis Air Bersih bagi Warga Terdampak

Reporter : Hevy Zil Umami
Senin, 15 Desember 2025 21:22
Bencana di Sumatera Sebabkan Krisis Air Bersih bagi Warga Terdampak
Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas.

DREAM.CO.ID - Berdasarkan pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat sekitar 1.022 orang meninggal dunia dan 206 jiwa dinyatakan hilang. Selain itu, jutaan warga terdampak dan terpaksa mengungsi akibat banjir yang merendam permukiman. Tidak kurang dari 182.982 rumah mengalami kerusakan, sementara sedikitnya 434 fasilitas ibadah ikut terdampak di berbagai provinsi.

Di tengah kerusakan fisik dan upaya pemenuhan kebutuhan dasar, persoalan serius lain muncul dan dirasakan secara luas oleh warga terdampak, yakni krisis air bersih. Banjir yang membawa lumpur, sampah, dan material lainnya mencemari sumber-sumber air masyarakat, sehingga akses terhadap air layak pakai menjadi sangat terbatas.

Di berbagai lokasi pengungsian maupun permukiman yang masih terdampak, warga kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, seperti minum, memasak, dan menjaga kebersihan. Banyak sumur warga tidak dapat digunakan karena tercemar lumpur banjir, sementara jaringan PDAM dan pipa distribusi air belum sepenuhnya pulih.

Kondisi tersebut terlihat di sejumlah wilayah, salah satunya di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Warga setempat terpaksa menyambung ratusan pipa dari sumber mata air di pegunungan karena tidak tersedia air layak pakai di sekitar lokasi pengungsian. Upaya itu dilakukan secara gotong royong demi memastikan pasokan air untuk kebutuhan dasar tetap tersedia.

Keterbatasan air bersih pascabencana berdampak luas terhadap kehidupan sehari-hari warga. Air tidak hanya dibutuhkan untuk konsumsi, tetapi juga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan keluarga. Dalam situasi pascabencana, keterbatasan air bersih berpotensi memperbesar risiko penyakit dan memperlambat proses pemulihan masyarakat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada genangan air atau kerusakan bangunan. Krisis air bersih menjadi persoalan lanjutan yang membutuhkan perhatian serius, terutama pada fase pemulihan awal. Dalam penanganan bencana, air bersih merupakan kebutuhan prioritas selain pangan dan layanan kesehatan.

Upaya pemulihan di Sumatera terus berjalan seiring berakhirnya masa tanggap darurat di sejumlah wilayah. Namun, pemulihan sejati tidak hanya diukur dari surutnya banjir, melainkan juga dari pulihnya akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar, termasuk air bersih yang aman dan berkelanjutan.

Bencana banjir di Sumatera menjadi pengingat bahwa dampak bencana bersifat berlapis. Dukungan dan solidaritas bersama sangat dibutuhkan agar warga terdampak dapat bangkit kembali dan membangun kehidupan secara bertahap.

Mari bantu alirkan air kehidupan bagi warga terdampak bencana melalui:
https://digital.dompetdhuafa.org/wakaf/sumurterdampakbencana

Beri Komentar