© Pexels.com/Towfiqu Barbhuiya
DREAM.CO.ID - Suara “ krek”, “ pop”, atau bunyi seperti gesekan dari lutut bisa terdengar ketika seseorang jongkok, berdiri, berjalan, atau sekadar menekuk dan meluruskan kaki. Kondisi ini cukup umum dan tidak selalu berarti ada kerusakan pada sendi. Namun, jika bunyi tersebut disertai nyeri, pembengkakan, atau lutut terasa tidak stabil, penyebabnya perlu diperhatikan.
Bunyi pada lutut sering muncul di area sendi patellofemoral, yaitu bagian tempat tempurung lutut atau patella bergerak di dalam alur pada ujung tulang paha atau femur. Jika suara berderak, berbunyi, atau terasa seperti gesekan berasal dari area ini, kondisi tersebut disebut patellofemoral crepitus.
Dilansir dari Verywell Health, ada setidaknya empat penyebab umum lutut sering berbunyi, mulai dari gerakan sendi yang normal hingga kondisi yang membutuhkan penanganan.
1. Gerakan Sendi yang Normal
Saat lutut ditekuk dan diluruskan, tempurung lutut bergerak di dalam alur pada ujung tulang paha. Perubahan tekanan pada cairan sendi dapat menghasilkan suara “ pop” atau “ krek”, terutama ketika lutut kembali digerakkan setelah berada dalam posisi yang sama cukup lama.
Bunyi seperti ini disebut crepitus dan dapat ditemukan pada banyak sendi, terutama lutut. Tinjauan sistematis pada 2025 yang melibatkan lebih dari 36.000 peserta menemukan bahwa knee crepitus terjadi pada sekitar 41 persen populasi umum.
Jika bunyi tersebut tidak disertai nyeri, bengkak, rasa tidak stabil, atau gangguan fungsi, kondisi ini umumnya dianggap sebagai temuan normal dan tidak perlu dikhawatirkan.
Penyebab berikutnya adalah patellofemoral pain syndrome, yaitu kondisi yang berkembang akibat tekanan berulang sehingga menimbulkan nyeri di bagian depan lutut, terutama di sekitar tempurung lutut. Kondisi ini juga sering disebut “ runner’s knee” atau “ jumper’s knee”.
Iritasi pada tempurung lutut dapat membuat gerakannya tidak lagi berlangsung dengan mulus sehingga muncul bunyi berderak atau seperti gesekan ketika lutut digerakkan.
Mengurangi sementara aktivitas yang memperburuk keluhan dan melakukan latihan penguatan otot dapat membantu mengurangi iritasi sekaligus membuat pergerakan tempurung lutut lebih baik. Fisioterapi juga dapat menjadi bagian dari penanganan kondisi ini.
Osteoartritis terjadi ketika tulang rawan yang melapisi sendi mengalami kerusakan seiring waktu. Lutut termasuk salah satu sendi yang sering terkena kondisi ini, termasuk bagian sendi antara tulang paha dan tulang kering serta sendi patellofemoral.
Ketika osteoartritis terjadi di belakang tempurung lutut, tulang rawan dapat menipis sehingga tempurung lutut lebih sulit bergerak dengan mulus. Akibatnya, seseorang dapat merasakan bunyi retak atau sensasi bergesekan di belakang tempurung lutut ketika kaki ditekuk dan diluruskan.
Aktivitas fisik secara teratur, latihan rentang gerak, serta latihan penguatan dapat membantu mempertahankan mobilitas lutut dan mengurangi kekakuan akibat osteoartritis.
Hipermobilitas dan hiperlaksitas mengacu pada kondisi ketika sendi terlalu longgar. Kondisi ini dapat terjadi karena berkurangnya ketegangan ligamen yang berfungsi membantu menstabilkan sendi. Penyebabnya bisa bersifat genetik dan sudah ada sejak lahir, atau berkembang setelah cedera maupun tekanan berulang pada ligamen.
Jika tempurung lutut terlalu longgar, gerakannya di dalam alur tulang paha dapat menjadi tidak teratur sehingga menimbulkan bunyi “ pop” atau “ krek”. Pada kondisi yang lebih berat, tempurung lutut bahkan dapat mengalami subluksasi atau keluar sebagian dari alurnya.
Fisioterapis dapat membantu melalui latihan untuk meningkatkan stabilitas tempurung lutut. Penyangga lutut juga dapat dipertimbangkan untuk membantu menstabilkan sendi. Jika ketidakstabilan cukup berat, tindakan operasi korektif mungkin dipertimbangkan.
Bunyi lutut tanpa nyeri, pembengkakan, ketidakstabilan, atau kehilangan fungsi biasanya bukan masalah. Namun, pemeriksaan medis diperlukan jika bunyi tersebut disertai nyeri atau tempurung lutut terasa sangat tidak stabil.
Periksakan lutut jika muncul pembengkakan, kemerahan atau rasa hangat, tidak mampu menahan beban tubuh, nyeri berat, kesulitan menekuk atau meluruskan lutut, serta sensasi lutut terkunci atau seperti tersangkut saat digerakkan.
Advertisement

Kopi Tak Selalu Bikin Susah Tidur, Tapi Diam-Diam Bisa Mengurangi Kualitas Tidur

Mengapa Kalimantan Dikenal sebagai Borneo? Ternyata Berkaitan dengan Brunei

Naik Tipis di Sesi Pembukaan, IHSG Sempat Longsor di Bawah Level 6.000 Paska Reshuflfe Kabinet

Apa yang Terjadi pada Tubuh Jika Minum Cuka Apel Setiap Hari?

Lutut Sering Berbunyi Krek-Krek? Ini 4 Penyebab yang Perlu Diketahui

10 Kesalahpahaman tentang Dinosaurus yang Selama Ini Dianggap Benar

Crab Mentality, Ketika Seseorang Justru Menarik Orang Lain agar Tidak Ikut Sukses