© Pexels.com/Towfiqu Barbhuiya
DREAM.CO.ID - Makanan ultra-proses selama ini lebih sering dikaitkan dengan kenaikan berat badan dan berbagai masalah kesehatan. Namun, penelitian terbaru menemukan kemungkinan dampak lain yang lebih tersembunyi: konsumsi makanan ultra-proses berkaitan dengan meningkatnya penumpukan lemak di dalam otot paha, yang berpotensi memengaruhi kesehatan lutut.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Radiology, jurnal ilmiah dari Radiological Society of North America (RSNA). Peneliti menggunakan pemindaian MRI untuk melihat komposisi otot paha pada 615 orang yang memiliki risiko mengalami osteoartritis lutut. Hasilnya menunjukkan, semakin banyak makanan ultra-proses yang dikonsumsi, semakin besar pula jumlah lemak yang ditemukan di dalam otot paha.
Yang menarik, hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor lain, termasuk jumlah kalori yang dikonsumsi, asupan lemak, aktivitas fisik, serta faktor sosiodemografis.
Makanan ultra-proses merupakan produk yang umumnya dibuat melalui berbagai proses industri dan mengandung bahan-bahan yang jarang digunakan dalam masakan rumahan. Contohnya antara lain sereal sarapan, margarin atau olesan, makanan ringan kemasan, hot dog, minuman bersoda dan minuman energi, permen, makanan penutup, pizza beku, makanan siap santap, serta roti dan roti bun produksi massal.
Menurut Zehra Akkaya, M.D., penulis utama penelitian sekaligus peneliti dan konsultan pada Clinical & Translational Musculoskeletal Imaging Group, Department of Radiology and Biomedical Imaging, University of California, San Francisco, perubahan pola makan dalam beberapa dekade terakhir berlangsung bersamaan dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan osteoartritis lutut.
Untuk melihat kaitan pola makan dengan kondisi otot, para peneliti menganalisis data peserta Osteoarthritis Initiative. Sebanyak 615 orang yang belum menunjukkan tanda-tanda osteoartritis pada pemeriksaan pencitraan saat analisis dilakukan ikut diteliti. Mereka terdiri atas 275 pria dan 340 perempuan dengan usia rata-rata 60 tahun.
Rata-rata indeks massa tubuh (BMI) peserta adalah 27, yang masuk kategori kelebihan berat badan. Berdasarkan informasi mengenai pola makan selama satu tahun sebelumnya, sekitar 41 persen makanan yang dikonsumsi peserta tergolong makanan ultra-proses.
Pemeriksaan MRI kemudian memperlihatkan adanya hubungan antara tingginya konsumsi makanan ultra-proses dan lebih banyaknya lemak yang tersimpan di dalam otot paha. Kondisi tersebut disebut sebagai lemak intramuskular. Pada gambar MRI, perubahan ini terlihat sebagai degenerasi lemak pada jaringan otot, ketika serabut otot tidak lagi membentuk jaringan secara seragam karena mulai disisipi oleh jaringan lemak.
Lemak di dalam otot bukan sekadar persoalan penampilan tubuh. Otot paha memiliki peran penting dalam menopang dan menstabilkan lutut. Karena itu, perubahan kualitas otot berpotensi mengurangi dukungan terhadap sendi dan pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap risiko osteoartritis lutut. Namun, penelitian ini menemukan hubungan, bukan membuktikan bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan osteoartritis.
Akkaya mengatakan penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas makanan mungkin berpengaruh terhadap kualitas otot dengan cara yang tidak sepenuhnya tercermin dari berat badan atau jumlah kalori yang dikonsumsi seseorang.
Selama ini, pengendalian berat badan, pola makan seimbang, dan aktivitas fisik menjadi bagian penting dalam upaya mencegah maupun menangani osteoartritis lutut. Temuan baru ini memberikan petunjuk bahwa perhatian terhadap jenis makanan yang dikonsumsi mungkin juga penting, bukan hanya berapa banyak kalori yang masuk.
Dengan kata lain, mengurangi makanan ultra-proses bukan semata-mata persoalan menjaga angka timbangan. Penelitian ini mengisyaratkan adanya kemungkinan kaitan antara kualitas makanan dan perubahan komposisi otot yang tidak terlihat dari luar, termasuk pada orang yang belum mengalami osteoartritis lutut.
Advertisement

El Niño Terkuat dalam Sejarah Modern Mengintai Indonesia dan Asia Tenggara, Ini Dampaknya

Hong Kong Tampil Semarak Layaknya Negeri Dongeng saat Festival Pertengahan Musim Gugur

'Cucu Krakatau' Muncul di Selat Sunda, Benarkah Gunung Api Baru?


Terlalu Banyak Makanan Olahan Bisa Bikin Lemak Menumpuk di Otot dan Mengancam Lutut

